Penayangan bulan lalu

Tampilkan postingan dengan label RAMADHAN PENUH CINTA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RAMADHAN PENUH CINTA. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Juli 2016

SYAWAL BULAN PENINGKATAN


Alhamdulillah, tak terasa sudah sampai di penghujung bulan Ramadhan. Tinggal sekali tarawih lagi nanti malam. Setelah itu, kita akan melewati syawal, yang memiliki makna "Bulan Peningkatan".

Seberapa besar hikmah yang dapat kita ambil selama Ramadhan, harusnya jadi pemicu untuk bulan syawal. Berapa puluh kali kita melakukan shaum, berarti sebanyak itu pula sebetulnya kita lebih meningkat dalam segala amal.

Ketika Ramadhan menyapa kita, Alquran selalu dibaca, bahkan dibikin sebuah target, bahwa sebulan harus khatam sekian dan sekian. Ketika berencana, ternyata Allah selalu memudahkan untuk senantiasa melaksanakannya. Tentu ini sebuah Rahasia yang Allah berikan.

Kalau di Bulan Ramadhan bisa, sudah barang tentu di bulan berikutnya, pasti bisa. Semua tergantung nawaitu dan komitmen terhadap sebuah pekerjaan.

Setelah RAMADHAN berlalu, seharusnya bisa meramadhankan setiap bulan. Hati terpaut sama kebenaran, kekhusuan, berlomba dalam kebajikan, dan selalu mengejar derajat ketaqwaan. Karena tujuan perintah shaum, adalah menuju supaya menjadi orang yang bertaqwa.

Selama Ramadhan, tentu tak dapat semua target terealisasi. Selalu ada yang kurang, yang karena lalai atau memang ada halangan yang tak bisa dipungkiri sehingga target tak tercampai. Kalau begitu adanya, bulan syawal harus dijadikan sebagai pemenuhan target yang tertunda itu.

Allah tak berkehendak kalau umatnya terjebak glamour LEBARAN. Makanya Allah mensyari'atkan pada kita untuk syaum sunah 6 rakaat di bulan syawal. Pahala sangat besar yakni semisal puasa setahun penuh.

Tsauban, bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah Idul Fithri, maka ia telah menyempurnakan puasa setahun penuh. Karena siapa saja yang melakukan kebaikan, maka akan dibalas sepuluh kebaikan semisal.”  (HR. Ibnu Majah no. 1715. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Kalau kita buka tentang hadist tersebut, kenapa shaum sunnah 6 hari di bulan syawal sama seperti menyempurnakan puasa setahun penuh ?

Seorang mukmin tentunya pernah mengetahui, kalau amal seorang umat Nabi Muhammad akan Allah ganti dengan 10 Kebaikan. Kalau seorang melakukan full sebulan puasa Ramadhan, tentu balasannya 10 bulan kebaikan. Dan ketika melaksanakan 6 hari puasa sunah syawal, berarti akan Allah ganti dengan 60 hari (2 bulan). Itu berarti 10 bulan + 2 bulan  = 12 bulan atau setahun.

Baik Sahabat semua,
Selamat mempersiapkan diri untuk menyongsong Syawal dengan rangkaian kebaikan lainnya.

Sabtu, 02 Juli 2016

MUDIK ASYIK JANGAN TINGGALKAN SHOLAT

MUDIK ASYIK YANG RAPI JALI

Musim mudik sudah tiba, kaum urbanpun tak mau ketinggalan dengan moment tahunan ini. Semangat silaturahmi yang unik, dan mungkin hanya ditemui di Negeri tercinta, INDONESIA.

Kendaraan yang digunakan beraneka rupa, dari sepeda motor biasa, hingga naik pesawat bagi yang kelebihan dana.

Bagi pemudik,  macet adalah hal biasa. Sehingga harus disiapkan kesabaran tingkat tinggi. Bagi pengguna mobil pribadi, jadwal perjalanan bisa di setting sendiri. Tapi bagi pengguna mobil umum, tentunya harus mengikuti aturan pak Sopir Dan Kondektur.

Biar mudik lebih tertib, bagusnya dipersiapkan jauh-jauh hari. Apalagi yang punya Baby Balita, pasti butuh tenaga ekstra. Popok yang harus siap sedia, makanan pelengkap di perjalanan dan tetek bengek khas balita, apalagi pakai susu Formula, tentunya air panas harus siap sedia.

Selain persiapan yang matang, ada hal yang sangat penting yang akhir-akhir ini suka dilalaikan para pemudik, yaitu sholat 5 waktu.

Untuk yang sedang melakukan perjalanan, Allah memberi keringanan dengan tidak berpuasa. Tapi untuk shalat, Allah sangat tegas agar manusia tak lalai melakukannya. Tapi Allah cukup memahami keadaan makhluknya. Makanya diberi rukhsoh dengan adanya Jama' dan Qoshar.

Shalat Jama', adalah sholat penggabungan dari dua waktu sholat. Tapi tak berlaku untuk sholat shubuh. Dan sholat jama' ini terbagi dua, bila penggabungan waktu sholat maju ke depan, berarti jama' Takdhim, sedangkan untuk penggabungan waktu sholat mundur, disebut jama' Takhir. Contohnya si pemudik ingin sholat asyar tapi mau dirangkai dengan dzuhur dengan waktu dzuhur, berarti ini termasuk jama' takdzim.

Oia, selain bisa di jama', buat pemudik bisa juga di Qoshar loh, yaitu meringkas jumlah rakaat sholat menjadi 2 rakaat dari 4 rakaat. Tentu temen-temen tahu kan, sholat apa saja yang 4 rakaat.

Nah, ga sulit kan ? Jadi tak ada alasan untuk meninggalkan sholat. Kalau mudik identik dengan silaturahmi yang sunah, kenapa harus meninggalkan sholat yang jelas wajib.

Selama Mudik....

Selasa, 28 Juni 2016

MERETAS KEKHUSUAN DALAM DEKAPAN I'TIKAF

I'tikaf, sangat populer ketika masuk 10 hari terakhir. Tentang keutamaannya,  banyak membuat kita tercengang karena begitu sarat pahala. Terutama sekali mengharapkan sebuah fadhilah malam lailatul Qodar. Sebuah malam yang full istimewa, yang diberikan untuk orang istimewa dari kalangan umat istimewa yaitu umat Rasulullah Muhammad saw.

Sebenarnya I'tikaf itu sendiri bermakna diam di masjid dengan berniat mendekatkan diri pada Allah yang Maha Rahman, Maha Rahim. Dan kegiatannyapun, tak melulu di 10 hari terakhir di Bulan Ramadhan. Karena Rasulullah sendiri selalu melaksanakan i'tikaf ini di malam lain.

Dari beberapa sabda  Nabi, yang memberi isyarat akan pentingnya i'tikaf di 10 malam terakhir. maka banyak orang yang sengaja menyempatkan diri untuk meluangkan waktunya beri'tikaf di penghujung Ramadhan ini.

Penulis sendiri untuk tahun ini berkesempatan melakukannya di Masjid Annur, milik PT Bio Farma pabrik vaksin terbesar se-Asia Tenggara. Alasannya lebih dekat ke rumah, ditambah fasilitas akses yang sangat mudah.

Masjid Annur ini terletak, di jl Pasteur bersebelahan dg RSUP Hasan Sadikin kota Bandung. Masjid ini sangat khas karena keunikan yang terpancar didalamnya. Dari mulai bentuk ujung menara, ornamen, aksesoris dan bentuk lengkungan di setiap sisinya.

Konon, karena  Masjid An-Nuur Bio Farma, merupakan bangunan Heritage yang sengaja melengkapi bangunan heritage yang ada di wilayah Pasteur. Hal ini menonjol dengan bentuk lengkungan yang selaras dengan bangunan Bio Farma dan bangunan lawas lainnya di sekitar.

Ketika masuk ke ruang utama, jamaah disuguhkan nuansa Masjidil Haram dengan replika pohon kurma, yang daunnya menyala di malam hari.

Selain kenyamanan bagi jamaah i'tikaf dengan ruangnya yang fresh, jamaah juga dimanjakan dengan fasilitas FREE makan berbuka dan sahur. Sehingga peserta tidak disibukkan harus keluar masuk makan. Semua difasilitasi pihak Pabrik Bio Farma.

Dalam membuat tulisan ini, kami sekeluarga berkesempatan I'tikaf di malam ke-26. Berbeda dengan pemburu i'tikaf lain, yang selalu hadir di malam ganjil. Karena di malam genap inilah, maka suasana lebih lengang. Bahkan ngantri jatuh makan berbuka sahur juga, sangat santai kalau dibanding malam ganjil.

Setelah tarawih, jemaah i'tikaf disuguhkan dengan siraman Rohani dari para ustadz kenamaan di kota Bandung. Dan pihak manajemen masjid sepertinya menangkap akan beraneka ragamnya latar belakang peserta i'tikaf. Makanya, ustadz yang ceramahpun bergantian tiap malamnya dan mewakili haroqah yang ada di kota Bandung.

Ibadah i'tikaf ini akan hambar bila tidak dilengkapi dengan Qiyamul lail. Sejak pukul 01.30, panitia sudah mewartakan agar jamaah bangun, untuk mempersiapkan diri menikmati Qiyamul lail yang akan dilaksanakan pukul 02.00. 

Untuk mengikuti ibadah ini agar lancar dan terasa nikmat, pysik juga harus benar-benar dipersiapkan. Karena posisi berdiri dengan alunan surat panjang tiap rakaatnya, tentu akan terasa melelahkan. Makanya, diantara mereka yang punya keluhan dengan badannya, lebih memilih sholat sambil duduk. Padahal sang Imam disini, cuma satu juz membacanya. Berbeda kalau i'tikaf di Masjid Haabiburrahman yang dua juz per malamnya. Kumandang doa Qunut Nazilahpun menyertai jamaah yang nyaris setengah jam di penghujung shalat witir.

Alhamdulillah, rasa syukur yang tak terukur, karena dekapan i'tikaf masih menghampiri. Kita tak akan mengetahui, apakah di saat mendatang, Ramadhan masih menyapa kita.

An-nur 26 Ramadhan 1437 H


Senin, 27 Juni 2016

SAHUR 5000, BUKA 50.000

SAHUR 5000, BUKA 50.000
.
.
Semangat bukber, sepertinya telah menjadi sesuatu yang unik dan terjadi di setiap komunitas.

Lihat saja, nyaris status kontak kita menampilkan photo-photo narsis saat berbuka puasa (bukber). Wajah yang sumringah nan senyum yang merekah. Plus, tak lupa upload menu makanan yang jadi santapan sore itu.

Wajah suka cita ini, bukan cerminan dari keadaan senang yang palsu. Tapi memang keadaan bahagia ini, adalah janji-Nya dimana memang orang yang berpuasa, akan diberikan dua kebahagiaan yang salah satunya adalah kebahagiaan kala berbuka.

Kalau sekali-kali acara ini boleh-boleh saja, apalagi dapat mempererat tali silaturrahim. Tapi kalau menjadi ketagihan, hati-hati karena perbuatan ini akan menguras isi .dompet kita. Terang saja, kalau masakan rumahan dengan modal 50.000 bisa buat ber-sepuluh, tapi di cafe atau restoran, 50.000 hanya puas untuk sendirian.

Mendingan, kalau bukbernya di rumah pejabat atau di "Aghniya" alias orang kaya. Bahkan kalau di orang seperti ini, selain puas makan selalu ada salam tempel juga.
Tapi..... Ga sembarang juga bisa makan di tempat seperti ini, harus ada kedekatan tersendiri pada pengundang.

Nah, ada bagusnya agar hati plong, jadikanlah bukber sebagai bagian dari perencanaan keuangan kita. Masukkan kegiatan ini sebagai bagian dari biaya liburan atau rekreasi bulanan anda. Sisihkan sedikit dari penghasilan, untuk supaya bisa berbuka bareng.

Kamis, 23 Juni 2016

TAK SELAMANYA PUASA BIKIN SEHAT


Judul diatas, saya ambil dari pernyataan seorang dokter, yang jadi peserta pelatihan KMO batch 6. Beliau bicara seperti itu, karena berdasarkan survei yang dilakukan di Rumah Sakit tempatnya bekerja, justru pasien meningkat selama bulan Ramadhan ini.

Begitu pula hasil obrolan saya dengan warung yang ada di sekitar. Ternyata obat seperti Para**X, Pan**ol, Prom*g menjadi paling laris selama bulan Ramadhan. Bahkan untuk obat maag, mengalami peningkatan yang signigikan.

Padahal, jauh-jauh hari kita sering mendengar ungkapan "Puasa itu menyehatkan". Bahkan, hasil penelitian banyak yang menceritakan tentang manfaat puasa bagi kesehatan tubuh.

Salahsatu alasan baiknya puasa yaitu karena ketika puasa, maka konsumsi makanan dan juga minuman yang kurang menyehatkan tubuh dapat dibatasi. Sehingga dampak buruk dari makanan & minuman yang kurang sehat tersebut dapat diminimalkan.

Bagi penderita jantung, ternyata terapi puasa sangat bagus, karena dengan puasa, HDL dalam tubuh bisa meningkat, sementara LDL bisa turun. Sehingga dengan kestabilan kolesterol dalam darah yang bagus, maka kesehatan lebih terjaga.

Dari segi kejiwaan juga, puasa bisa lebih menenangkan jiwa dan pikiran. Karena selain makan dan minum, emosi kitapun harus dijaga, sehingga efek positif bagi tubuh.

Lantas, mengapa jadi pada banyak yang sakit ? Pasti ada yang salah deh. Ibarat sebuah TV kalau penggunaannya keluar dari Buku Panduannya, maka pasti akan terjadi yang membahayakan.

Dan bila puasa yang berdasarkan penelitian menyehatkan, tapi yang terjadi sakit berarti ada yang melenceng dari SOP-nya.

Rosululloh mencontohkan berbuka dengan beberapa butir kurma, dan beberapa teguk air. Tapi dalam pelaksanaannya saat ini, justru ta'jilnya "bala-bapa" dan gorengan lainnya. Kemudian kolak bersantan dalam porsi besar serta kudapan lain yang jelek buat kesehatan. Sesuatu yang berlebihan, hasilnya suka Jelek.

Ditambah lagi punya kebiasaan, habis sahur tidur lagi. Ini yang sebenarnya mengundang penyakit. Padahal zaman Nabi, habis sahur atau subuh mereka berlomba-lomba beribadah sampai terbit matahari, karena pahala yang luar biasa.

Selain dari pola makan yang kurang aman buat tubuh, ditambah ngasah ruhiyahnya yang tak sesuai anjuran Nabi. Yang harusnya perbanyak tilawah Alquran, tapi zaman sekarang banyak terinterupsi dengan gadget atau sinetron.

Wallohu'alam

KEBAHAGIAAN YANG TAK SESUNGGUHNYA

MENU BUKA PUASA

.
Awal ceritanya lahir dari sebuah komunitas bisnis, yang anggotanya beragam dari yang muslim dan non muslim. Sehingga yang dikedepankan adalah irisan kebersamaan, yang tentunya demi kepentingan bisnis itu sendiri. Sebagai peserta komunitas, mau tidak mau sayapun mengikuti aturan tersebut, dengan catatatan tidak melanggar akidah saya.
Karena sekarang lagi gandrungnya buka bersama, maka komunitas inipun melakukan buka bersama. Tanggal dan tempat disepakati, lengkap dengan aturan teknis dan kapan mulai harus datang ke tempat bukber. Panitia bukber, tentunya sudah standby dari asyar, nongkrongin meja karena khawatir ga kebagian tempat.
Sejam sebelum maghrib, pesertapun berdatangan. Tak banyak sih, Cuma ada 15 orang dari 20 member yang ada. Obrolan terus mengalir dari nanya kabar keseharian, sampai jurus-jurus jitu dalam berbisnis. Sekali-kali, peserta muslim menanyakan kabar tentang ibadah shaumnya dan tarawihnya bolong apa belum. Ngobrol persiapan mudik, dan kelengkapan pernak-pernik lebaran.
Tiba 15 menit menjelang maghrib, pelayan restopun menyiapkan pesanan kami. Tiga biji kurma dan satu mangkuk mini kolak disediakan sebagai pembuka tajil. Yang katanya 2 menu tersebut FREE alias tidak bayar. Sudah barang tentu, melihat menu seperti itu, setelah nyaris 13 jam menahan haus dan lapar, air liurpun naik turun. Hemmm......
Waktu yang ditunggupun telah tiba, adzan maghrib berkumandang menghiasi angkasa kota Bandung. Senyumpun tersungging manis, rona bahagia terpancarkan dari semua peserta. Ada yang menjadi ketertarikan saya saat itu, benarkah yang non muslim itu merasa bahagia seperti apa yang kami rasakan ? Gelak tawa yang membuncah, dan beberapa ledekan ringan yang mempererat kekakrabanpun menyertai acara buka bersama itu. Tapi tetap saja, pertanyaan itu saya rasakan bagai sebuah bahagia yang semu. Beratnya usaha kami dalam berpuasa, bukan hanya menahan haus dan lapar, tapi ada aktivitas lain yang harus dikerjakan. Yang semua itu tidak mereka rasakan.
Di tajil kata kemarin, saya menuis tentang dua kebahagiaan yang akan didapatkan oleh orang yang berpuasa. Yang pertama, bahagia ketika berbuka dan yang kedua bahagia ketika berjumpa dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Bagi yang non muslim, saya tak melihat dalam senyum dan tertawanya sebagai sebuah kebahagiaan. Semua terlihat semu dan kepura-puraan, karena mereka tak diberikan Allah kebahagiaan yang kami peroleh. Apalagi kalau berbicara tentang kebahagiaan pertemuan dengan wajah Allah yang nikmatnya tiada bandingan. JAUH dan SANGAT JAUH.
Selepas ta’jil berlangsung, kami yang muslim, pamit dahulu karena harus menjalankan shalat maghrib. Tidak ada niat balas dendam karena lapar, sehingga akan menghabiskan seketika itu juga. Beberapa teman ada juga yang mau melahap langsung semua makanan, tapi satu kode dariku yaitu mengangkat kedua tangan ibarat gerakan takbiratul ikhrom, mereka sepakat untuk meninggalkan tempat berbuka. Disini juga kami merasa diperhatikan Allah, merasakan bagaimana Arrahman Arrahiim menunjukkan kasih sauangnya terhadap kami. Kalau sekiranya Allah tak menjaga kami, barangkali kami harus ikut dalam kebiasaan mereka.

Ini adalah sebuah pergaulan hidup antar manusia, dan Rosulullahpun selalu berhubungan baik dengan yang namanya nasrani dan yahudi tapi dalam koridor muamalah saja. Sedangkan kalau yang namanya akidah, kita harus senantiasa menjaganya. Kalau hanya berbuka bersama, saya merasakan hanya sebuah pergaulan biasa saja. Akan tetapi, kalau hal ini harus ada tuntutan sebagai utang dan natal kami harus datang. Itu urusannya berbeda. Karena hal itu sudah masuk ke ranah akidah yang tentu harus kita selamatkan. Jangan karena alih-alih toleransi, keimanan tercoreng karena tak memiliki pengetahuan tentang hal ini

Selasa, 21 Juni 2016

2 KEBAHAGIAAN BUAT MEREKA YANG BERPUASA

Semua pekerjaan tentunya akan melahirkan sebuah "hasil". Dan dari hasil tersebut, maka akan muncul yang namanya harga. Proses dalam mengerjakan inilah, maka akan timbul upah dari pekerjaan tersebut. Dan upahnya bisa dinikmati saat itu pula, ada yang harus menunggu seminggu, sebulan, bahkan ada yang harus rela dirafel.

Begitupun ibadah shaum, ibadah yang satu ini, memang sangat spesial, dan pahalanya untuk Allah. Karena khusus buat Allah inilah maka pahalanya bisa lebih dari besar dalam kelipatannya.Berbeda dengan amalan lain yang dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan hingga lebih dari dari itu.

Seperti sabda Rasulullah dari Abu Hurairah,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

"Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151)

Bagi shoimin itu sendiri ternyata Allah telah memberikannya dua kebaikan kebahagiaan, yang  pertama adalah ketika berbuka, dan kebaikan berikutnya saat perjumpaan dengan Allah azza wajala.

1. Kebahagiaan ketika berbuka, tentu kita sering merasakannya. Aliran seteguk sirup yang membasahi kerongkongan, atau manisnya kudapan kolak begitu nikmat terasa. Selain itu, kita bisa merasakan bagaimana dahsyatnya berkumpul bersama keluarga, setiap kali berbuka. Kalau di hari biasa, makan bareng sangat jadi langka, tapi untuk ramadhan selalu disiapkan. Sungguh ISTIMEWA.

2. Kebahagiaan Bertemu Allah
Inilah Kebahagiaan hakiki yang benar-benar bahagia. Karena perjumpaan dengan Allah adalah ziyadah (tambahan) nikmat disamping kenikmatan surga. Oleh sebab itu, ketika berdoa dalam berbuka, selayaknya kita juga berdoa, agar mendapatkan juga kenikmatan berjumpa dengan Allah.

Dari seorang sahabat yang mulia, Shuhaib bin Sinan radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah ta’ala berfirman: “Apakah kalian mau tambahan nikmat (dari kenikmatan surga yang telah kalian peroleh)? Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Dan Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka? Kemudian Allah singkap hijab (penutup wajahNya yang mulia), dan mereka mengatakan,

فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزٌّ

“Tidak ada satupun kenikmatan yang lebih kami cintai dari memandang wajah Allah Ta’ala.” (HR. Muslim no. 181).

Begitulah sahabat semua, sebuah nikmat perjumpaan dengan Allah adalah yang sebenarnya. Dan kenikmatan berbuka, bisa jadi hanyalah kamuflase belaka.

Semoga kita semua dapat berjumpa dengan Allah Subhanahu Wa 'ta'ala.

آمين يا مجيب العدوة

MUHASYABAH DI PERTENGAHAN RAMADHAN

Suasana buka bersama

15 hari sudah kita bercengkrama dengan yang namanya Ramadhan. Sebuah bulan yang kata bulan sya'ban adalah bulan yang dirindukan. Bulan yang ditunggu semesta karena segala amal diganjar berlipat ganda.


15 hari sudah cukup, dimana perut kita beradaptasi dengan yang namanya ibadah shaum. Perut tak protes lagi dan mulai terasa ringan dengan kondisi sekarang. Bahkan anak yang sedang menyusupun, sudah mulai terasa biasa, berbeda dengan awal dibawa shaum.
Berdoa sebelum berbuka



15 hari ini, apa yang sahabat rasakan dalam ruhiyah ibadah ? Sudahkan "Feel" Tilawah menghunjam masuk ke dalam dada ? Bergetarkah waktu menyebut nama Allah ? Kalau itu biasa-biasa saja, tak ada beda dengan sebelumnya. Itu mungkin, karena banyaknya dosa yang menebal, yang belum kita taubati.


15 hari sudah dilalui, tadarus di masjid-masjid begitu hidup. Golongan bapak-bapak di malam hari, dan ibu-ibu di pagi sampai menjelang siang hari. Pemandangan ini hanya bisa ditemui di bulan Rahmat ini, bulan dimana telah diturunkannya Alquran.  Ketika melihat hal serupa ini, timbul kekaguman dan berharap kalau selamanya seperti bulan Ramadhan.


15 hari telah berlalu, tilawah kita terasa biasa atau seperti hari biasa. Itu sudah dipastikan bahwa gaung rindu di bulan sya'ban adalah Rindu yang palsu. Apalagi kalau di bulan ini sampai tak mau membaca Alquran, sudah dapat dipastikan kalau di bulan lain, lebih jauh dan tak mau interaksi dengan Alquran.


15 hari yang tersisa, gunakan selalu selagi umur masih dikandung badan. Jangan sampai menyesal karena yang dirindu akan meninggalkan kita. Perbanyak istighfar agar tebalnya dosa, dapat Allah tipiskan dan perlahan bersih kembali. Bayangkan dosa-dosa yang kita lalui, betapa itu akan membuat malapetaka di kemudian hari. Saat inilah untuk bertaubat dan membenci untuk tidak melakukanlah lagi.


15 Hari lagi, masih ada saat untuk mengencangkan segala amal. Bertakorub sedekat-dekatnya hingga erat tak terpisahkan.

Minggu, 19 Juni 2016

HARGAI YANG PUASA ATAU YANG TIDAK PUASA


Kalau saja judul diatas, dan dijadikan pertanyaan kepada ibu saya, pasti jawabannya "Hargai Orang Berpuasa".

Dulu..... dulu sekali, ketika saya belum kuat berpuasa, lalu saya makan diluar, umi biasanya ngacungin telunjuk sambil sedikit mengeluarkan bola matanya, "Tis, ayo masuk ke dalam ! Malu makan diluar, Hargai Orang Berpuasa".

Setelah beranjak besar, dan sudah mulai berani main ke kota kecamatan, (Cisaat) barulah saya tahu ternyata kalau orang dewasa ada juga yang ga puasa. Dan makannya di warung tertutup, nyaris ga ada hawa.

Lanjut.......
Dan ternyata makin kesini, tirai tertutup itu, mulai tersingkap. Dan kaki-kakinya yang jadi saksi, karena keatasnya masih tertutup tirai. Tapi walaupun sudah agak berani kalau tidak puasa,  tetap, aturan "Hargai Orang Berpuasa" masih berlaku.

Ya... Inilah Indonesia yang selalu menjungjung tinggi norma Agama. Yang setiap sekolah belajar Akhlaq Dan PMP (Pendidikan Moral Pancasila).

Dan hari ini, masih di Indonesia, selogan "Hargai Orang Puasa" perlahan-lahan karam, bahkan yang muncul "Hargai Orang Yang Tidak Puasa".

Dulu..... ibu penjaja nasi itu sembunyi-sembunyi kala menawarkan menawarkan makanannya. Bukan takut sama satpol PP, tapi selogan "Hargai Orang Puasa" masih terpatri dalam dirinya.

Tapi hari ini, ibu warung penjaja nasi itu sudah perfect jadi Pahlawan. Donasipun berdatangan, masuk ke dalam pundi yang penuh simpati.

Dia tidak jadi cibiran para Netizen, malahan dapat pujian dari pemangku negeri. Simpati bergulir, karena tangisan kamuplase yang meluluh lantahkan arti sebuah Ideologi. Dan kini ibu itu jadi Srikandi "HARGAI ORANG YANG TIDAK PUASA".

Rabu, 15 Juni 2016

EPISODE PERTAUBATAN

Bagi yang sudah berkali-kali shaum di bulan Ramadhan tentu tidak asing dengan pembagian waktu di bulan Ramadhan. 10 hari pertama, saatnya Allah memberikan Rahmat. Beruntunglah orang-orang yang pada 10 hari pertama kemarin, melakukan banyak berdoa. Insyaallah doanya terkabul.

Dan mulai nanti malam saatnya memasuki episode pengampunan. Untuk itu, akrabilah 10 hari ke-2 ini sebagai malam yang selalu diisi dengan pertaubatan. Memperbanyak sholat malam dan sholat taubat , dilanjutkan dengan memperbanyak istighfar. Serahkan segenap jiwa raga ke Maha Ghofur, kalau diri ini banyak dosa. Ampunkan dosa-dosa orang yang tercinta, terutama ke-2 orang tua, mertua, istri, anak-anak, kerabat dan rekan sejawat. Tidak rugi Kita beristighfar buat mereka.

Sahabatku, selamat berbuka puasa


OBROLAN SEPUTAR TARAWIH


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Mari  sejenak kita berbincang tentang shalat tarawih, bukan tentang  jumlah  raka’atnya, tapi apa yang sebaiknya kita lakukan saat kita menjadi  makmum. Ingatlah sejenak sabda Nabi shallaLlahu alaihi wa sallam:

مَنْ قَامَ مَعَ اْلإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَة

"Barangsiapa qiyamul lail bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis  untuknya (pahala) qiyam satu malam (penuh)." (HR. Ahmad, Abu Dawud,  Tirmidzi, Ibnu Majah, An-Nasa'i dan lain-lain).
Berapa  raka’at yang terhitung melakukan qiyamul lail semalam suntuk?   Batasannya ialah melakukan tarawih hingga selesai bersama imam, termasuk  melakukan shalat witir bersamanya. Maka jika imam shalat tarawih 11 (8  plus 3) raka’at, kita bermakmum sampai  imam selesai witir. Begitu pula  jika imam shalat tarawih 13 atau 23 raka’at. Bagi kita yang menjadi  makmum, pilihan terbaik adalah shalat bersama  imam sampai dengan  selesai; bukan soal 11, 13, 21, 23 atau 39 raka’at.

Jika ingin memilih,  maka itu sebelum melaksanakan shalat tarawih  berjama’ah. Adapun sesudah  jama'ah ditegakkan, ikuti sampai selesai.
Pilihan  terbaik adalah shalat mengikuti imam sampai selesai dengan  sempurna.  Adapun imam sepatutnya shalat dengan tuma'ninah dan khusyuk. Ini sangat  penting untuk diperhatikan karena tuma'ninah merupakan rukun shalat,  sehingga tidak sah shalat jika tidak tuma'ninah meskipun ayat yang  dibaca saat shalat sangat panjang. Berapa pun jumlah raka'atnya, imam  harus melakukan shalat dengan tuma'ninah dan memungkinkan makmum untuk  mengikutinya secara tuma'ninah pula. Tentu saja imam perlu membaca ayat  demi ayat secara tartil dan jelas, tak peduli ia memimpin tarawih 11,  13, 21, 23, 39, 41 ataukah 49 raka'at.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَسْوَأُ  النَّاسِ  سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ، قَالُوْا: يَا  رَسُوْلَ اللهِ  وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟ قَالَ: لاَ يُتِمُّ  رُكُوْعُهَا وَلاَ  سُجُوْدُهَا.
“Sejahat-jahat pencuri adalah yang mencuri dari shalatnya.” Para  sahabat bertanya, “Ya Rasulallah, bagaimana mencuri dari shalat?” Rasulullah berkata, “Dia tidak sempurnakan ruku' dan sujudnya.” (HR Ahmad).

Di  masa Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu, beliau pernah   mengumpulkan para qari' dan menggariskan kebijakan jumlah ayat. Umar bin  Khaththab radhiyallahu 'anhu meminta qari yang bacanya cepat  agar  membaca 30 (sekitar 3 halaman mushhaf), yang sedang 25 & yang   lambat 20 ayat (2 halaman mushhaf) tiap raka’at. Jangan bayangkan yang  cepat bacanya seperti dikejar musuh sehingga  tarawih selesai dalam 20  menit. Tetap tartil dan tidak tergesa-gesa. Mereka melakukan ruku' dan  sujud dengan sempurna, tuma'ninah. Tidak  serupa orang salto. Ini yang  kadang terabaikan saat mengejar jumlah.

Jadi, mana yang  paling baik? Yang sempurna gerakannya, tuma'ninah,  khusyuk dan  bacaannya baik tidak tergesa-gesa; 11, 23 atau 39 raka’at.
Imam  Syafi’i mendapati shalat tarawih pada masa beliau jumlah raka’atnya  23  di Makkah dan 39 di Madinah. Bagaimana komentar beliau?

"Seandainya mereka memanjangkan bacaan dan menyedikitkan bilangan sujudnya, maka itu bagus," kata Imam Syafi’i, "Dan seandainya mereka memperbanyak sujud dan meringankan bacaan, maka itu juga bagus; tapi yang pertama lebih aku sukai."

Perkataan Imam Syafi’i rahimahullah sebagaimana termaktub dalam Fathul  Bari ini menunjukkan, yang lebih  sempurna itu lebih utama. Jumlah raka'at lebih sedikit, tetapi bacaan  lebih panjang dan sujud pun lebih sempurna, maka yang demikian ini lebih  baik daripada shalat dengan bilangan raka'at lebih banyak. Pada saat yang sama kita memperoleh pelajaran bahwa sosok semacam Imam Syafi'i memilih untuk tetap mengikuti imam sampai dengan selesai ketika mendapati jumlah raka'atnya 39, meskipun beliau lebih menyukai yang lebih sedikit disebabkan lebih memanjangkan bacaan.

Yang paling baik bukanlah yang paling banyak bilangan raka’atnya, tetapi yang paling sempurna shalatnya. Semoga Allah Ta'ala ridhai. Ingatlah sabda Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ

"Betapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga  saja. Betapa banyak pula yang shalat malam, hanya menjadi begadang di malam hari.” (HR. Ahmad).

Alangkah sia-sia shalat yang semacam itu. Mereka berpenat-penat, tapi tidak  memperoleh kebaikan apa pun. Mereka melaksanakan shalat tarawih, berjama'ah pula, tapi tak memenuhi ketentuan untuk tuma'ninah sehingga sia-sialah shalatnya. Tak ada yang mereka dapatkan selain capeknya begadang.
Marilah kita ingat ketika Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam mengoreksi seseorang yang melakukan  kesalahan dalam shalatnya. Beliau bersabda:

إِذَا  قُمْتَ إِلَى  الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ  مِنْ الْقُرْآنِ  ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ  حَتَّى  تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا  ثُمَّ  ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى  تَطْمَئِنَّ  سَاجِدًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا

“Jika engkau hendak mengerjakan shalat maka bertakbirlah, lalu bacalah ayat Al-Qur'an yang mudah bagimu. Kemudian ruku'lah sampai benar-benar ruku' dengan tuma'ninah, lalu bangkitlah (dari ruku') hingga kamu berdiri tegak. Setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud dengan tuma'ninah, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk sampai benar-benar duduk dengan tuma'ninah, setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud,  Kemudian lakukan seperti itu pada seluruh shalatmu.” (HR Bukhari dan Muslim).
Lihatlah,  betapa pentingnya melakukan gerakan secara sempurna dan tiap-tiap bagian kita lakukan secara tuma'ninah. Inilah yang sangat penting. Jika kita memilih mengikuti jumlah raka'at shalat tarawihnya Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam, maka itu sangat baik sejauh kita melakukannya secara tuma'ninah. Tapi jika sekiranya menghendaki shalat tarawih dengan bilangan raka’at yang banyak dan tetap tuma'ninah, dapat memilih 41 atau 49 raka’at. Shalat tarawih 41 raka’at ini berdasarkan persaksian Shalih Mawla  At-Tau'amah tentang shalat tarawihnya penduduk Madinah di masa itu. Shalat tarawih dilakukan 38 raka’at plus 3 raka’at witir. Bisa juga 40 raka’at tarawih plus 9 raka’at witir. Yang  terpenting: sempurna.

Jadi jika menganggap lebih banyak  lebih baik, pilihlah 49 raka’at dengan khusyu', tuma'ninah dan bacaannya tartil tidak tergesa-gesa. Sepanjang saya ketahui, 49 inilah  jumlah raka'at terbanyak yang terdapat riwayat dilakukan oleh orang-orang shalih terdahulu. Ini jika konsisten dengan perkataan "lebih  banyak lebih baik". Saya sendiri tidak siap melaksanakan shalat tarawih 49 raka'at secara tuma'ninah dan sempurna Karena itu, saya memilih yang  lebih ringan, tetapi riwayatnya lebih kuat.

Kembali  pada persoalan semula, yakni shalat tarawih berjama’ah. Jika  ingin  mendapat pahala qiyamul lail semalam suntuk, ikutilah imam sampai  selesai shalat witir. Jika imam 11 raka’at dan Anda biasanya 23 raka’at,  cukupkan 11 raka’at  saja. Jangan menganggap tidak ada tarawih yang  kurang dari 20. Justru dengan mengikuti imam sampai selesai, kita  mendapatkan pahala  qiyamul lail semalam suntuk. Bukankah Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam yang menjadi contoh?
Jika Anda biasanya shalat tarawih 11 (8+3), lalu mendapati imam shalat 23  raka’at, ikuti pula sampai selesai secara sempurna. Jangan sekali-kali mengira bahwa terlarang shalat tarawih di atas 11 raka’at. Bukankah banyak riwayat yang dapat kita pedomani?
Semoga bincang sederhana ini bermanfaat dan barakah. Saatnya kita membersihkan niat. Bukan mengotori dengan menguatkan 'ashabiyah alias fanatisme golongan. Bukankah akan lebih utama  jika kita mendapatkan pahala terbaik dan di saat yang sama mengokohkan  persaudaraan sesama muslim?
Lalu berapa raka’at shalat tarawihnya Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam? Berdasarkan riwayat yang shahih, kita dapati bahwa beliau melaksanakan shalat 11 raka’at. Beliau juga menunaikan shalat 13 raka’at. Dan bahkan kita mendapati riwayat bahwa beliau pun pernah shalat dengan mengawalkan shalat witir sejumlah 9 raka’at ditutup dengan shalat 2 raka’at.
Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan kepada kemenakannya tentang shalat yang dilakukan oleh Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam:
كُنَّا نُعِدُّ لَهُ، سِوَاكَهُ، وَطَهُورَهُ، فَيَبْعَثُهُ اللَّهُ مَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَهُ مِنَ اللَّيْلِ، فَيَتَسَوَّكُ، وَيَتَوَضَّأُ، وَيُصَلِّي تِسْعَ رَكَعَاتٍ، لَا يَجْلِسُ فِيهَا إِلَّا فِي الثَّامِنَةِ، فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يَنْهَضُ، وَلَا يُسَلِّمُ، ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّ التَّاسِعَةَ، ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ، ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمًا يُسْمِعُنَا، ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِّمُ وَهُوَ قَاعِدٌ، وَتِلْكَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يَا بُنَيَّ، فَلَمَّا أَسَنَّ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَخَذَ اللَّحْمَ، أَوْتَرَ بِسَبْعٍ وَصَنَعَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ مِثْلَ صَنِيعِهِ الأَوَّلِ، فَتِلْكَ تِسْعٌ يَا بُنَيَّ
“Kami mempersiapkan siwak dan air wudhu beliau. Bila Allah membangunkan beliau pada waktu yang dikehendaki di malam hari, beliau bersiwak dan berwudlu, kemudian shalat sembilan raka’at tidak duduk tasyahud kecuali pada raka’at kedelapan. Beliau berdzikir, memuji Allah, dan berdo’a (membaca tasyahud), kemudian beliau bangkit dan tidak salam meneruskan raka’at kesembilan. Kemudian beliau duduk, berdzikir, memuji Allah, dan berdoa, kemudian salam dengan satu salam yang terdengar oleh kami. Setelah itu beliau shalat dua raka’at sambil duduk. Jadi jumlahnya 11 raka’at, Wahai Anakku. Ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah tua dan gemuk, beliau berwitir tujuh raka’at, kemudian dua raka’at setelahnya dilakukan seperti biasa, maka jumlahnya sembilan, Wahai Anakku.” (HR. Muslim).
Nah. Semoga catatan ringkas ini bermanfaat. Semoga kita dapat mempelajari dan mendiskusikannya dengan baik. Diskusi itu lebih mudah ketika mengedepankan ilmu dan kebenaran. Bukan ego pribadi maupun kelompok. Wallahu a’lam bish-shawab.
Catatan ini pernah saya posting tahun lalu. Saya posting ulang saat ini dengan sedikit penyempurnaan.

Selasa, 14 Juni 2016

BERSYUKURLAH PAK



        Di hari ke tujuh ramadhan ini, pemandangan sore hari di kota Bandung begitu meriah. Titik keramaian menjadi pusat ngabuburit, berbagai aneka hidangan khas berbuka disajikan. Sementara saya berada dalam jebakan kemacetan di jalur fly over Pasupati.

"Aduh, gimana ini kalau belum nyampai rumah, tapi sudah adzan maghrib, kasihan mereka yang nunggu di rumah pasti ngarep banget berbuka dengan yang saya bawa".

"A, pake jalan pintas ya, ga apa-apa nerobos ke gang?" Driver gojeg seolah paham apa yang ada di benak saya.

"Boleh banget A, yang penting bisa cepet sampai ke rumah"

Si driver mengangkat jempolnya tanda sepakat. Motor pun melaju, menerobos gang demi gang yang ada di sekitar cihampelas. Dan, Subhanalloh tak perlu nunggu lama, saya sudah berada di wilayah Sukajadi. Itu pertanda, saya bisa berbuka bareng dengan keluarga.

Benar saja, lima menit menjelang adzan sudah tiba di rumah.
"Alhamdulillah"
Gumamku sembari bayar ongkos gojeg ditambah sedikit uang tambahan, sebagai tanda terimakasih.

Mereka anak-anak dan istri sudah menanti dari tadi. Si sulung bilang, kalau berkali-kali nelpon tapi tak sempet saya angkat. Maklum saja, ga konsentrasi ke Handphone.

Jelang beberapa jenak,  adzan Maghrib berkumandang. Menambah suka cita bagi orang yang berbuka. Alhamdulillah betapa besar nikmat yang Engkau berikan ya Robb. Sop buah yang kami reguk, Membasahi batang kerongkongan yang dari tadi kami tahan. Sekelebat terbayang bagaimana nikmatnya minuman surga, yang sebenarnya sulit terbayangkan.
===================
Sepenggal kisah diatas,  hanyalah kisah biasa dan tidak ada istimewanya. Semua orang bisa saja mengalami, walaupun beda redaksinya.

Karena biasa itulah, kita senantiasa mengabaikan, padahal itu adalah nikmat yang patut kita syukuri.
Cobalah kalau sekenarionya di
ubah sedikit saja, misalnya tiba-tiba driver gojegnya tak tahu jalan pintas. Apa yang terjadi ? Tentu saya tak bisa buka bersama keluarga, dan harus rela ngantri di jalanan karena macetnya.

Banyak pelajaran yang kita harus jeli memaknainya. Dan dengan kejelian itulah, maka akan lahir sifat yang selalu bersyukur atas nikmat yang Allah berikan.
Saudaraku sekalian, selamat berbuka puasa. Dan semoga kita selalu diberi kekuatan.

Senin, 13 Juni 2016

KEMBALILAH KE ALQURAN SEBAGAI MINHAJUL HAYYAH

"Menjadikan Alquran sebagai Minhaajul hayyah (Pedoman Hidup) adalah sebuah keharusan bagi muslim Indonesia agar bangkit dari keterpurukan" Demikian dikatakan Ust. Muhammad Sodiq di acara Liqo Gabungan, yang merupakan rangkaian Ansyitoh Ramadhan, Sukajadi kota Bandung (ahad, 12/06/2016).
Bertempat di Graha Sejahtera jl. H. Yasin 36 Kota Bandung, liqo gabungan dimulai pukul 10.00, setelah diawali dengan tilawah bareng yang dikomandoi oleh Ust. Sumitra Abu Zaky.
"Alhamdulillah, peserta cukup banyak, dan yang hadir kali ini datang dari 20 group halaqoh ikhwan dan akhwat, yang ada di Sukajadi". Demikian ungkap ust. Asep Rohmat sebagai ketua penyelenggara liqo gabungan ini.
Materi yang disampaikan ustadz M. Shodiq ini bertujuan mengajak jamaah,  agar senantiasa mencontoh bagaimana Ashabul awalun dalam perlakuan terhadap Alquran, dimana kekhasan mereka selalu "sami'na Wa atho'na" atas apa yang disampaikan Rosululloh.
Beliau mencontohkan 3 riwayat, tentang ghiroh sahabat kala mendengar perintah dari Alquran.
1. Ketika Rasululloh menyampaikan larangan khamr (miras), para sahabat langsung menumpahkan khamrnya. Tak peduli berapa harganya, baik yang produksi atau yang konsumsi. Padahal khamr merupakan yang sangat digandrungi kaum Arab pada saat itu. Sampai-sampai ada penyair yang menggubah syairnya seperti ini,
"Wahai kalau aku mati, kuburkanlah aku di bawah pohon anggur, agar tulang-tulangku bisa merasakan nikmatnya buah anggur"
Syair itu melambangkan cintanya orang Arab pada khamr, tapi begitu datang ayat pelarangan, mereka langsung menuruti titah Rasulullah.
2. Ketika turun ayat wajibnya menggunakan busana muslimah, maka serta merta mereka menarik segala yang ada, walaupun gordyne atau seprei tempat mereka tidur. Tapi demi kecintaannya pada Alquran mereka langsung melaksanakan.
3. Kisah pengantin baru "Sahabat Hanzhalah", di tengah mereguk manisnya bulan madu, lalu Rasulullah datang ke depan rumahnya sembari mengutip dua ayat dari QS Asshof tentang seruan jihad, maka dengan serta merta Hanzhalah langsung keluar dan bergabung dengan para mujahid lainnya. Tak peduli dengan istri tercintanya, tak peduli dengan nikmatnya pengantin baru. Dan didalam perang berkecamuk, beliau ditaqdirkan syahid di jalan-Nya. Allahu Akbar.
Haru biru dan penuh tanya para sahabat, karena jasad Hanzhalah berbeda dengan syuhada yang lain. Hanzhalah syahid dengan keadaan basah kuyup, dimandikan para Malaikat karena sebelum berjihad beliau belum sempat mandi Junub.
Itulah contoh pada era ashabul awwalun yang lebih familiar sebagai masa "Khoerul Ummah" (Sebaik-baiknya Ummat)
Sedangkan pada contoh kontemporer, ust Shodiq mengajak  menengok masa kejayaan Andalusia di Eropa Barat. Karena Alquran dijadikan Minhaajul hayyah, maka selama 800 tahun Islam pernah berjaya di negeri Sepanyol sekarang ini. Adalah Thoriq bin Jiyad, yang menaklukkan dan menguasai Andalusia hingga islam mewarnai segala sisi kehidupan disana.
Di bidang teknologi, di Andalusia ada masjid di bilangan Cordova yang menerapkan teknologi AKUSTIK, dimana kecanggihannya sangat spektakuler yaitu dengan tanpa pengeras suara, orang yang paling pojok sekalipun dapat mendengar khotib yang berada di depan. Luar biasa di masa lampau tapi sudah ada teknologi maha karya sebagus itu.
Beberapa cendekiawan muslim  besar telah tergores dengan tinta emas di sepanjang zaman dan menjadi peletak pondasi kebangkitan barat di kemudian hari.
Tapi hal itu tinggal kenangan, karena kemudian masyarakat Andalusia lupa dan melupakan Alquran. Ditambah masuknya Ghozwul Fikri berupa alat musik "Gitar" yang merambah ke seantero negeri Andalusia saat itu. Dan menghipnotis masyarakat menjadi menyenangi alat musik ini. Sehingga lambat laun Andalusia menjadi hancur dan Islam hanya sebagai kebanggaan muslimin di masa lalu.
Ustadz juga menyitir ungkapan salah seorang orientalis barat yang jujur, yang mengatakan, "Andai saja Thoriq bin Jiyad saat itu bisa menaklukkan bukan Eropa Barat saja, tapi seluruh daratan Eropa, maka sudah dipastikan, bahwa ilmu dan Teknologi saat ini, sudah maju 5 abad dibandingkan dengan sekarang".
Hampir delapan abad lamanya Islam berkuasa di Andalusia sejak tahun 711 M hingga berakhirnya kekuasaan Islam di Granada pada tanggal 2 Januari 1492 M. Menyadari tentang jatuhnya keemasan Islam seperti itu, ustadz Shodiq merasakan kekhawatirannya kalau hal ini terjadi di Indonesia. Karena muslim di sini, sudah mirip dengan masa kejatuhannya Andalusia atau spanyol.
Di Indonesia, Alquran sudah beralih fungsi, hanya sebagai hiasan belaka dan sudah langka mentadhaburi. Ada juga yang mau membaca Alquran hanya disaat ada kematian saja.
Agar Alquran tetap eksis di dada kita, maka ada 4 aktivitas yang harus dilakukan seorang Muslim.
1. Qiroah, dawam membaca Alquran.
2. Mentadabburi Alquran
3. Tafa'ul : melaksanakan Alquran
4. Adda'wah : mendakwahkan Alquran.
Dalam prakteknya, selalu saja ada penghalang mendakwahkannya. Oleh karenanya, setidaknya harus mengetahui dulu alasan para sahabat, sehingga tanpa beban melakukannya.
Mengapa para sahabat selalu bersegera dalam memdakwahkan Alquran ?
1. Mereka tahu kemuliaan tentang Alquran,
2. Mereka tahu dakwah berat, tapi hasilnya membentuk khoerul ummah
3. Mereka tahu kalau pahala dakwah itu besar.
Di akhir tausiyahnya Ustadz M. Shodiq memberikan tips berdakwah, agar dalam mendakwahkan Alquran, yang paling utama adalah kita harus pernah melakukannya. Jangan sampai kita menyuruh berbuat kebaikan tapi tak pernah melakukannya.
Sebagai contoh beliau bertutur, bahwa pada suatu ketika ada ulama besar bernama Hasan Al-Basri. Ulama besar ini diundang para budak untuk ceramah, dengan tema yang dipesan mereka yaitu "Keutamaan Membebaskan Budak".
Akan tetapi setiap ceramah, Hasan al-Basri belum.pernah berdakwah dengan tema yang dipesan para budak tersebut. Sehingga sempet menimbulkan kecurigaan. Baru setelah rutin berdakwah pada hitungan ke 4-bulan, baru ulama tersebut membawakan tema "Keutamaan Membebaskan Budak".
Dan setelah dikonfirmasi, mengapa membawakan tema tersebut setelah sekian lama ?
ulama tersebut menjelaskan, bahwa  "saya baru membebaskan budak setelah beberapa hari, makanya saya berani mendakwahkan karena sudah mengalaminya"

Sabtu, 11 Juni 2016

SEPENGGAL KISAH DI BALIK TARAWIH

Apa yang ada dibenak anda ketika mendengar kata "Tarawih" ?
Pasti sederetan kalimat ini ada yang cocok dengan isi kepala anda.
"Tarawih adalah sholat dengan pola gerak cepat". (Hehehe... Ini versi penulis)

"Tarawih adalah yang secara teknis jumlah rakaatnya selalu berbeda-beda, ada yang 11 dan ada yang 23" (betul kan?)

"Tarawih itu dilaksanakan ba'da isya"
(Ini pasti banyak yang sepakat)

Pokoknya pasti banyak deh, yang berseliweran di kepala kala ingat kata "Tarawih"
Yang pasti shalat sunah ini hanya ada di bulan Ramadhan.

Di masjid Nurul Anwar di bilangan kecamatan Sukajadi, untuk malam ke-5 ternyata sudah mulai mengalami penumbangan personil, satu per satu ada tempat yang kemarin ada, malam ini menghilangkan jejak.
Bagi kaum hawa tentunya wajar saja karena ada siklus yang tak terbendung sehingga ada halangan.

Dan ternyata, lucu juga ya kalau merhatiin yang tarawih, selalu saja ada yang bisa bikin berita. Contohnya puteri saya, habis tajil, dia langsung ke Mesjid bawa sajadah dan mukena dua buah. Satu yang akan dipakai dirinya, dan satu lagi akan digunakan ibunya.

"Teh, sibuk amat sih, baru aja berbuka sudah mau tarawih saja?"
"Aku mah cuma ngasih tanda doang koq, jadi ke masjid gelar sajadah dan mukena, Kalau ga begitu, biasanya ga kebagian tempat abi"

Kalau yang jamaah pria mah, santai-santai saja sepertinya. Mau kebagian tempat syukur, Ga kebagian tempat juga bisa gelar Koran di luar yang penting ikutan tarawih.

Cuma ya gitu, yang pria ini kadang suka merusak pemandangan, tahu sudah iqomah, tetap saja ada yang mencoba menghabiskan puntung rokoknya.

Lain orangtua, lain pula anak-anak, mereka sepertinya datang ke masjid tapi niatnya ngeramain doang. Ada yang main petasan, ada yang lari-larian, ada yang sibuk dengan kerupuk ojaynya juga, dan ada juga menangis berantem sama temennya.

Ketika jeda antara Isya dan Tarawih, kehebohan terdengar dari arah belakang, ternyata ada salah seorang jamaah yang anak balitanya keluar pas ibunya sholat.
Sudah pasti bagaimana riweuhnya sang ibu dan spontan keluar.

"Zahra..... Zahra.... Zahra.. dimana kau?"
Si ibu terus mencari dengan ketegangan sangat di roman mukanya.

Seorang bapak  menghantarkan Zahra, yang ternyata si anak  pergi karena jajan ke warung yang tak jauh dari masjid.

Begitulah satu sisi kehidupan seorang anak, orang tua yang galau, sementara anak enjoy saja.

Sholat tarawih dimulai, beberapa jamaah laki-laki ada yang pindah posisi dari tempat waktu sholat isya. Alasannya pun aneka rupa, ada yang merasa nyaman kalau duduk di belakang, ada juga yang beralasan, supaya pas 8 rakaat selesai, bisa pulang duluan. Karena di masjid Nurul Anwar menggunakan sistem 20 rakaat tarawih plus 3 rakaat Witir.

Kalau untuk jamaah perempuan, penulis tak tahu banyak yang jelas di ruang shalat perempuan tingkat berisiknya lebih tinggi dan tiap salam selalu kedengaran yang jadi cerita. Berbanding terbalik dengan jamaah laki-laki yang lebih santai. Paling gaduhnya saat beberapa anak yang dengan naluri bermainnya terkadang bikin melotot para bapak.

Tarawih yang hanya dilakukan tiap Ramadhan ini, terkadang dapat mempererat tali silaturrahim. Orang yang di hari biasa tak ke Masjid, tapi untuk tarawih sengaja menyempatkan diri. Setidaknya di sesi pas mau pulang,  ada edisi "Salam-salaman" sehingga hal ini dapat mempererat kekeluargaan.

Tidak banyak berubah bila dibandingkan dengan Tarawih sebelumnya. Sesi pembacaan doa niat shaum,  membuat anak-anak mengencangkan suara setengah teriak.

Di saat jamaah berhambur keluar, sepertinya harus ada yang menata sendal seperti di Masjid Daaruttauhid Gegerkalong, yang selalu rapih dalam tata letak sandal. Sehingga si empunya sandal gampang mengenalinya.

Masih di area masjid, barangkali karena berada di era gadget seperti sekarang, sepulang tarawih ada saja yang mengabadikan moment ini untuk berselfie ria. Terutama kaum ABG dengan khas keceriaannya yang seperti tak mengindahkan dengan keadaan. Bahkan beberapa muslimah, masih berada di areal  masjid, saat itu pula mempreteli kembali jilbabnya. Ya, bisa dimaklumi karena pancaran iman belum menghunjam kuat ke dadanya. Dan sebagai orang tua sudah sangat layak untuk terus menuntun, mengajak dan membina ke arah yang lebih baik.

YUK TARAWIH


YUK TARAWIH BIAR TAMBAH  DISAYANG ALLAH
                            
from Google

Apa yang ada dibenak anda ketika mendengar kata "Tarawih" ? Pasti sederetan kalimat ini ada yang cocok dengan isi kepala anda.
"Tarawih adalah sholat dengan pola gerak cepat". (Hehehe... Ini  versi  penulis)
"Tarawih adalah yang secara teknis jumlah rakaatnya selalu berbeda-beda, ada yang 11 dan ada yang 23" (betul kan?)
"Tarawih itu dilaksanakan ba'da isya". (Ini pasti banyak yang sepakat)
Pokoknya pasti banyak deh, yang berseliweran di kepala kala ingat kata "Tarawih". Yang pasti shalat sunah ini hanya ada di bulan Ramadhan.

Di masjid Nurul Anwar di bilangan kecamatan Sukajadi, kota Bandung, tepatnya di RT 01 RW 03 kelurahan Sukagalih.  Untuk malam ke-5 ternyata sudah mulai mengalami penumbangan personil, satu per satu ada tempat yang kemarin ada, malam ini menghilangkan jejak. Bagi kaum hawa tentunya wajar saja karena ada siklus yang tak terbendung sehingga ada halangan.
Dan ternyata, lucu juga ya kalau merhatiin yang tarawih, selalu saja ada yang bisa bikin berita. Contohnya puteri saya, habis tajil, dia langsung ke Mesjid bawa sajadah dan mukena dua buah. Satu yang akan dipakai dirinya, dan satu lagi akan digunakan ibunya.
"Teh, sibuk amat sih, baru aja berbuka sudah mau tarawih saja?"
"Aku mah cuma ngasih tanda doang koq, jadi ke masjid gelar sajadah dan mukena, Kalau ga begitu, biasanya ga kebagian tempat ".
Kalau yang jamaah pria mah, santai-santai saja sepertinya. Mau kebagian tempat syukur, Ga kebagian tempat juga bisa gelar Koran di luar yang penting ikutan tarawih.
Cuma ya gitu, yang pria ini kadang suka merusak pemandangan, tahu sudah iqomah, tetap saja ada yang mencoba menghabiskan puntung rokoknya.
Lain orangtua, lain pula anak-anak, mereka sepertinya datang ke masjid tapi niatnya ngeramain doang. Ada yang main petasan, ada yang lari-larian, ada yang sibuk dengan kerupuk ojaynya juga, dan ada juga menangis berantem sama temennya.
Ketika jeda antara Isya dan Tarawih, kehebohan terdengar dari arah belakang, ternyata ada salah seorang jamaah yang anak balitanya keluar pas ibunya sholat.
Sudah pasti bagaimana riweuhnya sang ibu dan spontan keluar.
"Zahra..... Zahra.... Zahra.. dimana kau?" Si ibu terus mencari dengan ketegangan sangat di roman mukanya. Seorang bapak  menghantarkan Zahra, yang ternyata si anak  pergi karena jajan ke warung yang tak jauh dari masjid.
Begitulah satu sisi kehidupan seorang anak, orang tua yang galau, sementara anak enjoy saja.
Sholat tarawih dimulai, beberapa jamaah laki-laki ada yang pindah posisi dari tempat waktu sholat isya. Alasannya pun aneka rupa, ada yang merasa nyaman kalau duduk di belakang, ada juga yang beralasan, supaya pas 8 rakaat selesai, bisa pulang duluan. Karena di masjid Khairul Anwar menggunakan sistem 20 rakaat tarawih plus 3 rakaat Witir.
Kalau untuk jamaah perempuan, penulis tak tahu banyak yang jelas di ruang shalat perempuan tingkat berisiknya lebih tinggi dan tiap salam selalu kedengaran yang jadi cerita. Berbanding terbalik dengan jamaah laki-laki yang lebih santai. Paling gaduhnya saat beberapa anak yang dengan naluri bermainnya terkadang bikin melotot para bapak.
Tarawih yang hanya dilakukan tiap Ramadhan ini, terkadang dapat mempererat tali silaturrahim. Orang yang di hari biasa tak ke Masjid, tapi untuk tarawih sengaja menyempatkan diri. Setidaknya di sesi pas mau pulang,  ada edisi "Salam-salaman" sehingga hal ini dapat mempererat kekeluargaan.
Tidak banyak berubah bila dibandingkan dengan Tarawih sebelumnya. Sesi pembacaan doa niat shaum,  membuat anak-anak mengencangkan suara setengah teriak. Dan para orang tua sebenarnya banyak yang merasa lega juga di sesi terakhir ini.
Di saat jamaah berhambur keluar, sepertinya harus ada yang menata sendal seperti di Masjid Daaruttauhid Gegerkalong, yang selalu rapih dalam tata letak alas kaki. Sehingga si empunya sandal gampang mengenalinya.  Masih di area masjid, barangkali karena berada di era gadget seperti sekarang, sepulang tarawih ada saja yang mengabadikan moment ini untuk berselfie ria. Terutama kaum ABG dengan khas keceriaannya yang seperti tak mengindahkan dengan keadaan. Bahkan beberapa muslimah, selepas dari masjid, saat itu pula mempreteli kembali jilbabnya.
#miris

Bandung, 11 juni 2016

Kamis, 09 Juni 2016

JANGAN TIDUR BA'DA SHUBUH

KALAU TAK MAU JATUH MISKIN JANGAN LAKUKAN YANG SATU INI

Sepi, itulah yang tergambar pada empat kali pagi ini, di jalanan kota Bandung. Deretan rumah yang terlewati ba'da subuh ini gordynenya tampak malu-malu untuk terbuka, karena si empunya rumah masih terlelap di peraduan. Hanya sebagian saja yang kelihatan beraktifitas,  itupun tingkah pembantu yang sedang mencuci perabotan bekas santap sahur.

Kebiasaan ini terus berlanjut, mentradisi dari tahun ke tahun dan entah kapan akan berakhir. Bangun, makan sahur, sholat shubuh lalu beranjak kembali ke kamar untuk meneruskan tidurnya.
Hemmmm.....enak memang, apalagi dihiasi mimpi yang mengasyikan.

Sementara dari pintu langit, para Malaikat penebar Rizqi tanpa lelah mentaati Robb-Nya,  menyambangi tiap insan untuk menebar keberkahan Rizqi. Bukan pilih kasih tapi titah Maha Pengasih, bahwa keberkahan Rizqi harus diberikan pada orang yang terjaga, bukan pada  orang yang terlelap tidur.

"Ah, kang Tiesna saya suka tidur habis shubuh, tapi rezeqi lancar jaya".

Oh.. sorry kawan, bukan soal banyak rezeki atau tidak. Tapi baroqah atau tidaknya itu Rezeki.
Lebih baik jangan main-main dengan pesan Nabi, kalau tak mau jadi orang muflis alias bangkrut.

“Diberikan baroqah kepada ummatku di pagi harinya”
(HR. Abu Dawud at-Thaayalisy)

"Ngantuk kan sunnatulloh, mana bisa ditolak ?"

Nah, itu dia godaan melaksanakan kebaikan. Apalagi kalau semalaman kurang tidur karena habis tahajud atau amalan lainnya. Tenang saja, cuma nyampe waktu syuruq koq larangannya.
SYURUQ adalah waktu terbitnya matahari.
Dari habis shubuh sampai terbit matahari inilah Alloh menurunkan rezeqinya.

Sebenarnya selalu ada hikmah yang belum terjamah, kalau Rosululloh menuturkan sabda-sabdanya.

Ketika Rosululloh melarang tidur ba'da shubuh, banyak yang bisa kita lakukan. Bisa duduk di kursi tamu sambil tilawah atau muroja'ah hapalan. Atau masih ngantuk juga, bisa ditambah dengan aktivitas fhisik seperti buka jendela, menyapu, mengepel atau pekerjaan ringan lainnya. Berbahagialah bagi yang memiliki anak kecil, karena biasanya bangun lebih pagi dan tak mau tidur lagi. Malahan maunya kita yang harus ngajak ngobrol terus. ( Pengalaman pribadi)

Ada segudang pahala yang akan diberikan seandainya mau mengikuti sabda Rosul. Lihatlah terjemahan hadist ini, Dari annas bin Malik RA :

Barangsiapa shalat fajar (shalat subuh) berjamaah di masjid, kemudian tetap duduk berdzikir mengingat Allah, hingga terbit matahari lalu shalat dua rakaat (shalat dhuha), maka seakan-akan ia mendapatkan pahala haji dan umrah dengan sempurna, sempurna, dan sempurna.” (HR. Tirmidzi)

Subhanalloh, luar biasa pahalanya, apalagi kalau dhuhanya 12 rakaat orang tersebut bukan kaya di dunia saja. Tapi kaya di akhirat juga karena Allah telah memberikan satu istana di Surga kelak.

Wallohu'alam

===================

Bandung, 9 Juni 2016

Selasa, 07 Juni 2016

NGABUBURIT BIKIN DEFISIT


Ramadhan dan Ngabuburit selalu menyatu dan enggan dipisahkan. Bahkan kata ini munculnya hanya di bulan Ramadhan. Kata yang asalnya berasal dari bahasa Sunda ini, sepertinya sudah merambah ke seantero negeri. Kata dasar ngabuburit adalah "burit"  yang artinya sore. Ketika ditambahkan imbuhan menjadi ngabuburit artinya menunggu sore.
Akan tetapi untuk kekinian, istilah ngabuburit berubah makna menjadi menunggu waktu berbuka puasa, yang didalamnya berisi kegiatan yang serba Fun alias menyenangkan.
Sepakat tidak sepakat, sayapun setuju aja deh dengan definisi baru tersebut.
Terus, kenapa tulisan ini menyimpulkan bahwa ngabuburit bikin defisit?
Kalau dikaitkan dengan biaya, tentu ini menjadi cost tambahan dari anggaran rumah tangga. Khusus di perkotaan hal ini terasa banget. Bahkan ada yang anaknya menghabiskan sampai puluhan ribu demi naik kuda tunggang, dan permainan lainnya.
Nah, apakah di zaman Rasulullah ada kegiatan ngabuburit ini ?
Ternyata ngabuburit ala rasulullah adalah dengan memperbanyak doa. Karena ternyata memperbanyak doa sebelum berbuka, adalah saat mustajab untuk dikabulkan. Sama mustajabnya dengan waktu menjelang sahur.
Tetapi kebanyakan kaum muslimin terutama di Indonesia, banyak yang tidak tahu akan anjuran berdoa sebelum waktu buka puasa.
Pengalaman menarik dapat kita saksikan kala singgah ke masjid-masjid di Arab Saudi khususnya Mekah dan Madinah. Di masjid tersebut satu jam menjelang berbuka orang-orang menengadahkan tangannya ke langit seraya memohon pada Allah atas dikabulkannya segala permaksudan. Baik untuk urusan di dunia ataupun akhirat.
Kekhusyuan, kesyahduan yang penuh harap bercampur isak tangis akan keyakinan akan doa terkabulkan.
Sangat berbeda di negeri kita tercinta ini, menjelang berbuka malah menghabiskan waktu kesana kemari dengan maksud melupakan rasa lapar dengan cara ngabuburit. Atau menghadapi makanan berbuka sambil ngobrol dan canda tawa.
Padahal banyak hal positif yang bisa membuat kita surplus pahala, kita bisa membaca buku, membaca alquran dan mentadaburinya bersama keluarga. Dan diakhiri berdoa bersama.
Oke, bagi yang penasaran haditsnya seperti apa, ini dia :
ثلاث لا ترد دعوتهم الصائم حتى يفطر والإمام العادل و المظلوم
‘”Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa ketika berbuka, doanya pemimpin yang adil, dan doanya orang yang terzhalimi” (HR. Tirmidzi)
Setelah kita tahu akan dahsyatnya berdoa sebelum berbuka, patut kiranya agar kita surplus pahala dalam menyempurnakan ibadah shaum Ramadhan. Tinggalkan kebiasaan ngabuburit yang berdampak defisit, raihlah pundi pahala dengan ngabuburit positif.
Selamat Ngabuburit....
#TajilKataKMO

Senin, 06 Juni 2016

MALAM PERTAMA DI NEGERI SYAITAN


Tidak seperti biasa, Gedung yang menjulang dengan warna merah darah itu malam itu begitu redup. Ornamen kepala bertanduk, tidak begitu menyeramkan. Lukisan sang Dazal dengan mata satunya pun,  yang berada hampir di setiap sudut tak menampakkan kesangarannya.

Ratapan dan tangisan para syaithan membuncah sangat, ada yang garuk-garuk kepala saking merasa berat dengan cobaan hidup malam itu. Ada pula yang menahan perutnya saking merasa lapar. Bahkan ada yang biasanya selalu tampil stedy dan harum dengan parfum khas Syaithan, malam itu kelihatan kusut.

Ada apa gerangan ?

Syaitan yang tadi pegang perut karena lapar membuka pembicaraan pada syaithan yang garuk-garuk kepala, "Bang, kenapa kau garuk-garuk kepala?"
"Pusing... Pusing..... Pusing...... gua hidup gini amat ini malam, masa dari pagi belum dapet penglaris" jawab syaithan yang ke-2.

Syaithan ke-1 sambil meringis nimpalin, " Heh... bang, emang abang saja yang merugi ini malam? Hampir semua bang malam ini banyak yang bangkrut. Ga bikin bangkrut gimana coba, biasanya sore menjelang malam, manusia langganan gua tuh kerjaannya main Game, tapi sore tadi malah mandi sunat demi persiapan Shaum Ramadhan".

Syaitan 1 sesekali mengepalkan tangannya dan terus bercerita, " Eeeee.... udah hampir maghrib dia buka tafsir, padahal biasanya gua suka temenin dia nonton infotainment".

"Ooo... gitu ya adik syaitan" Syaitan 2 yang tambun tapi hari ini mendadak matanya sayu tak bertenaga menyimak temennya itu.

Lalu dia giliran bercerita, "Kalau ceritaku seperti ini, manusia langgananku itu tiba-tiba jadi sholeh banget. Habis maghrib dia bersiap-siap untuk shalat tarawih perdana. Udah selesai tarawih dia ga langsung pulang" Syaitan tambun ini menampilkan bibir dewernya sambil berisak tangis.
"Habis tarawih dia ajak pemuda sekampung tilawah bareng, lalu mereka mentadaburinya".

"Sepulang dari Masjid, gua temenin dia tidur, dengan harapan bisa memilki angan-angan duniawi sebelum tidur. Tapi malam itu, setelah nyetel alarm buat qiyamullail itu si manusia baca nukilan surat yang disunahkan Nabinya menjelang tidur. Dan ketika datang saat Qiyamullail, dia banyakin istighfar sampai merintih mbak kesakitan, dan air matanya mengalir tiada henti". Si syaitan dewer  itu menghentikan pembicaraan, karena tiba-tiba datang syaithan ke-3 yang rada borjuis, dengan tampilan selalu glamour dan punya banyak koleksi wewangian dari seantero jagat Iblis. Dengan sedikit selengean, syaitan ke-3 ini menepakkan dua tangannya ke punggung masing-masing rivalnya itu.

"Woy.... ente-ente pada koq jadi kaya dapet kiamat aja sih?" Syaitan 3 ini kembali menarik dua leher temennya itu seraya meyakinkan.

"Gini... gini.... bro, ente kayak ga tahu amat sih gimana manusia. Sekarang-sekarang aja mereka belagu muttaqin, lihat deh udah 10 hari ke-2 dia mulai goyah, mulai mikirin mudik, mulai kepikiran baju lebaran. Bosan untuk sahur juga. Dan tilawahnya jadi lebih cepet karena niatnya pengen banyak khatam daripada ikhlasnya".

Syaitan 1 dan Syaitan 2 mengeluarkan aura yang penuh harap. Mereka hampir bersamaan ngomong gini, "iya yah kita ada peluang" Seketika mereka mengangkat tangannya dan dibuka selebar-lebarnya lalu melakukan salam TOS.

Syaitan 1; "iya gua pernah denger tuh kalo di Kitab Suci mereka bahwa amalan yang makbul itu amalannya para mukhlis alias yang ikhlas".

Syaitan 2, "Iya gua juga hapal itu di QS. Alhijr ayat 40 kan"

Syaitan 3 ; " Busyet dah, Syaitan koq bisa hapal Alquran ? HAHAHA..."

Dan akhirnya mereka nyerahin semua ini sama yang bikin sahur kata ini.

Hihihi.....

==================

Note : QS Alhijr ayat 40

"Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis  diantara mereka”. (Al Hijr: 40)

Insyaallah dengan ikhlas syaitan benar-benar tak berkutik.

Rabu, 01 Juni 2016

NASIHAT SANG GALON KOSONG

Segerombolan anak-anak usia belasan, menyambangi rumah tiap blok dengan memukul galon kosong sambil sahut-sahutan berteriak "Sahur.... Sahur.... Sahur...."

Terlihat penghuni rumah menyalakan lampu dapurnya guna mempersiapkan hidangan santap sahur.

Tapi sebagian rumah lagi,  ada juga yang tak bergeming, pulas dalam tidurnya. Sehingga membuat anak-anak mengeraskan bunyinya hingga penghuni rumah merasa terganggu dan akhirnya bangun.

Entah sejak kapan kebiasaan itu ada, dan di kecamatan Cidahu kabupaten Kuningan  orang setempat menyebutnya "obrog-obrog".
Alat yang dipukulnya pun bermacam-macam.  Galon kosong itu dipadu padan dengan  peralatan bekas lainnya sehingga terjalin harmony baru.

Seandaianya pasukan obrog-obrog tak lewat, penduduk sekitar akan banyak yang kesiangan sehingga waktu sahur jadi mepet ke imsakiyah. Terlebih yang tidurnya pulas bisa jadi bablas sampai shubuh.

Itulah Fitrah manusia yang karena khilafnya selalu harus ada yang menyadarkan. Mending kalau disadarkan langsung bangun, kalau ada yang menyadarkan tapi ngeyel bahkan marah-marah sudah barang tentu kebablasan ke ambang jurang kecelakaan.

Kebiasaan makan yang tak teratur, sadar-sadar setelah dokter memvonis asam urat dan kolesterol tinggi. Seorang mahasiswa baru sadar kalau selama ini belajar berleha-leha setelah waktu ujian hampir dekat.

Diantara kita sering pula terdengar ucapan, "Perasaan baru kemarin lebaran, eeee...... sekarang sudah mau Puasa lagi". Yang menyadarkannya juga ga tanggung-tanggung yaitu via iklan sirup dalam nuansa buka puasa di Televisi.

Haruskah manusia disadarkan terus ? Sejatinya manusia terlahir harus sadar bahwa dirinya memang dipilih Allah sebagai khalifah di bumi ini dan beribadah kepada-Nya.
Tugas khalifah adalah mengurus dan merawat bumi dengan segala sistem yang ada didalamnya. Dan sebagai Abid (orang beribadah) bertugas menghambakan diri pada sang Khaliq. Penghambaan ini banyak cara dan pintu untuk meraihnya.

Saudaraku seiman,
Bulan penyadaran sebentar lagi akan menghampiri kita. Allah menyeru manusia untuk sadar dan kembali dengan pertaubatan. Menyadari akan fitrah yang Allah titahkan agar selamat dari jurang kenistaan.

Selasa, 31 Mei 2016

RAMADHAN SEBAGAI MOMENTUM PERUBAHAN


Suatu hari, Aa Gym tak kuasa untuk melemparkan pertanyaan kepada Agung, sang adik yang cacat tapi tetap sabar dan tak pernah mengeluh. “Dik, kata dokter sakitmu sudah parah sekali. Tapi adik kok tidak pernah mengeluh?” Sang adik tersenyum lalu menjawab, “Untuk apa mengeluh? Mengeluh akan membuat orang lain susah. Kalau orang-orang beramal untuk bekal di surga nanti, saya ingin agar kesabaran saya ini bisa menjadi bekal nanti.”

Mendengar jawaban itu Aa Gym tersadar. Betapa mulianya hati sang adik. Walaupun cacat pisik yang dideritanya membuat dirinya harus dibopong setiap berangkat kuliah.
Itulah titik balik dalam kehidupan aa Gym sehingga bisa seperti sekarang ini.

Lain Aa Gym, lain pula Arifin Ilham, pimpinan majelis dzikir yang ribuan jamahnya. Pada tahun 1997 dipatuk ular, dan bisanya sudah merambah ke seluruh tubuh, sehingga banyak Rumah Sakit yang enggan menerima karena sudah kelihatan umurnya tak akan lama lagi. Tapi atas kuasaNya Arifin Ilham dapat lolos dari maut itu. Sejak itulah Arifin berubah 180 derajat hingga seperti yang kita Kenal sekarang ini.

Begitu pula Yusuf mansyur yang pernah dililit hutang milyaran dan akhirnya di penjara. Namun di Penjara itulah seolah Allah menumpahkan kasih sayang sama Yusuf mansyur, hingga dirinya berubah seperti Yusuf Mansyur yang kita kenal sekarang, ustadz Hafidz yang gemar berinfak.

So.......
Kapan kita berubah ?
Apakah nunggu moment dipatuk ular dulu seperti Arifin Ilham ? Atau nunggu masuk penjara dulu seperti Ustadz YM.

Semua orang berbeda dalam garis nasibnya. Hanya semua tentu memiliki pengalaman anugerah nikmat yang tiada tara. Dan semua itu perlu kita syukuri.

Nikmat bisa memasuki Bulan Agung Ramadhanpun adalah suatu nikmat yang tiada tara. Apalagi didalamnya ada yang disebut malam Lailatul Qodar malam yang lebih baik dari 1000 bulan.

Untuk itu saudaraku, alangkah baiknya kalau Ramadhan kali ini dijadikan sebagai Momentum perubahan.

Berubah menjadi lebih baik tentunya. Seorang yang asalnya sholat bolong-bolong, niatkan dalam diri bahwa mulai Ramadhan ini akan berubah. Yang asalnya jarang berkunjung ke orangtua jadikan Ramadhan ini sebagai pemicu untuk lebih banyak mengunjungi orangtua. Bagi seorang penulis yang selalu mentok di ide, mudah-mudahan di bulan Ramadhan dapat menambah ide dan menjadi berbuku-buku yang best seller.

Pun seorang pebisnis jadikan bulan yang penuh keberkahan ini sebagai sarana introspeksi dan menjadikan pondasi untuk lebih bagus dan terarah dalam usahanya.

Yuk berubah untuk lebih baik

(Tiesna Abu Qoila)