Penayangan bulan lalu

Tampilkan postingan dengan label anak titipan Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak titipan Allah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Mei 2018

AYAH ZAMAN NOW HARUS PENGERTIAN



Seorang gadis kecil sambil mengguling-gulingkan tubuhnya di lantai, meraung-raung ingin dibelikan mainan yang disukainya. Lalu karena iba, maka ibunya menuruti keinginan si buah hati. Ada juga seorang  ABG yang merengek mau dibelikan smartphone tercanggih, lalu sang ayah ngebela-belain membelikan gadget idamannya tersebut. Apakah itu yang dinamakan "pengertian"?

Semua orang akan berbeda pandangan dalam mengartikan kata “pengertian” ini. Tentu latar belakang, pendidikan, lingkungan atau gaya hidup yang dianut selama ini ikut andil mempengaruhi pola pikir seorang ayah. Itulah diawal tulisan ini beberapa pekan lalu, saya menekankan kalau ayah tak boleh berhenti upgrade kapasitas pengetahuan dengan terus menuntut ilmu.

Para Ayah sedang berkumpul dalam rangka Upgrade keilmuan

Kita pernah menjadi anak-anak, lalu remaja dan kemudian menikah. Semua membutuhkan proses, dan sepanjang rentang waktu yang cukup panjang itu lah, pastinya banyak kisah dan liku-liku kehidupan. Berbekal pengalaman tersebut, setidaknya kita dapat merasakan akan apa yang menjadi perasaan, keinginan, harapan, cita-cita, dan kebutuhan anak-anak. Mereka butuh dimengerti, bukan untuk diacuhkan sekemauannya.

Sewaktu muda, apakah semua keinginan yang kita utarakan ke ayah bunda harus dituruti? Bolehlah kalau zaman sudah berubah, sehingga banyak yang kita terima dari orang tua lalu diestapetkan ke putera-puteri kita pada ujungnya tak mau terima. Akan tetapi nilai-nilai luhur yang diajarkan orang tua dulu tentang kesederhanaan, perjuangan, pengorbanan, kesabaran dan seterusnya, harus kita tanamkan kembali ke buah hati kita. Mungkin caranya yang harus diubah menyesuaikan dengan kekinian.

Ketika di hadapan kita melihat sang anak melakukan kesalahan, tak perlu langsung menghardik untuk menghukuminya.  Tak serta merta ayah menginterogasi bagai polisi penyidik ke seorang tersangka. Belajarlah mengkralifikasi atau tabayyun akan sebuah kesalahan yang terjadi tersebut. Ingatlah mereka juga manusia yang tak luput dari sebuah kesalahan. Bisa jadi kesalahan yang dilakukan adalah akibat dari kesalahan kita sewaktu muda, atau justru kita yang salah mendidik mereka. Seseorang tak langsung menjadi ayah, tapi banyak proses yang dilalui yang salah satunya bahwa kita pernah muda. 
  
Ø  Ayah Pernah Mengalami Masa Muda

“Masa muda adalah masa yang paling indah”, demikian ungkapan yang sering kita dengar. Ada kesan dari pribahasa itu, bahwa waktu muda adalah saatnya mereguk kesenangan, kebebasan, dan serba enak lainnya. Fakta seperti ini tak dapat dipungkiri, karena masa lalu yang kemudian dikenang pastinya akan hadir menjelma menjadi sesuatu yang sangat indah. Saya merasakan sendiri, ketika hadir di acara reuni ke-30 tahun SMP. Seolah kembali ke masa-masa bercelana biru dongker, pertemuan hari itu dipenuhi tawa dan gembira. Padahal betulkah demikian? Apakah kala kami sewaktu belia itu tak memiliki rasa sedih, membutuhkan sesuatu yang tak kesampaian atau konflik dengan teman-teman? Pada kenyataannya suka dan duka, tangis dan bahagia, untung dan rugi selalu hadir sebanding dengan perjalanan waktu.

Orang tua yang pada prosesnya pernah mengalami muda, tentunya akan paham akan keadaan yang dibutuhkan anaknya. Bukan kebutuhan dalam materi belaka, tapi mereka juga butuh banyak pengetahuan, kasih sayang yang tulus, perlakuan sebagai orang dewasa, eksistensi dalam keluarga, spiritualitas beragama dan masih banyak hal yang membuat ayah harus pengertian. Seorang ayah yang baik,dia akan flash back ke belakang kalau masa lalunya sebagai bahan renungan untuk menjadikan anak-anaknya lebih baik dari dirinya.

Di kala masih kuat, tenaga dan pikiran, mungkin ayah banyak berleha-leha dalam menghadapinya, sehingga yang terjadi hari ini merasa menyesal.
 “Coba kalau dulu saya rajin latihan menghapal alquran,mungkin hari ini isi alquran sudah di luar kepala”.
“Nyesel saya kenapa dahulu tak mengikuti orang tua untuk masuk ke sekolah ini”.
“Seandainya dari dulu saya rajin menulis, pasti hari ini tinggal menikmati royalti dari hasil tulisan tersebut”.
 Itulah contoh penyesalan yang banyak kita temui di sekitar kita, atau mungkin anda sendiri yang mengalaminya. Dari pengalaman seperti itu, tentu ayah tak mau hal tersebut berulang ke ananda tercinta. Maka disinilah ayah tampil menjadi pembimbing atau penuntun jalan bagi anak agar tak mengalami yang dilewatinya. Jadikanlah masa muda menjadi pelajaran berharga agar anak-anak lebih berkwalitas.

Dari banyak kisah teladan para pemuda yang telah menggoreskan tinta emas dalam sejarah,  cerita Muhammad Al-fatih yang membuat saya terkagum-kagum. Bagaimana tidak, seorang belia yang baru menginjak umur 21 tahun menjadi panglima perang dan menaklukkan kota Konstantinopel. Apakah ini sebuah kebetulan? TIDAK. Dibalik semua ini ada sosok yang menjadi teladan, guru, pembimbing, pembentuk karakter sehingga Muhammad Al-Fatih menjadi pribadi tangguh pemberani. Dialah Sultan Murad ayahnya sendiri.

Sultan Murad memiliki impian sejak mudanya agar bisa menaklukkan kota Konstantinopel pusat kekufuran kala itu. Sultan Murad sangat yakin dengan apa yang disampaikan Rasulullah Muhammad saw  800 tahun sebelumnya, kalau ibu kota Romawi Timur itu akan jatuh ke tangan orang islam. Maka beliau betul-betul mempersiapkan puteranya dengan sebaik-baik gemblengan. Sedari kecil beliau selalu membawa anaknya ke masjid untuk shalat shubuh berjamaah. Selepas shalat sambil menikmati udara pagi, Mehmed (Muhammad Al-Fatih) kecil diajaknya mengitari kampung, bercengkrama sambil menyampaikan keilmuan. Tangannya selalu erat memegang jemari mungil sang anak. Bukan bermaksud memanjakan, namun Sultan ingin menyatakan pada anaknya bahwa ayah selalu ada didekatnya. Ayah yang akan selalu menjaga, dan ayahlah tempat menyampaikan curahan hati anak-anaknya.

Harapan Sultan Murad muda yang belum kesampaian menjadi penakluk Kota Konstantinopel ,akhirnya ditularkan kepada puteranya melalui motivasi positif yang disampaikannya berulang kali. Diajaklah Mehmed ke menara tertinggi, lalu tangannya menunjuk langit yang dibawahnya ibu kota Romawi timur itu. “Nak, pandanglah ke arah sana. Di situ berdiri sebuah kota yang menjadi pusat kemungkaran. Janji baginda Nabi, kota itu akan jatuh ke tangan kaum muslimin. Si penakluk kota tersebut adalah seorang shaleh dan pemberani. Ayah berharap engkaulah yang dijanjikan dalam sabda Nabi yang agung itu”. Kalimat tersebut selalu diucapkan Sultan sehingga tertanam dalam diri Muhammad Al-Fatih, pribadi yang sholeh, percaya diri, selalu haus ilmu pengetahuan untuk mewujudkan cita-cita mulia itu. Ya, kalimat positif yang bermuatan penggugah ini lah yang dibutuhkan anak-anak kita. Bukan kalimat cacian ketika anak melakukan kesalahan, yang justru membuat anak merasa tak bisa, takut salah dan minder.

Masa muda adalah masa produktif, energik, kekuatan phisik yang prima dan semangat yang selalu menyala. Ibarat bunga mereka sedang mekar-mekarnya, sehingga akan membuat kupu-kupu untuk menghinggapi. Paras yang rupawan yang hanya dimiliki kaum muda, hanya sekali saja karena setelah itu mereka akan tua. Godaanpun lumayan banyaknya, bahkan syaithan sangat menyenangi untuk meniupkan angin maksiat kepada mereka. Hanya kekuatan iman yang kuat, mereka bisa melewati  semua godaan yang mampir ke dirinya. Iman yang kuat itu bagaikan pondasi yang harus dimiliki semua orang, agar derajat taqwa yang diharapkan Robb-Nya tergapai hingga berkumpul dengan saudara-saudara seiman di Jannah-Nya kelak. Semua itu tergantung siapa yang mendidiknya, dalam hal ini orang tuanya. Seperti yang dilansir di bagian awal tulisan ini bahwa manusia terlahir dalam keadaan fitrah, orang tuanyalah yang membuat dia Yahudi, Nasrani atau Majusi.

Godaan yang didapatkan seorang ayah sewaktu muda, bisa menjadi tolok ukur dalam menggembleng anak-anak selaku kaderisasi sebuah keluarga, bangsa yang terhormat dan umat mulia dan pemimpin di masa depan. Apa yang dialami sewaktu muda ayah tularkan tentu setelah dimodifikasi dengan keadaan kekinian. Segala yang menjadi cita-cita sewaktu muda dan belum terlaksana, bisa disalurkan ke anak-anaknya. Bantu mereka mengenal dirinya sendiri, siapa dia, apa kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Sehingga mengetahui tujuan hidupnya. Ingat ! Hanya membatu bukan mebdikte harus begini dan begitu.

Ø  Tidak Otoriter

“Anak gadis itu mengeja hurup demi hurup hijaiyah, dibarengi jantung yang berdebar dan hati yang penuh rasa risau. Sekali-kali matanya melirik ke sebuah pisau belati yang menyelip di ikat pinggang sang guru ngajinya yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Tak jarang raga mungilnya dipenuhi keringat dingin, tatkala bentakkan yang keluar di mulut lelaki di depannya bila si gadis melakukan kesalahan”.  Itulah sekelumit kisah yan dialami Irsyad Mandji  seorang jurnalis Kanada, seorang Islam liberal, pendukung LGBT dan memilih menikah dengan sejenis. Masa kecil yang dialami begitu tragis, hidup dalam nuansa yang kurang bagus karena kebengisan seorang ayah. Dia lahir di Uganda yang kemudian pindah ke Kanada karena peraturan Presiden Uganda Idi Amien kala itu yang melarang non kulit hitam tinggal di negaranya. Irsyad Mandji dan keluarganya yang merupakan keturunan India dan Mesir akhirnya memilih menetap di Kanada, Amerika Serikat. Di tempat barunya yang notabene sekolah sekuler, dan latar belakang keluarga yang tak nyaman membuat dirinya menjadi yang kita kenal sekarang ini.  Tulisannya sangat membahayakan karena paham kebebasan yang melekat di dalam dirinya.

Dari cerita di atas, saya tak menyoalkan pemikiran yang Irsyad Mandji miliki. Tapi tengoklah sikap ayah terhadap dirinya. Sikap otoriter, garang, tak bersahabat seorang ayah ternyata membuat anak mencari kebebasan yang selama ini mengungkung dirinya. Ayah yang menjadi sosok lelaki pertama yang dia kenal dalam hidupnya, ternyata tak mampu membuat nyaman dalam kehidupannya. Dia mencari kebebasan dan menganggap sosok lelaki tak akan memberi rasa sayang sehingga akhirnya memilih hidup sebagai lesbian. Audzubillahi min dzalik

Ø  Menjadi Pendengar Yang Baik

Banyak kejadian kalau anak-anak lebih memilih mengeluarkan curahan hatinya ke orang yang bukan orang tuanya. Mereka lebih nyaman kalau curhat ke gurunya, teman bermainnya, rekan kerjanya atau siapa saja yang dirasa nyaman untuk mengeluarkan segala problematika yang dialaminya. Ayah baginya bagai sesosok asing, atau orang yang angker untuk dijauhi. Kejadian seperti ini merupakan sebuah malapetaka bagi kehidupannya di masa mendatang. Beruntung kalau mereka mau berbagi rasa walaupun bukan ke orang tuanya. Faktanya banyak pula anak-anak tak mampu mengekspresikan kepada siapapun tentang keluhan yang sedang dihadapinya.

Saya teringat seorang teman SMA. Ibunya seorangPNS (guru SD) sedangkan bapaknya seorang pengusaha ikan air tawar dan memiliki kemampuan mendesain rumah. Kalau dilihat dari perekonomian lumayan berkecukupan untuk ukuran di kampung tahun 90-an. Apa lagi ditunjang dengan ibunya seorang pendidik, sehingga dipastikan teman ini mempunyai kultur yang baik di rumahnya. Namun kenyataannya ketika menginjak naik kelas tiga, dia sudah jarang masuk sekolah, dan akhirnya keluar. Saya bertanya permasalahan apa yang terjadi sehingga putus sekolah. Apakah karena lingkungan sekolah yang tak enak, ada guru yang tak disenangi atau ada konflik dengan teman. Diapun bertutur, "Saya paham sekolah itu penting dan dibutuhkan bagi setiap orang. Tapi apalah artinya kalau saya sendiri tak melihat ayah merasa bangga terhadap anaknya. Wajah perang ayah yang selalu tergambar dalam hari-harinya. Tak pernah menanyakan prestasi sekolah atau mau mendengarkan keluhan anak”.

Rasa dendam terhadap ayahnya sampai memuncak hingga berencana ingin meracuninya. Tentu hal ini membuat saya kaget tak kepalang. Sebagai teman tentu tak mau hal ini terjadi, saya yang waktu itu masih umur belasan terus mengingatkan bahwa semua itu tak boleh dilakukan. Alhamdulillah kejadian horor ini tak terlaksana, bahkan ketika saya berkunjung ke rumahnya dua tahun yang lalu, dia nampaknya  begitu care terhadap putera-puterinya. Mungkin masa kelam yang dialaminya, dijadikannya pelajaran bagaimana harusnya bersikap menjadi ayah. Perlakuan yang diterimanya tak boleh terjadi untuk kehidupan anak-anaknya.

Menjadi pendengar yang baik, mendengarkan kemauan dan keluh kesah anak harus ayah lakukan bagi setiap jenjang ananda. Ayah jangan segan menina bobokan anak ketika bayi, atau menangkap tangisan yang selalu terjadi ketika masih belia. Menyambut anak dengan senyum sumringah ketika dia pulang sekolah, menanyakan aktivitas yang dilakukan di sekolahnya. Begitupun ketika dia remaja, ayah tampil bak sahabat yang selalu siap menampung segala curahan hatinya. Jangan menjadi ayah yang sok sibuk, sehingga tak banyak waktu demi buah hatinya. Pekerjaan yang selalu menyita waktu, gadget yang seakan menjadi teman setia setiap geraknya, sementara anak yang membutuhkan perhatian terlupakan.


               Dalam sebuah kajian halaqoh pekanan yang saya ikuti, pernah suatu ketika kala ustadz kami menyampaikan materi, tiba-tiba anak bungsunya menghampiri dan menunjukkan selembar kertas yang isinya sebuah gambar yang dibuatnya. Ustadz langsung berhenti menyampaikan kajiannya padahal kami sedang serius karena beliau sedang mengisahkan Sirroh Nabawiyah dan didalamnya sedang menceritakan kisah seorang sahabat nabi. Apa yang dilakukan ustadz? Dia spontan memasang wajah penuh kekaguman. “wah... wah...wah... luar biasa gambarnya, abi senang Khalid bisa gambar sebagus ini.” Dibolak-baliknya gambar itu seraya senyuman hangat tiada henti. Bukan sampai disitu saja, diapun menunjukkan ke kami seolah sedang membangun kepercayaan diri seorang anak. “Nih Om... gambar Khalid bagus kan?”  Kejadian seperti ini mungkin hanya beberapa saat, dan tak akan merebut waktu para ayah. Tapi bagi mereka hal ini begitu berharga. Keberadaannya merasa  dispesialkan, sehingga tumbuh benih percaya diri yang baik.

Minggu, 28 Januari 2018

Ceria Pagi Bersama Anak

Belajar Kompetisi Dalam Sebuah Permainan


               Permainan kids zaman Now, cenderung menghasilkan sebuah kepribadian yang  tak peka terhadap sesama. Setuju atau tidak, yang jelas ini bukan sedang melakukan voting. Hanya berdasarkan pengamatan, saya merasakan sendiri ketika membandingkan perangkat permainan anak-anak kekinian, dengan era 80-an kesana.  Anak-anak masa kini yang identik dengan serba digital, kalau orang tuanya tak membimbing dengan baik, maka khawatir mereka akan tumbuh menjadi seorang manusia yang tak lagi peduli ke sesama. Keasyikan bermain game yang tak membutuhkan  banyak kawan, hanya akan membuat mereka jauh dengan sekitar. Jika hal ini dibiarkan, maka bisa jadi sifat “Gotong Royong” yang menjadi ciri bangsa ini lambat laun akan sirna.





                Beberapa hari lalu saya bincang-bincang dengan seorang rekan kerja. Sudah menjadi kebiasaan ketika ada waktu senggang, kami berdiskusi dengan suasana bincang santai. Apapun bisa kami bahas, sampai hal politikpun tak lekang kami mengupasnya. Sebatas hal tersebut menarik dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Hingga pada ujung pekan lalu diskusi tentang pendidikan anak-anak.

                “Kira-kira apa yang dilakukan kang Ade dulu sewaktua  anak-anak?” Tanyaku  ke seorang teman tersebut, yang bernama Ade Kurniawan yang usianya 11 tahun dibawah saya.
“kenapa  nanya demikian?” Timpalnya malah balik nanya, seperti meminta kejelasan akan maksud pertanyaanku. Sayapun bercerita, tentang kebiasaan Ahsan puteraku  sepulang shalat shubuh. Selepas shalat berjamaah, hanya 15 menit dia mengulang pelajaran ngajinya. Tak jarang sisa ngantuk masih tergambar  di wajah si anak ini,  yang dua bulan lagi menginjak usia 7 tahun. Apa yang dilakukannya selanjutnya? Aktivitas yang membuat dia senang  adalah asyik di depan Televisi . Pelbagai film kartun ditontonnya. Dan kabar dari beberapa teman, aktivitas menonton yang dilakukan anak-anaknya tak jauh beda yakni menonton.

                Setelah mendengar cerita tersebut, Ade yang saya ajak diskusipun mulai menceritakan bagaimana kebiasaannya dulu yang ternyata tak jauh berbeda dengan kisah masa kecilku. Hidup di kampung dengan nuansa agama yang masih kental, aktivitas di pagi hari kami mulai di rumah guru ngaji. Karena waktu itu anak-anak sebaya tidak tidur di rumah. Kira-kira 30 menit menjelang maghrib, orang tua kami menyuruh pulang untuk cepat-cepat berangkat ke mesjid terdekat untuk melakukan shalat berjamaah yang berlanjut dengan belajar Al-quran dan pelajaran agama yang masih tahapan dasar. Sampai selepas isya tak pulang ke rumah, dan kamipun tidur di rumah guru. Dan rumah sang kiyaipun akan riuh rendah sepanjang kami berada di sana. Maklum saja, bisa dibayangkan anak-anak seusia SD berkumpul pasti ramai dengan candaan atau permainan sebelum tidur. Tak pernah nonton TV, karena jam segitu acara TVRI tak menarik buat usia anak-anak. Hingga pagi sebelum pulang, anak-anak akan senang hati membantu pekerjaan di sekitar rumah guru. Yang perempuan ada yang membantu cuci piring, membantu ibu kiyai memasak, atau  menyapu halaman. Sementara  yang laki-laki ada yang nyiangi pekarangan, bantu menimba air dari sumur, karena waktu itu belum zamannya mesin penyedot air. Semua dilakukan dengan suka cita dan penuh kebersamaan. Dan hal ini ternyata menjadi sebuah pelajaran berharga, kalau sebenarnya kita sedang belajar bersosialisai. Dan kenangan seperti ini telah mampu melahirkan kenangan yang sulit dilupakan. Dan alhasil, sayapun masih mengingat nama teman-teman walaupun sudah puluhan silam.

                Permainan zaman Old lebih ke nuansa gotong royong, tengok saja Bebentengan. Maaf... untuk istilah dengan bahasa Indonesia,saya tak tahu istilah yang populer di kawasan Sukabumi ini. Cara bermainnya, ada dua kelompok berhadap-hadapan. Masing-masing kelompok akan berpijak pada sebuah batu sebagai tanda kalau benda tersebut sebagai benteng pertahanan. Mungkin inilah maksudnya kenapa namanya jadi Bebentengan. Siapa yang terlepas dari pijakan tersebut, maka pihak lawan bila menyentuh orang yang melepaskan diri tersebut, maka sudah dipastikan kelompok yang bisa menyentuh tersebut mendapatkan poin. Keseruan muncul,karena masing-masing pihak akan sengaja mendekati kubu lawan, dengan tujuan lawan akan mengejar dirinya  untuk bisa disentuhnya. Disinilah fungsinya kita harus pandai berlari, kekompakkan dalam sebuah team, belajar strategi dan trik menyerang dan bertahan. Luar biasa bukan? Pokoknya seru abis aneka permainan zaman  dulu  itu. Semua organ tubuh sepertinya ikut bermain. Bukan hanya otak berpikir, tapi berikut fisik juga  ikut andil bagian.
Mengamati Tongtolang (Buah Nangka Muda)

               
                Saya tak akan mengupas  lebih jauh tentang dampak menonton tv  atau berlama-lama nge-game yang dilakukan anak-anak. Banyak sudah artikel yang membahas tentang ini. Anda tinggal klik dan searching, pasti keluar  tuh info yang akan kita  minta. Dalam kesempatan ini, saya akan sharing bagaimana caranya mengendalikan anak-anak untuk urusan ini. Jujur saya akui, kalau sebenarnya waktu untuk bersama anak-anak tak begitu banyak.  Setiap pagi pukul 08.00 sampai pukul 16.00, adalah saat berjauhan dengan anak-anak. Beruntung jarak dari rumah ke tempat kerja, masih satu kompleks, sehingga jam istirahat bisa berguna untuk menemui mereka walau sekedar menyapa dan memangku si kecil Qoila. Pagi hari adalah saat tepat bagaimana saya bergumul dengan mereka. Interaksi lahir bathin saya curahkan. Keliling kampung sambil menghirup udara pagi, dan mengeksplor anak-anak akan sesuatu yang baru. Yang penting dapat  melupakan kesenangannya untuk berasyik ria di depan Televisi.

                Yang saya  lakukan  hanya   mengalihkan perhatian  saja,hal ini tentu tak bisa dilakukan sendirian. Maka  kerja sama  dengan  istri  atau   suami,  adalah  yang  harus  kita  jadikan  sebagai   sebuah prinsip. Kasihan sekali anak-anak  yang  begitu fresh di pagi hari, tapi memorinya harus dijejali dengan hal yang selebihnya tak begitu bermanfaat. Barangkali kita merasa enjoy,  karena dengan menonton TV, mereka tak mengganggu pekerjaan orangtuanya.  Yang biasanya nuansa pagi sangat sibuk dengan urusan di rumah. Apa lagi seorang ibu rumah tangga yang tak memiliki pembantu, biasanya akan super repot dengan aktivitas paginya. Maka dengan adanya hal yang menyenangkan si anak yakni nonton tv, orang tua pasti merasa leluasa mengerjakan pekerjaannya. Padahal  yang  dia tonton itu banyak, termasuk  iklan  yang  akan membawa dirinya konsumerisme. Belum lagi akibat lain yang  merupakan efek yang kurang bagus lainnya.
Memperkenalkan Berenang Kepada Anak

Melihat kenyataan demikian, sebagai orang tua yang care tentu tak mau kalau anaknya menjadi objek  digital. Oleh karenanya, saya menyengajakan diri  memberi waktu luang bersamanya. Lagian asyik banget loh komunikasi sama anak-anak, selalu ada celah yang membuat orang tua merenung  dan menambah ilmu ke-orang tuaan. Hehhe...  apa  ya bahasanya,koq ke-orang tuaan.  Pernah anak saya teriak kaget ketika keliling desa, menelusuri selokan yang kebetulan di musim hujan  seperti  sekarang, airnya masih menampakkan diri. Dia melihat seekor kepiting yang ternyata jalannya miring dengan kedua capit yang menganga  ke atas. Teriakkannya menyadarkan saya ternyata baru kali ini  dia tahu aslinya seekor kepiting. Selama ini baru tahu di TV saja. Dari  kejadian seperti ini sudah jelas akan terjadi komunikasi yang mengasyikkan, dan sarana transfer ilmu ke anak tentang apa  yang  dilihatnya. Dan siap-siap pula kita orang tua  dicecar dengan pertanyaan sang anak. Waktu itupun saya ditanya, kenapa kepiting jalannya ke samping, makanan dia apa, apa  bedanya kepiting laut dan kepiting air tawar, kalau dimakan boleh apa tidak?  Pokoknya jadi banyak bahasan. Disaat seperti inilah terjalin proses bonding atau kelekatan yang diperlukan antara  anak dan orang tua. Bonding inilah yang menjadi bagian dari sebuah struktur dalam tumbuh kembang anak. Karena yang dibutuhkan anak bukan saja gizi seimbang saja, tapi kelekatan ini pula akan berpengaruh besar dalam  perkembangan mental anak  ke depannya.

Pelukan Di Pagi Hari

Ada Transfer Chemistry Dalam Sebuah Pelukan

Ada proses saling transfer chemistry ketika kita berpelukan dengan buah hati. Saya sendiri baru membiasakan hal ini, ketika walikota Bandung Ridwan Kamil menceritakan pengalaman pribadinya di salah satu stasiun televisi. Pagi-pagi sebelum melakukan aktivitas, hal pertama yang dilakukannya adalah memeluk anak-anaknya sekitar 30 sampai 60 detik saja. Disaat berpelukan inilah, 30 detik pertama kita mentransfer chemistry pada anak, dan 30 detik terakhir anak yang akan mentransfer chemistry pada kita. Setelah hal ini dikakukan rutin, maka sudah tentu keterikatan bathin satu sama lain akan terbina. Rasa peka antara anak dan orang  tua akan terbangun.



Ingatlah kisah Fatimah binti Rasulillah, kasih sayang yang ditumpahkan ayahnya begitu membekas. Saya selalu membayangkan betapa besar karunia yang diberikan kepada ibunda Hasan dan Husein ini. Tiap saat bertemu ayahnya selalu diciumnya, dikecup keningnya, dicium tangannya  dan didekapnya. Perlakuan Rasulullah terhadap anak-anaknya tidak dilakukan di rumahnya saja, tapi juga sering dilakukan di depan para sahabatnya. Pantas saja kelak Fatimah dewasa menjadi pribadi percaya diri, bermental baja, penyabar dan berakhlaqul karimah lainnya.

Rasulullah selalu menebar keceriaan dan kebahagiaan di depan anak-anak. Sehingga sepulang dari mesjid, anak-anak sudah pada menunggu di luar. Beliau usap pipi dan kepalanya masing-masing.  Bahkan tak jarang beliau melakukan game dengan mereka. Dalam sebuah hadist disebutkan, “Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang dapat mengejar aku, dia akan mendapatkan ini dan itu, Lalu Abdullah berkata, lalu mereka mengengejar beliau, sehingga mereka dapat memegang punggung dan dada beliau, lalu mereka mencium dan menggandengnya” (HR. Ahmad).  Hal ini bisa kita praktekkan kepada anak-anak kita ataupun buat temannya anak-anak kita. Jangan ragu untuk selalu mau bermain bersamanya. Jadikan suasana rumah selalu diisi dengan hal yang menyenangkan, sehingga tak ketergantungan dengan hanya menonton televisi.

Anak-anak Butuh Teman
                Dua pekan lalu saya menyimak video live di Facebook, yang isinya tausiyah ust. Cahyadi Takariawan yang lebih familiar dengan panggilan pak Cah. Beliau menyarankan agar anak-anak harus dikenalkan dengan teman sebayanya. Hal ini penting dilakukan agar semua sejalan dan merupakan fitrah yang harus terjadi pada anak-anak. Sehingga perekembangan psikologi, sosialisasi, tenggang rasa akan muncul sejak dini. Karena pada dasaranya anak-anak itu butuh teman bermain. Mereka membutuhkan ajang kompetisi, sehingga bisa siap menghadapi persoalan hidup ketika dewasa kelak. Makanya dari awal tulisan ini, saya menilai kalau permainan di era digital ini tak sepenuhya memenuhi kebutuhan hak anak, bahwa sejatinya mereka membutuhkan teman.

               
                Di bagian akhir tulisan ini, saya mau menampilkan pesan Syaikh Dr. Ash-Shallabi.

5 Sentuhan Setiap Hari :


•Belailah kepala bagian belakang anak, pertanda bentuk kasih sayang
• Letakkan tangan di kepala anak, pertanda bentuk kebanggaan
•Letakkan tangan di atas kening anak agar dia merasa tenang.
•Letakkan tangan di kedua pipi anak, sebagai bentuk kasih sayang.

•Genggam tangannya untuk menguatkan hubungan dan cinta anda kalau anaknya sedang marah, tepuklah dadanya secara lembut.


#AnakInvesasiDuniaAkhirat

Rabu, 17 Mei 2017

APA YANG KITA TANAM ITULAH YANG KITA TUAI


            Tiga tahun lalu, jutaan pemirsa TV dibuat terharu oleh penampilan juara hafiz 2014, Musa La Ode Abu Hanafi. Kala itu usianya baru menginjak lima tahun, tapi sudah hapal 29 juz dari 30 juz Alquran. Dan akhirnya dunia mencatat , kalau Musa akhirnya mengharumkan nama Indonesia di ajang MTQ  Internasional  di Mesir tahun 2016, dan keluar sebagai juara 3 tingkat anak-anak dan peserta termuda.


Khalayak pasti penasaran, koq bisa-bisanya anak yang masih belia ini bisa hapal Alquran  dalam usia  yang  sangat  muda. Dan jawabannya, terletak dari orang tuanya yang  telah menanam sebuah bibit unggul dan merawatnya dengan baik. Bukan saja mengarahkan, orangtuapun memberikan uswah (tauladan), sehingga tak heran kalau ada pribahasa “Buah tak kan jatuh jauh dari pohonnya”. Hal ini yang dilakukan orangtua Musa, sehingga hasilnya sebanding dengan apa yang dia tanam,  yakni Musa La Ode hafiz kebanggaan  Indonesia.


Selain Musa, tentunya banyak nama-nama yang mengharumkan dunia karena  kejeniusan,  musik, akting, dan hal yang mencengangkan lainnya.  Dan semua itu ternyata karena kegigihan  orang tuanya dalam memberikan pendidikan, mengisi ruang-ruang kosong  jiwa anak dengan hal positif dan berguna, disertai rasa nyaman tanpa paksaan. Walaupun kenyataanya,banyak pula anak yang kemudian unggul dalam perjalanan di  masa depannya,padahal orangtua tak mendidiknya dengan benar. Ini hanya sebagai pengecualian,karena yang banyak kita temui anak gemilang adalah anak yang berada dalam pendidikan yang benar.

            
              Keseriusan orang tua yang merasakan kalau anak adalah titipan terbesar yang diberikan Allah atas dirinya, maka orang tua ini akan betul-betul menjaga dan membimbing anak-anaknya. Kebersamaan dari semenjak bangun sampai bangun lagi, selalu diisi semangat mengajari, memberi contoh dan mempraktekannya. Sepertinya tak boleh ada celah waktu yang sia-sia dalam kebersamaan dengan sang buah hati.
            
               Ibarat sebuah pohon yang kita tanam, maka kalau hasilnya ingin bagus dengan buah yang berkwalitas, tentulah perawatannya harus sesuai aturan. Menyiram sesuai dengan waktu dan takaran,dan nutrisi yang diberikan juga harus sesuai dengan kebutuhan. Begitupun anak-anak kita, mereka membutuhkan perawatan dan perlakuan yang baik. Kita bisa mencari tahu dari banyak literasi tentang bagaimana nabi kita mendidik anak. Atau buku-buku karya Muhammad Faudzil Adzim, yang tulisannya telah menginspirasi banyak orang dalam merawat anak-anak. Makanan yang diberikanpun harus halalan thoyiban. Karena dari makanan ini juga bisa mempengaruhi karakter anak di masa depan.

Wallahu’alam