Penayangan bulan lalu

Minggu, 04 Februari 2018

PAHALA TAK BERUJUNG

Memetik hasil tanaman, padahal tak sempat menanamnya.


Pohon rambutan ini baru musim sekarang berbuah. Sementara penanam yakni bapak mertua tak sempat mencicipi, karena tahun lalu telah meninggalkan kami selama-lamanya. Hal ini menjadikan kami anak-anaknya, dimulai saat memetik dari pohon, mengupas dan memakannya, selalu teringat akan kebaikan bapak.
.
Ternyata hobi menanamnya ini sangat sering dilakukan. Selain pohon rambutan yang baru perdana panen, masih banyak pepohonan di sekitar rumah dan ladang hasil tangan dinginnya. Beberapa bulan  lalu ketika musim mangga, kamipun mencicipi manisnya buah mangga Dermayu hasil yang ditanam bapak. Luar biasa memang, kakek dari 7 cucu ini sepertinya mengamalkan titah Nabi dalam haditsnya,


مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَتْ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ


“Tak satupun seorang muslim yang menanam pohon, kecuali sesuatu yang dimakan dari tanaman itu akan menjadi pahala sedekah baginya, dan yang dicuri orang lain akan bernilai sedekah. Apa saja yang dimakan oleh binatang buas darinya, maka sesuatu (yang dimakan) itu akan menjadi sedekah baginya. Apapun yang dimakan oleh burung darinya, maka hal itu akan menjadi sedekah baginya. Tak ada seorangpun yang menguranginya, kecuali itu akan menjadi sedekah baginya.” (HR. Muslim)


Atas dasar kejadian inipun, akhirnya terbersit dalam hati saya untuk berbagi info  seputar menanam. Aktivitas menanam yang dicanangkan pemerintah beberapa tahun terakhir ini, ternyata telah digalakan Rasul dengan banyak hadist seputar menanam ini. Bahkan di hadist lain dikatakan, walaupun besok akan kiamat dan di tangan seseorang ada biji kurma, maka tanamlah biji kurma itu.


            Subhanallah andaikan seluruh manusia mengamalkan apa  yang diserukan Nabi, sudah pasti akan terjadi keseimbangan di maya pada ini. Musibah banjir tentunya tak akan jadi musiman di kota-kota besar, karena tanahnya akan berbagi dengan akar tanaman yang menyerap debit air hujan. Belum lagi udara yang sejuk sehingga terhindar dari polusi. Saya saat ini tinggal di Jalan Cipedes, bilangan Sukajadi kota Bandung. Seperti pemukiman penduduk di kota besar lainnya, sangat susah untuk mendapatkan udara segar. Padahal ibu kota priangan ini dulu dikenal kota kembang nan sejuk. Sebuah barang langka untuk menemukan rumah dengan pekarangan yang rimbun dengan pepohononan.

               Namun ada seorang tetangga yang sampai saat ini masih memiliki ruang terbuka dengan beberapa pohon besar. Tanahnya di pinggir jalan, yang pastinya memiliki daya jual lumayan tinggi, berada di kisaran 15 hingga 25 juta per meternya. Kalau dibikin kos-kosan pastinya akan menghasilkan pundi-pundi jutaan tiap bulannya. Dan konon banyak para investor yang mendatangi untuk membeli tanah tersebut. Tapi bu hajjah si empunya tak mau menjualnya. Alasannya karena menyukai suasana seperti ini, dan bisa merasakan sensasi panen ketika tanamannya berbuah. Belum lagi warung hidup dengan aneka tanaman bumbu dapur seperti cabai, bawang, tomat, seledri dan lainnya bisa langsung dipetik mana kala dibutuhkan.


            Bagi bu hajjah Dian mungkin hal ini, serasa menyenangkan dirinya. Padahal secara tidak disadari, dia telah menyumbang kesejukkan ke sekitar rumahnya. Kalau  lobang Bio pori yang digencarkan walikota saat ini, untuk pencegahan bencana banjir, ternyata ibu yang satu ini telah menyumbangkan banyak bio pori buat warga. Air hujan dari genting rumahnya tak serta merta terbuang begitu saja. Tapi  akan mengalir ke pepohonan sekitar rumahnya. Sehingga di kala musim kemarau, persediaan air yang ada, tentunya cukup menolong untuk beberapa bulan selanjutnya. Belum lagi fungsi tanaman yang ada, akan menyerap karbon dioksida yang ada di sekitarnya. Apa lagi kalau kita pandai berestetika, pepohonan yang ditanam kita suguhkan dengan tatanan  yang lebih cantik sehingga  membuat orang nikmat melihatnya. Sungguh ini pahala tak berujung, sepanjang ini menyimpan manfaat.



                  Dalam hadits lain yang sangat familiar  kita  dengar, tersirat bahwa ada tiga amalan yang terus mengalir walaupun orangnya telah tiada. Yakni ilmu yang bermanfaat, doa anak shaleh dan amal jariah. Diatas telah kita baca, bahwa menanam pohon itu ternyata memiliki pahala amal jariah. Oleh karena itu,maka  menanam pohon termasuk sebuah amalan yang pahalanya terus menerus walaupun sang penanam telah meninggal dunia. Seperti dari awal saya ceritakan, walaupun bapak mertua yang menanam rambutan telah tiada, ternyata hasilnya yang kami makan menjadi pahala baginya. Bahkan kalau buah rambutan itu dimakan binatang atau dicuri, ternyata pahalanya tak berubah alias amal jariahnya terus akan datang.



              Berikut ini saya sampaikan manfaat menanam yang dapat kita rasakan:
  • Mengurangi Pencemaran dan Pemanasan Global
Pencemaran yang terjadi sekarang ini, sebenarnya itu akibat yang dilakukan oleh tangan-tangan manusia. Suburnya menghilangkan tanah menjadi lahan pemukiman, tapi tak disertai dengan kesadaran lingkungan merupakan cikal bakal pencemaran. Karbon dioksida yang hanya bisa diserap oleh tanaman, akhirnya mencemari manusia dan lingkungan akibat berkurangnya pepohonan. Karena sejatinya, pohon-pohon itu akan menghasilkan oksigen alamiah yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup. Konon kalau sebuah pohon itu bisa menghasilkan oksigen 1,2kg/hari, sedangkan manusia bisa menghabiskan oksigen 0,5kg.hari. Dan pohon pula yang bisa menyerap karbon dioksida dan menurunkan suhu panas.


  • Pencegah Banjir
Titik-titik air yang turun dari langit adalah anugerah yang Allah berikan kepada manusia khususnya, dan seantero penghuni bumi pada umumnya. Akan tetapi  hujan yang turun dari langit ini, akan berubah menjadi bencana ketika air tersebut berlebihan, karena tanah yang kita pijak tak mampu untuk menampungnya. Nah, kehadiran pepohonanlah dimana akarnya yang berfungsi menjadi tandon air hujan. Sehingga mampu mengatasi banjir yang menjadi momok terutama di kota besar.

  • Meningkatkan Indeks Kebahagiaan
Efek yang terpantul dari hijau dedaunan, akan menimbulkan sebuah ketenangan. Maka tak heran kalau kehadiran taman-taman kota, selalu menghadirkan aneka tanaman. Dengan hadirnya ketenangan ini, maka sejenak dapat menghilangkan stress atau kesedihan. Itulah sebabnya kalau menanam dapat meningkatkan indeks kebahagiaan. Bahkan aktivitas menanampun bagi saya merupakan sesuatu banget untuk menghilangkan kepenatan. Walaupun area untuk media tanam sangat minim, tapi kegiatan ini sangat menyenangkan. Sehingga bisa diarahkan ke anak-anak sebagai alat edukasi akan pentingnya menanam.

  • Mengurangi Beban PLN
Barangkali  manfaat ini sepertinya tak disadari. Padahal kerasa banget, kalau akibat dari kegiatan ini bisa menurunkan budgeting belanja keluarga. Prakteknya begini, akibat suhu panas biasanya orang akan memasang AC pendingin atau kipas angin karena kegerahan. Akan tetapi dengan suasana rindang, angin sepoy-sepoy yang menyentuh dedaunan maka akan melahirkan suasana yang mengasyikkan tak kepanasan. Makanya orang yang bergelut di bisnis property, dia akan menaikkan harga sebuah rumah jika di halamannya ada pepohonan.

  • Ladang Pahala Yang Tak Bertepi
Seperti telah diulas diatas, bahwa amal jariah merupakan sebuah amalan yang pahalanya terus mengalir walaupun kita telah tiada. Dan alim ulama menyebutkan kalau amal jariah itu banyak cabangnya. Bisa membuatkan jamban umum, membuat jalan, membangun sarana ibadah dan salah satunya adalah menanam pohon.

             Bagi sahabat pembaca, sampai kapan kita menunda-nunda untuk tidak menanam. Mungkin halaman kita kecil, bolehlah kita akali dengan cara hydroponik, menanam di dalam pot atau memanfaatkan latar atas rumah. Bagi yang punya rezeki berlebih, kita dapat membeli tanah yang di pelosok tentu dengan harga tak semahal di kota besar. Menanamlah pohon apa saja, yang jelas memiliki manfaat yang tiada tara. Tak apa kalau kita tak sampai memanennya, tapi anak cucu kita akan terus mendapatkan hasilnya. Mereka yang akan memakan apa yang kita makan, tapi pahala amal jariah tetap kita dapatkan.






Minggu, 28 Januari 2018

Ceria Pagi Bersama Anak

Belajar Kompetisi Dalam Sebuah Permainan


               Permainan kids zaman Now, cenderung menghasilkan sebuah kepribadian yang  tak peka terhadap sesama. Setuju atau tidak, yang jelas ini bukan sedang melakukan voting. Hanya berdasarkan pengamatan, saya merasakan sendiri ketika membandingkan perangkat permainan anak-anak kekinian, dengan era 80-an kesana.  Anak-anak masa kini yang identik dengan serba digital, kalau orang tuanya tak membimbing dengan baik, maka khawatir mereka akan tumbuh menjadi seorang manusia yang tak lagi peduli ke sesama. Keasyikan bermain game yang tak membutuhkan  banyak kawan, hanya akan membuat mereka jauh dengan sekitar. Jika hal ini dibiarkan, maka bisa jadi sifat “Gotong Royong” yang menjadi ciri bangsa ini lambat laun akan sirna.





                Beberapa hari lalu saya bincang-bincang dengan seorang rekan kerja. Sudah menjadi kebiasaan ketika ada waktu senggang, kami berdiskusi dengan suasana bincang santai. Apapun bisa kami bahas, sampai hal politikpun tak lekang kami mengupasnya. Sebatas hal tersebut menarik dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Hingga pada ujung pekan lalu diskusi tentang pendidikan anak-anak.

                “Kira-kira apa yang dilakukan kang Ade dulu sewaktua  anak-anak?” Tanyaku  ke seorang teman tersebut, yang bernama Ade Kurniawan yang usianya 11 tahun dibawah saya.
“kenapa  nanya demikian?” Timpalnya malah balik nanya, seperti meminta kejelasan akan maksud pertanyaanku. Sayapun bercerita, tentang kebiasaan Ahsan puteraku  sepulang shalat shubuh. Selepas shalat berjamaah, hanya 15 menit dia mengulang pelajaran ngajinya. Tak jarang sisa ngantuk masih tergambar  di wajah si anak ini,  yang dua bulan lagi menginjak usia 7 tahun. Apa yang dilakukannya selanjutnya? Aktivitas yang membuat dia senang  adalah asyik di depan Televisi . Pelbagai film kartun ditontonnya. Dan kabar dari beberapa teman, aktivitas menonton yang dilakukan anak-anaknya tak jauh beda yakni menonton.

                Setelah mendengar cerita tersebut, Ade yang saya ajak diskusipun mulai menceritakan bagaimana kebiasaannya dulu yang ternyata tak jauh berbeda dengan kisah masa kecilku. Hidup di kampung dengan nuansa agama yang masih kental, aktivitas di pagi hari kami mulai di rumah guru ngaji. Karena waktu itu anak-anak sebaya tidak tidur di rumah. Kira-kira 30 menit menjelang maghrib, orang tua kami menyuruh pulang untuk cepat-cepat berangkat ke mesjid terdekat untuk melakukan shalat berjamaah yang berlanjut dengan belajar Al-quran dan pelajaran agama yang masih tahapan dasar. Sampai selepas isya tak pulang ke rumah, dan kamipun tidur di rumah guru. Dan rumah sang kiyaipun akan riuh rendah sepanjang kami berada di sana. Maklum saja, bisa dibayangkan anak-anak seusia SD berkumpul pasti ramai dengan candaan atau permainan sebelum tidur. Tak pernah nonton TV, karena jam segitu acara TVRI tak menarik buat usia anak-anak. Hingga pagi sebelum pulang, anak-anak akan senang hati membantu pekerjaan di sekitar rumah guru. Yang perempuan ada yang membantu cuci piring, membantu ibu kiyai memasak, atau  menyapu halaman. Sementara  yang laki-laki ada yang nyiangi pekarangan, bantu menimba air dari sumur, karena waktu itu belum zamannya mesin penyedot air. Semua dilakukan dengan suka cita dan penuh kebersamaan. Dan hal ini ternyata menjadi sebuah pelajaran berharga, kalau sebenarnya kita sedang belajar bersosialisai. Dan kenangan seperti ini telah mampu melahirkan kenangan yang sulit dilupakan. Dan alhasil, sayapun masih mengingat nama teman-teman walaupun sudah puluhan silam.

                Permainan zaman Old lebih ke nuansa gotong royong, tengok saja Bebentengan. Maaf... untuk istilah dengan bahasa Indonesia,saya tak tahu istilah yang populer di kawasan Sukabumi ini. Cara bermainnya, ada dua kelompok berhadap-hadapan. Masing-masing kelompok akan berpijak pada sebuah batu sebagai tanda kalau benda tersebut sebagai benteng pertahanan. Mungkin inilah maksudnya kenapa namanya jadi Bebentengan. Siapa yang terlepas dari pijakan tersebut, maka pihak lawan bila menyentuh orang yang melepaskan diri tersebut, maka sudah dipastikan kelompok yang bisa menyentuh tersebut mendapatkan poin. Keseruan muncul,karena masing-masing pihak akan sengaja mendekati kubu lawan, dengan tujuan lawan akan mengejar dirinya  untuk bisa disentuhnya. Disinilah fungsinya kita harus pandai berlari, kekompakkan dalam sebuah team, belajar strategi dan trik menyerang dan bertahan. Luar biasa bukan? Pokoknya seru abis aneka permainan zaman  dulu  itu. Semua organ tubuh sepertinya ikut bermain. Bukan hanya otak berpikir, tapi berikut fisik juga  ikut andil bagian.
Mengamati Tongtolang (Buah Nangka Muda)

               
                Saya tak akan mengupas  lebih jauh tentang dampak menonton tv  atau berlama-lama nge-game yang dilakukan anak-anak. Banyak sudah artikel yang membahas tentang ini. Anda tinggal klik dan searching, pasti keluar  tuh info yang akan kita  minta. Dalam kesempatan ini, saya akan sharing bagaimana caranya mengendalikan anak-anak untuk urusan ini. Jujur saya akui, kalau sebenarnya waktu untuk bersama anak-anak tak begitu banyak.  Setiap pagi pukul 08.00 sampai pukul 16.00, adalah saat berjauhan dengan anak-anak. Beruntung jarak dari rumah ke tempat kerja, masih satu kompleks, sehingga jam istirahat bisa berguna untuk menemui mereka walau sekedar menyapa dan memangku si kecil Qoila. Pagi hari adalah saat tepat bagaimana saya bergumul dengan mereka. Interaksi lahir bathin saya curahkan. Keliling kampung sambil menghirup udara pagi, dan mengeksplor anak-anak akan sesuatu yang baru. Yang penting dapat  melupakan kesenangannya untuk berasyik ria di depan Televisi.

                Yang saya  lakukan  hanya   mengalihkan perhatian  saja,hal ini tentu tak bisa dilakukan sendirian. Maka  kerja sama  dengan  istri  atau   suami,  adalah  yang  harus  kita  jadikan  sebagai   sebuah prinsip. Kasihan sekali anak-anak  yang  begitu fresh di pagi hari, tapi memorinya harus dijejali dengan hal yang selebihnya tak begitu bermanfaat. Barangkali kita merasa enjoy,  karena dengan menonton TV, mereka tak mengganggu pekerjaan orangtuanya.  Yang biasanya nuansa pagi sangat sibuk dengan urusan di rumah. Apa lagi seorang ibu rumah tangga yang tak memiliki pembantu, biasanya akan super repot dengan aktivitas paginya. Maka dengan adanya hal yang menyenangkan si anak yakni nonton tv, orang tua pasti merasa leluasa mengerjakan pekerjaannya. Padahal  yang  dia tonton itu banyak, termasuk  iklan  yang  akan membawa dirinya konsumerisme. Belum lagi akibat lain yang  merupakan efek yang kurang bagus lainnya.
Memperkenalkan Berenang Kepada Anak

Melihat kenyataan demikian, sebagai orang tua yang care tentu tak mau kalau anaknya menjadi objek  digital. Oleh karenanya, saya menyengajakan diri  memberi waktu luang bersamanya. Lagian asyik banget loh komunikasi sama anak-anak, selalu ada celah yang membuat orang tua merenung  dan menambah ilmu ke-orang tuaan. Hehhe...  apa  ya bahasanya,koq ke-orang tuaan.  Pernah anak saya teriak kaget ketika keliling desa, menelusuri selokan yang kebetulan di musim hujan  seperti  sekarang, airnya masih menampakkan diri. Dia melihat seekor kepiting yang ternyata jalannya miring dengan kedua capit yang menganga  ke atas. Teriakkannya menyadarkan saya ternyata baru kali ini  dia tahu aslinya seekor kepiting. Selama ini baru tahu di TV saja. Dari  kejadian seperti ini sudah jelas akan terjadi komunikasi yang mengasyikkan, dan sarana transfer ilmu ke anak tentang apa  yang  dilihatnya. Dan siap-siap pula kita orang tua  dicecar dengan pertanyaan sang anak. Waktu itupun saya ditanya, kenapa kepiting jalannya ke samping, makanan dia apa, apa  bedanya kepiting laut dan kepiting air tawar, kalau dimakan boleh apa tidak?  Pokoknya jadi banyak bahasan. Disaat seperti inilah terjalin proses bonding atau kelekatan yang diperlukan antara  anak dan orang tua. Bonding inilah yang menjadi bagian dari sebuah struktur dalam tumbuh kembang anak. Karena yang dibutuhkan anak bukan saja gizi seimbang saja, tapi kelekatan ini pula akan berpengaruh besar dalam  perkembangan mental anak  ke depannya.

Pelukan Di Pagi Hari

Ada Transfer Chemistry Dalam Sebuah Pelukan

Ada proses saling transfer chemistry ketika kita berpelukan dengan buah hati. Saya sendiri baru membiasakan hal ini, ketika walikota Bandung Ridwan Kamil menceritakan pengalaman pribadinya di salah satu stasiun televisi. Pagi-pagi sebelum melakukan aktivitas, hal pertama yang dilakukannya adalah memeluk anak-anaknya sekitar 30 sampai 60 detik saja. Disaat berpelukan inilah, 30 detik pertama kita mentransfer chemistry pada anak, dan 30 detik terakhir anak yang akan mentransfer chemistry pada kita. Setelah hal ini dikakukan rutin, maka sudah tentu keterikatan bathin satu sama lain akan terbina. Rasa peka antara anak dan orang  tua akan terbangun.



Ingatlah kisah Fatimah binti Rasulillah, kasih sayang yang ditumpahkan ayahnya begitu membekas. Saya selalu membayangkan betapa besar karunia yang diberikan kepada ibunda Hasan dan Husein ini. Tiap saat bertemu ayahnya selalu diciumnya, dikecup keningnya, dicium tangannya  dan didekapnya. Perlakuan Rasulullah terhadap anak-anaknya tidak dilakukan di rumahnya saja, tapi juga sering dilakukan di depan para sahabatnya. Pantas saja kelak Fatimah dewasa menjadi pribadi percaya diri, bermental baja, penyabar dan berakhlaqul karimah lainnya.

Rasulullah selalu menebar keceriaan dan kebahagiaan di depan anak-anak. Sehingga sepulang dari mesjid, anak-anak sudah pada menunggu di luar. Beliau usap pipi dan kepalanya masing-masing.  Bahkan tak jarang beliau melakukan game dengan mereka. Dalam sebuah hadist disebutkan, “Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang dapat mengejar aku, dia akan mendapatkan ini dan itu, Lalu Abdullah berkata, lalu mereka mengengejar beliau, sehingga mereka dapat memegang punggung dan dada beliau, lalu mereka mencium dan menggandengnya” (HR. Ahmad).  Hal ini bisa kita praktekkan kepada anak-anak kita ataupun buat temannya anak-anak kita. Jangan ragu untuk selalu mau bermain bersamanya. Jadikan suasana rumah selalu diisi dengan hal yang menyenangkan, sehingga tak ketergantungan dengan hanya menonton televisi.

Anak-anak Butuh Teman
                Dua pekan lalu saya menyimak video live di Facebook, yang isinya tausiyah ust. Cahyadi Takariawan yang lebih familiar dengan panggilan pak Cah. Beliau menyarankan agar anak-anak harus dikenalkan dengan teman sebayanya. Hal ini penting dilakukan agar semua sejalan dan merupakan fitrah yang harus terjadi pada anak-anak. Sehingga perekembangan psikologi, sosialisasi, tenggang rasa akan muncul sejak dini. Karena pada dasaranya anak-anak itu butuh teman bermain. Mereka membutuhkan ajang kompetisi, sehingga bisa siap menghadapi persoalan hidup ketika dewasa kelak. Makanya dari awal tulisan ini, saya menilai kalau permainan di era digital ini tak sepenuhya memenuhi kebutuhan hak anak, bahwa sejatinya mereka membutuhkan teman.

               
                Di bagian akhir tulisan ini, saya mau menampilkan pesan Syaikh Dr. Ash-Shallabi.

5 Sentuhan Setiap Hari :


•Belailah kepala bagian belakang anak, pertanda bentuk kasih sayang
• Letakkan tangan di kepala anak, pertanda bentuk kebanggaan
•Letakkan tangan di atas kening anak agar dia merasa tenang.
•Letakkan tangan di kedua pipi anak, sebagai bentuk kasih sayang.

•Genggam tangannya untuk menguatkan hubungan dan cinta anda kalau anaknya sedang marah, tepuklah dadanya secara lembut.


#AnakInvesasiDuniaAkhirat

Minggu, 21 Januari 2018

Bang-Bing-Bung (Melatih Anak Gemar Menabung)

Sebuah aktivitas kebaikan yang kita lakukan, mestinya ditularkan ke anak-anak. Termasuk dalam hal pengelolaan keuangan, seperti teknik belanja sesuai budget, berbagi terhadap sesama, dan menabung.



Mengapa menabung?
Karena menabung dapat membuat seseorang untuk memenuhi tujuan keuangannya. Dengan menabung anak akan tahu, kapan saatnya dapat membeli barang yang diidam-idamkan,  dan melatih anak lebih bijak dalam membelanjakan uangnya.

 Menularkan hasrat menabung pada anak tak semudah yang kita bayangkan. Membutuhkan perjuangan yang ulet agar anak mulai belajar menabung. Salah satu sebab diantaranya, karena mereka tak memiliki uang sisa untuk ditabungkan. Oleh karena itu, ada tips yang pernah saya gunakan dalam membangkitkan hasrat menabung.

1. Perkenalkan uang
Kenalkan uang terlebih dahulu apa itu uang. Dari nominal ataupun intristiknya. Mengajak anak berhitung uang, biasanya hal ini juga akan  membuat anak merasa senang. Disaat inilah kita akan menjelaskan apa itu uang.

2. Kasih Tahu Fungsi Uang
Jelaskan bahwa uang itu merupakan alat pembayaran yang digunakan di setiap negara. Dengan uang kita dapat memenuhi kebutuhan yang kita butuhkan. Jadikan dialog yang menyenangkan  ketika mengajak buah hati berbelanja bareng. Jangan sungkan untuk mengajak buah hati shopping.  Bukan konsumerismenya yang akan tertular kepada anak, tapi ada nilai positif juga yang kita latihkan pada diri anak. Saya juga sering melakukan budgeting waktu belanja, dan mencatatnya di secarik kertas. Kebetulan si anak yang masih duduk di taman kanak-kanak, sudah mulai bisa membaca. Sehingga kenapa tidak kalau dia sendiri yang membacakan barang yang akan dibeli.  Dengan cara ini, dia tahu bahwa tak semua yang ada di supermarket harus dibeli. Pokoknya selain aktivitas ini mengasyikkan bagi anak, ternyata banyak hal manfaat yang bisa kita serap ketika belanja bareng anak. Bahkan tak jarang saya  memperkenalkan nama buah-buahan yang ada di swalayan. Tujuannya cuma memperkenalkan saja, soal membeli tentu kembali pada budgeting yang telah dibuat.

3. Perkenalkan Juga Dengan ATM.
Saya pernah menangkap tentang isi pikiran anak tentang ATM, dia pikir enak sekali bapak, kalau tak punya uang tinggal masukkan kartu ke mesin ATM lalu keluarlah jumlah uang yang diharapkan. Akhirnya saya jelaskan, nak itu uang ga bakal keluar kalau tanpa bapak menabung dulu. Kalau kamu mau, menabung saja ya. Saat ini banyak Bank yang menyediakan tabungan khusus anak dan dapat kartu ATM pula. Lagi-lagi kegiatan ini juga  sangat menyenangkan buat anak - anak.  Saya selalu ajak anak untuk membuka sendiri rekening tabungannya.  Apalagi  Bank sekarang lebih kreatif, dengan menerbitkan ATM anak-anak dengan  karakter yang diambil dari tokoh kartun yang digemarinya.

4. Dengan Menabung setiap keinginan tentu dapat tercapai. Kebiasaan ini tentunya diharapkan melekat hingga dewasa. Sehingga terhindar dari  sifat boros yang tentunya sangat tak diinginkan dilihat dari segi agamapun.
Hal ini membuat anak terdorong untuk menabung, walaupun cuma 1000 sehari.

5. Beri reward
Kalau anak menginginkan sesuatu, tapi uangnya tak cukup, sekali-kali bolehlah dikasih tambahan dari kita.

Itulah beberapa tips sederhana yang mudah-mudahan bisa dipraktekkan buat mengajak anak menabung. 

Selasa, 07 November 2017

Visit To Karang Para

                                 VISIT TO KARANG PARA SUKABUMI


Lumayan Runcing Batunya

Ketika masa jomlo, saya dan teman sebaya sering kali bertandang ke tempat ini. Bukan untuk selfie atau berkasih-kasihan, namanya juga para JOMLO hehehe... lagian, kala itu tak ada gadget seperti zaman sekarang. Kedatangan ke bukit itu, selain melepas penat  ada hal lain yang membuat kami keranjingan, yakni berburu bakal BONSAI. Itu loh pohon yang dikerdilkan di dalam pot dangkal dengan tujuan membuat miniatur dari bentuk asli pohon besar yang sudah tua di alam bebas.  Seperti hobi yang lain, orang akan berkorban apa  saja  demi sebuah hobi. Termasuk kami, dengan bekal seadannya rela menelusuri jalanan yang landai, bahkan tak jarang membuat  jalan  dulu  untuk bisa tembus ke  tempat  yang  dituju. Bebatuan runcing yang menghimpit, seolah  menjadi  saksi sebuah perjalanan sekawanan anak muda yang hari ini tak tahu kabarnya gimana.


Bonsai yang  jadi buruan, biasanya aneka beringin, kaliage, bungur dan masih banyak  jenis pohon lain yang sekiranya pantas untuk dibonsaikan. Sebenarnya hampir semua tanaman bisa untuk dikerdilkan, hanya sebagai pemula saya lebih suka yang mudah  untuk pembentukannya. Dan ketika sudah mencapai puncak, ada pemandangan indah dibawah sana. Hamparan sawah dan bukit lain di kejauhan, serta para pekerja di pabrik genteng (LIO) yang dipandang dari kejauhan sangat mungil. Dan tak jarang pula kami melihat para monyet yang sengaja berjemur atau bermain-main dengan teman-temannya.


Karang para kali ini telah berubah, menjadi ajang wisata domestik Sukabumi dan sekitarnya. Muda-mudi asik bercengkrama, Masyarakat sengaja belibur untuk menikmati alam Padaraang ini. Berselfie ria dengan latar bebatuan,  atau  sengaja berphoto masuk ke lobang  batu. Kedatangan orang berbondong-bondong ke sini, mengundang penduduk sekitar untuk  berdagang makanan. Alhamdulillah bisa meningkatkan pendapatan, dan meningkatkan indeks kebahagiaan  warga Sukabumi.



Ketika saya beberapa  bulan  lalu  ke tempat  ini, pemandangan masa lalu  serasa tergambar jelas. Berlarinya kera-kera di pepohonan kini  tak  nampak lagi. Seorang tua yang  saya tanya, dia  sendiri  tak  tahu  kenapa  kera-kera yang  biasa  bergelantungan  itu  jadi  menghilang. Bahkan  dia  berkelakar,  ”Euweuh monyet ayeuna mah diganti  ku manusa ngadon ulin di leuweung” (Tak ada Monyet, sekarang mah diganti oleh manusia yang sengaja main ke hutan).
Masuk ke area sini juga ga gratis, kalau  dulu mungkin berkali-kali masuk  juga  ga  ada  yang nyegat. Tapi hari ini, penjaga tiket akan menghadang kalau tak punya karcis untuk masuk ke areal sini. Oke-oke saja sih dengan hal ini, asal jangan dijadikan lahan yang bukan-bukan. Mungkin pengelola bisa menambahkan pepohonan agar suasana menjadi nyaman. kebutuhan toileting yang memadai dan jangan  dijadikan area mesum.





#KarangParaSukabumi #WisataMurahSukabumi



.

.

.



.



Kamis, 17 Agustus 2017

Mencari Ruh Kemerdekaan


.
Waktupun terus berlalu, tak terasa sudah masuk lagi bulan Agustus. Bulan yang sangat istimewa bagi  bangsa Indonesia. Didalamnya ada hari yang sangat dinantikan, yakni hari kemerdekaan Negeri tercinta. Bulan ini laksana memberikan pesan, bahwa Indonesia sudah merdeka. Sebuah label sebuah negara, agar terlihat eksistensinya di mata dunia.

Dua pekan  ini saya berada di sebuah desa Cidahu bilangan  Kuningan  Jawa barat. Masyarakat disini  seperti sejenak melupakan biaya listrik yang terus melambung.   Dan demi menyambut bulan bersejarah ini, mereka rela memasang lampu plip-plop sehingga suasana kampung lebih terasa hangat dan meriah. Begitupun tatkala saya  melewati jalan ke perkampungan, tiba-tiba sekelompok pemuda yang tergabung di karangtuna, mereka  menyegat perjalanan  sekedar  mengetuk hati yang lewat, agar  andil menyumbang. Bahkan ada juga dengan gaya menjual air mineral, yang keuntungannya digunakan untuk memeriahkan pesta tahunan ini. Semua dilakukan demi suksesnya agustusan.
Acara agustusan bagaikan sebuah jeda dalam sebuah perjalanan masyarakat Indonesia. Mereka meluapkan moment hingga ke setiap lini  kehidupan. Lihat saja, mall atau supermarket bahkan toko online yang kini semarak, sepertinya tak mau ketinggalan dengan menerapkan discount “MERDEKA”. Acara televisipun tak ketinggalan, nuansa acara berubah menjadi berbau kemerdekaan.

Secara de facto Indonesia sudah merdeka 72 tahun yang lalu, tepatnya 17 agustus 1945. Walaupun secara de jure, Mesir dan Palestina yang kemudian mengakui bahwa Indonesia telah merdeka sejak 18 November 1946. Dan pengakuan dari negara lain inilah yang sebenarnya akan menguatkan eksistensi sebuah negara telah merdeka. Walaupun kita tahu, perjalanan mendapatkan sebuah pengakuan ini begitu sulit. Bahkan Belanda yang pernah menjajah Indonesiapun, masih tetap melakukan  agresi militernya. Barulah pada tanggal 27 desember 1949,Belanda mengakui kalau Indonesi merupakan negara berdaulat. Ironisnya Belanda tetap tak mengakui kalau Indonesia merdeka tanggal 17 agustus 1945, tetapi pada tanggal 27 desember 1949 itulah merupakan hari kemerdekaan bangsa Indonesia. Barulah 60 tahun kemudian, yakni 17 agustus 2005 Belanda melalui perdana menterinya Bernard Rudolf Bot meminta maaf kepada masyarakat Indonesia dan mengakuinya hari kemerdekaan Indonesia jatuh pada tanggal 17 Agustus 1945.

Pertanyaan yang sering timbul, benarkah Indonesia telah merdeka? Hal ini tentunya kalau dikaitkan dengan fakta yang ada, bahwa Indonesia masih terjajah oleh bangsa lain. Sektor ekonomi dirasa  tak pernah mandiri. Kendaraan yang lalu lalang di jalanan, pesawat yang hilir mudik menghiasi angkasa kita, perlengkapan dan kebutuhan  sehari-hari yang kita gunakanpun nyaris buatan luar negeri. Tambang emas Free Port yang hanya bisa dinikmati sebagian oleh pribumi. Dan masih banyak lagi fakta didepan mata yang membuat hati menganga.

Kita bukan Afrika yang umumnya bertanah kering dan tandus, kita juga bukan bagian dari timur tengah yang selalu diterpa konflik tiada henti. Negara kita kaya raya, lihatlah  perairannya yang begitu terbentang luas dari barat hingga ke timur. Tanahnya begitu subur, sehingga menanam apa saja bisa tumbuh disini. Tapi kemandirian yang merupakan ruh kemerdekaan tak pernah rakyat rasakan. Sampai kapan negara yang memiliki cap  Agraris ini harus berhenti mendatangkan beras dan daging. Sampai kapan negeri ini mengirim tenaga kerjanya ke luar negeri, hanya berprofesi sebagai pembantu. Apakah fenomena ini pertanda Indonesia miskin? TIDAK. Karena konglomeratpun banyak juga bermunculan disini. Indonesiapun tidak bodoh. Orang cerdik pandaipun, banyak yang lahir  di negara ini. Tengoklah olimpiade iptek bergengsi, putera-puteri Indonesia sering menjadi langganan dalam meraihnya.

Lalu apa yang salah dengan negara kita? Sehingga pengamat menilai dengan  dua kemungkinan yang melanda negeri berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia ini.  Kemungkinan yang pertama, Indonesis yang salah urus, sedangkan kemungkinan kedua bisa jadi  keberkahan telah dicabut di negeri ini. wallohu’alam.

Lalu siapa yang bisa menjawab semua ini? kalau kemungkinan pertama itu benar, berarti para pengurus negara ini harus cepat bertindak. Para pengolah negara harus merombak dan mengevaluasi segala apa yang telah dilakukan. Karena di tangan merekalah semua rakyat menggantungkan harapan.  Rakyat tak perlu dikomandoi untuk menyatakan Cinta NKRI. Yang mereka butuhkan cintanya pengurus negara kepada mereka. Rakyat tak perlu disuruh pasang bendera merah putih,  begitu masuk bulan agustuspun serta merta mereka memasang bendera, umbul-umbul, lampu plip-plop, orang-orangan dan berbagai cara menyambut kemerdekaan.

Akan tetapi,  jika kemungkinan kedua yakni keberkahan atas negeri telah diangkat, yang menjawab semua ini adalah seluruh rakyat Indonesia. Kata “Berkah” itu sendiri sangat familiar di tengah-tengah kita. Kata berkah berasal dari bahasa Arab yakni al-barokah yang memiliki makna  nikmat. Sedangkan menurut istilah kata berkah memiliki arti ziyadatul khoir (bertambah kebaikan). Sementara kalau kita lihat dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata berkah bermakna,  “karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia”.

Keberkahan tak datang begitu saja, Ternyata Allah hanya akan memberi keberkahan itu kepada orang yang beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Seperti yang termaktub dalam Alqur’an yang artinya, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS 7:96).

Oleh karenanya sudah sepantasnyalah sebagai warga negara yang beriman, kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah subhnahu wata’ala. Berdoa dan berusaha setiap kesempatan agar Indonesia diberikan lagi keberkahan seutuhnya. Memperbaiki setiap pribadi ke arah yang lebih baik. Menebar kebaikan ke sesama agar Allah tambahkan selalu rasa sayang kepada negeri tercinta ini. Mendoakan selalu pengelola negara, agar diberikan keberkahan dalam menjalankan kekuasaannya. Para pendiri bangsa juga menyadari kalau kemerdekaan yang kita raih, bukan semata karena perjuangan rakyat dalam menuntut sebuah predikat Indonesia merdeka. Lihatlah pembukaan UUD 1945 alinea ketiga, disana terselip sebuah kalimat,”...atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa...”.

Mudah-mudahan keberkahan yang menurut para pengamat telah dicabut di negeri ini, kembali hadir.  Dan Indonesia yang telah merdeka sejak 72 tahun yang lalu senantiasa jaya, mandiri dan dihargai di mata dunia. (Tiesna)
#DirgahayuIndonesia

Senin, 17 Juli 2017

PAKIR SINYAL

Sedang berada di daerah fakir sinyal Kebon Randu, Surade Sukabumi

Sinyal Full berasa sebagai sebuah "Anugerah", tatkala kita merasakan tinggal di tempat yang susah sinyal.
Ini saya alami dalam tiga hari terakhir ini. Berada di sebuah desa yang boleh dibilang "Fakir Sinyal". Berbagai upaya dilakukan, berjalan sekitar kampung hanya untuk mencari sinyal data. Kalau sekedar nelpon dan Sms mah, mendingan tak mengalami kesulitan. Tapi urusan kekinian, justru orang butuh "Jaringan Internet" untuk kelangsungan hidupnya 😄.


Internet, Data, Wifi, dan istilah baru seputar online, sudah menjadi makhluk tak asing lagi. Ibaratnya sudah menjadi kebutuhan primer, bahkan menjadi kebutuhan mendesak yang tak tergantikan. Pun yang namanya "Power-bank", sepertinya telah melengkapi gaya hidup masa kini. Begitu Penting dan Berharga.


Maunya sih update, tiap moment langsung share, atau live via  Instagram atau Fb. Hehehe... tapi ya gitu, sinyal menjadi barang langka disini. Walhasil kegiatan cuma bercerita dan berkumpul di album photo dengan memory card yang nyaris full.



Sebuah pelajaran buat HIDUP, kalau ternyata hidup ini perlu charger. Hidup akan berasa Power-nya, kalau elemen penting yang ada dalam tubuh ini terus berisi dan full batre. Sehingga dia akan terus membara dan termotivasi untuk terus berkarya. 🔥💪🏻
.
Dalam hidup juga demikian, SINYAL harus tetap ada agar _Ghiroh_ tetap membara. Apalah jadinya seorang kepala rumah tangga, kalau dalam hidupnya tak memiliki hasrat lagi, padahal akan ditanya kelak pertangungjawaban. Begitu pula seorang istri, apakah bisa dia mengurus rumah tangga kalau sinyalnya meredup ditelan waktu. Ternyata sinyal harus ada, padahal tak dapat diraba. Dia tak nampak tapi terjamah oleh beningnya hati.

#SemangatPagi
#SelfReminder

Kamis, 29 Juni 2017

Nelangsa Memandang Kota Tercinta

Photo koleksi kang Rangga
APA KABAR  SUKABUMI ?
.
Kota cantik nan mungil yang berada dibawah kaki gunung Gede ini, tak mungkin bisa kulupakan begitu saja. Sebagian besar usia, dihabiskan di kota ini. Disini saya lahir dan dibesarkan, hanya  setelah menikahlah akhirnya saya meninggalkan kota tercinta ini. Tapi walaupun kemana pergi, Sukabumi akan tetap dirindukan dan tetap menjadi pilihan, apalagi di masa-masa mudik seperti ini. Barangkali bagaikan sebuah pribahasa, “Setinggi-tinggi burung bangau terbang, maka akan pulang ke kubangan juga”.  Sejauh saya merantau, toh Sukabumi akan menjadi tempat mudik utama.

.
Di kota yang penuh kenangan ini, masih banyak anggota keluarga disini. Terutama umi dan bapak yang masih ada,  walaupun usianya sudah terbilang senja. Apalagi bapak yang lahir ketika zaman “GELEDUG JEPANG” yang dia sendiri tak tahu dengan tanggal dan bulan kelahirannya. Saya sendiri tahu dari almarhum emak (sebutan kami pada nenek), kata emak,  bapak lahir di kampung Mangkalaya kecamatan Cisaat pada saat geledug  Jepang. Oh berarti tahun 1942, itu saya tebak saja setelah dicocokkan dengan pelajaran sejarah, Yang berarti sekitar 75 tahun di tahun ini usia bapak.

.
  Selain masih banyak anggota keluarga disini, puteri saya yang sulungpun menimba ilmu di pondok pesantren Yaspida Islamic Boarding School Sukabumi. Hal inilah yang membuat saya menjadi  sering bolak-balik Bandung-Sukabumi.

.
 Pada tanggal 22 Juni 2017, saya menjemput Azkiya dari pondokan, karena tanggal tersebut merupakan hari pembagian raport, dan penjemputan menjelang  libur  lebaran yang sekaligus, libur akhir tahun ajaran.
.
 Sebelum pulang inilah saya sempet chating di group wa Alumni sekolah, perihal hasrat saya untuk membelikan kerudung buat si sulung ini. Kalau bajunya sudah dibelikan ibunya beberapa hari lalu, tinggal kerudungnya yang belum sempat dibelikan. Hehehe
.
“man-teman, adakah di group ini yang jualan kerudung?” Saya mengawali pembicaraan di group itu. Sejenak ga ada yang respon, terus saya melanjutkan lagi, “saya mau beli kerudung buat puteri saya, kalau keliling di Sukabumi, jadi males lihat kota Sukabumi yang ACAKADUT”.
.

Sontak salah seorang teman alumni yang perempuan angkat bicara,”loh... koq mengecam kota sendiri? Jangan mentang-mentang sudah ga di Sukabumi main cap aja Sukabumi Acakadut”. Sayapun bergeming, sesaat ada perasaan bersalah ketika mengucapkan istilah yang disematkan untuk kota tercinta ini. Belum lagi saya memberikan pembelaan, salah seorang teman laki-laki menimpali, “Ah Tis,kau ini gimana sih? Apakah Bandung serapih Sukabumi, belum tentu kan?” gubrak.... sayapun merasa bertambah salah saja dengan ungkapan yang terlanjur itu.
.
“Oke, begini teman-teman, saya sebenarnya tak ada niat mengecam kota yang saya banggakan selama ini. Justru, hal ini saya ungkapkan karna rasa sayang  kepada kota ini. Dulu sewaktu zaman sekolah, Sukabumi tuh asri, betah dan ngangenin. Pasar Pelita yang merupakan pusat belanja tempo dulu, kini telah lenyap. Pedagang kaki lima yang membuat semrawut dan membuat mata sangat “SAREUKSEUK” tidak ada lagi kenyamanan”
.
Saya tak mengerti perhatian pemkot setempat seperti apa. Walaupun saya bukan pemilih, tapi sewaktu pilkada tempo hari, saya merasa bersyukur karena sang jagoan  dapat memenangkan kontestasi ini. Bahkan ikut mempengaruhi anggota keluarga untuk noblos pasangan yang sekarang menjadi F1 dan F2. Besar harapan agar Sukabumi lebih maju dalam segala hal, bukan kesemrawutan yang didambakan. Walaupun saya merasa yakin, kalau para inohong dan para dewan yang terhormat, pastinya lebih paham akan akar permasalahannya. Cuma izinkan saya menuangkan apa yang saya lihat,bukan apa yang sedang Anda kerjakan. Semenjak turun di terminal, saya merasa bingung harus naik angkot apa untuk menuju rumah orangtua di bilangan kampung Cigadog kelurahan Dayeuhluhur kecamatan Warudoyong. Padahal jarak terminal ke rumah ortu sangatlah dekat, Tapi akses ke tempat itu, harus dua kali naik angkot. Naik Balandongan Kota lalu nyambung kota – Koleberes. Memang ada ojek online,  tapi keamanan driver  merasa terancam katanya. Karena keberadaannya ternyata terhalang oleh keberadaan ojek pangkalan, yang merasa direbut rezekinya. Begitu yang saya rekam dari obrolan dengan  beberapa driver ojek online.
.
Sore itu, kamis 22 Juni 2017. Karena saya sudah berjanji untuk membelikan jilbab buat puteri saya, akhirnya kamipun melakukan pencarian dimulai dari arah utara tepatnya Yogya departemen store, ke arah menuju pulang ke jalan pelabuhan dua. Agenda  seperti ini harusnya menyenangkan, karena namanya juga belanja pastinya senang dong terutama bagi puteri saya. Namun Allah berkehendak lain, hujan mengguyur kota ini, sehingga gerak langkah kami tersendat karena hujan. Bingung cari tempat aman untuk menelusuri deretan toko sepanjang jalan Zaenal Jakse , karena tak ada tempat untuk berjalan. Semua sudah dirampas oleh pedagang kaki lima. Untuk berteduh sejenak saja ternyata takada tempat. Apalagi nuansa munggahan yang membuat suasana kota tambah penuh dengan orang-orang yang mau berbelanja. Alhamdulillah, akhirnya tak jauh dari bekas Matahari mall saya menemukan toko yang ramai dan agak nyaman kalau hanya sebentar saja untuk berteduh menunggu hujan reda. Tidak berniat belanja di toko ini, karena setelah saya bertanya tak menyediakan jilbab. Cuma sedikit ada rasa sakit hati, karena para pelayannya sudah menghalanginya dengan beberapa boneka peraga, sebagai pertanda kalau tokonya tak rela kalau hanya digunakan untuk berteduh saja. Insyaallah saya harus memahaminya, hanya kalau ditelisik lebih dalam, tak pernah saya temukan di masa lalu. (lagi-lagi saya membandingkan dengan masa lalu jadul amat kau Tiesna). Habis, masa lalu yang dimaksud belum lama juga loh, setidaknya 10 atau 15 tahun lalu lah, ketika dijalan mayawati masih ada telephone umum koin untuk request lagu kesukaan ke radio NBS FM hihihi....
.
Masih seputar jalan ini, tak peduli dengan berdesakkan orang-orang yang  berjibun, yang jelas kaki ini harus tetap melangkah, karena barang yang ditemukan belum didapat dan jarak ke waktu berbuka juga semakin dekat. Tapi lagi-lagi kita harus pandai melangkah, karena drainase yang tak tertata apik, atau karena ulah orang-orang yang tak bertanggung jawab sehingga membuat mampet saluran got di sepanjang jalan ini. Sehingga pejalan kaki harus ikhlas menginjakkan kakinya bercampur dengan cilencang. Jiji..... itu PASTI.
.
Selepas jalan ini,menuju jalan pelabuahn dua. Masih adakah jalan Stasiun ?  Tidak ada brader. Semua telah berubah menjadi los-los kecil para pedagang. Lagi-lagi memori berlari ke masa lalu. Angkot 08 Cisaatan masih bisa lewat kesini, macet memang iya, tapi masih standar dan tak ada jalan yang sewaktu-waktu  bisa berubah bak “SUSUKAN SAAT”. Wah luar biasa keadaan Sukabumi ini. Saya hanya berharap,  agar kota tercinta ini selalu tambah ngangenin. Magnetnya yang  dahsyat, akan selalu terpatri di hati.
.
Terimaksih buat  kang Rangga Suria Danu Ningrat yang sudah mengizinkan photo ini untuk dimuat di status saya.

#CintaKotaSukabumi
#SukabumiYangSelaluDiHati
#SukabumiKotaTercinta
#SukabumiKotaIndah