Penayangan bulan lalu

Rabu, 15 Juni 2016

EPISODE PERTAUBATAN

Bagi yang sudah berkali-kali shaum di bulan Ramadhan tentu tidak asing dengan pembagian waktu di bulan Ramadhan. 10 hari pertama, saatnya Allah memberikan Rahmat. Beruntunglah orang-orang yang pada 10 hari pertama kemarin, melakukan banyak berdoa. Insyaallah doanya terkabul.

Dan mulai nanti malam saatnya memasuki episode pengampunan. Untuk itu, akrabilah 10 hari ke-2 ini sebagai malam yang selalu diisi dengan pertaubatan. Memperbanyak sholat malam dan sholat taubat , dilanjutkan dengan memperbanyak istighfar. Serahkan segenap jiwa raga ke Maha Ghofur, kalau diri ini banyak dosa. Ampunkan dosa-dosa orang yang tercinta, terutama ke-2 orang tua, mertua, istri, anak-anak, kerabat dan rekan sejawat. Tidak rugi Kita beristighfar buat mereka.

Sahabatku, selamat berbuka puasa


OBROLAN SEPUTAR TARAWIH


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Mari  sejenak kita berbincang tentang shalat tarawih, bukan tentang  jumlah  raka’atnya, tapi apa yang sebaiknya kita lakukan saat kita menjadi  makmum. Ingatlah sejenak sabda Nabi shallaLlahu alaihi wa sallam:

مَنْ قَامَ مَعَ اْلإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَة

"Barangsiapa qiyamul lail bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis  untuknya (pahala) qiyam satu malam (penuh)." (HR. Ahmad, Abu Dawud,  Tirmidzi, Ibnu Majah, An-Nasa'i dan lain-lain).
Berapa  raka’at yang terhitung melakukan qiyamul lail semalam suntuk?   Batasannya ialah melakukan tarawih hingga selesai bersama imam, termasuk  melakukan shalat witir bersamanya. Maka jika imam shalat tarawih 11 (8  plus 3) raka’at, kita bermakmum sampai  imam selesai witir. Begitu pula  jika imam shalat tarawih 13 atau 23 raka’at. Bagi kita yang menjadi  makmum, pilihan terbaik adalah shalat bersama  imam sampai dengan  selesai; bukan soal 11, 13, 21, 23 atau 39 raka’at.

Jika ingin memilih,  maka itu sebelum melaksanakan shalat tarawih  berjama’ah. Adapun sesudah  jama'ah ditegakkan, ikuti sampai selesai.
Pilihan  terbaik adalah shalat mengikuti imam sampai selesai dengan  sempurna.  Adapun imam sepatutnya shalat dengan tuma'ninah dan khusyuk. Ini sangat  penting untuk diperhatikan karena tuma'ninah merupakan rukun shalat,  sehingga tidak sah shalat jika tidak tuma'ninah meskipun ayat yang  dibaca saat shalat sangat panjang. Berapa pun jumlah raka'atnya, imam  harus melakukan shalat dengan tuma'ninah dan memungkinkan makmum untuk  mengikutinya secara tuma'ninah pula. Tentu saja imam perlu membaca ayat  demi ayat secara tartil dan jelas, tak peduli ia memimpin tarawih 11,  13, 21, 23, 39, 41 ataukah 49 raka'at.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَسْوَأُ  النَّاسِ  سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ، قَالُوْا: يَا  رَسُوْلَ اللهِ  وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟ قَالَ: لاَ يُتِمُّ  رُكُوْعُهَا وَلاَ  سُجُوْدُهَا.
“Sejahat-jahat pencuri adalah yang mencuri dari shalatnya.” Para  sahabat bertanya, “Ya Rasulallah, bagaimana mencuri dari shalat?” Rasulullah berkata, “Dia tidak sempurnakan ruku' dan sujudnya.” (HR Ahmad).

Di  masa Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu, beliau pernah   mengumpulkan para qari' dan menggariskan kebijakan jumlah ayat. Umar bin  Khaththab radhiyallahu 'anhu meminta qari yang bacanya cepat  agar  membaca 30 (sekitar 3 halaman mushhaf), yang sedang 25 & yang   lambat 20 ayat (2 halaman mushhaf) tiap raka’at. Jangan bayangkan yang  cepat bacanya seperti dikejar musuh sehingga  tarawih selesai dalam 20  menit. Tetap tartil dan tidak tergesa-gesa. Mereka melakukan ruku' dan  sujud dengan sempurna, tuma'ninah. Tidak  serupa orang salto. Ini yang  kadang terabaikan saat mengejar jumlah.

Jadi, mana yang  paling baik? Yang sempurna gerakannya, tuma'ninah,  khusyuk dan  bacaannya baik tidak tergesa-gesa; 11, 23 atau 39 raka’at.
Imam  Syafi’i mendapati shalat tarawih pada masa beliau jumlah raka’atnya  23  di Makkah dan 39 di Madinah. Bagaimana komentar beliau?

"Seandainya mereka memanjangkan bacaan dan menyedikitkan bilangan sujudnya, maka itu bagus," kata Imam Syafi’i, "Dan seandainya mereka memperbanyak sujud dan meringankan bacaan, maka itu juga bagus; tapi yang pertama lebih aku sukai."

Perkataan Imam Syafi’i rahimahullah sebagaimana termaktub dalam Fathul  Bari ini menunjukkan, yang lebih  sempurna itu lebih utama. Jumlah raka'at lebih sedikit, tetapi bacaan  lebih panjang dan sujud pun lebih sempurna, maka yang demikian ini lebih  baik daripada shalat dengan bilangan raka'at lebih banyak. Pada saat yang sama kita memperoleh pelajaran bahwa sosok semacam Imam Syafi'i memilih untuk tetap mengikuti imam sampai dengan selesai ketika mendapati jumlah raka'atnya 39, meskipun beliau lebih menyukai yang lebih sedikit disebabkan lebih memanjangkan bacaan.

Yang paling baik bukanlah yang paling banyak bilangan raka’atnya, tetapi yang paling sempurna shalatnya. Semoga Allah Ta'ala ridhai. Ingatlah sabda Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ

"Betapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga  saja. Betapa banyak pula yang shalat malam, hanya menjadi begadang di malam hari.” (HR. Ahmad).

Alangkah sia-sia shalat yang semacam itu. Mereka berpenat-penat, tapi tidak  memperoleh kebaikan apa pun. Mereka melaksanakan shalat tarawih, berjama'ah pula, tapi tak memenuhi ketentuan untuk tuma'ninah sehingga sia-sialah shalatnya. Tak ada yang mereka dapatkan selain capeknya begadang.
Marilah kita ingat ketika Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam mengoreksi seseorang yang melakukan  kesalahan dalam shalatnya. Beliau bersabda:

إِذَا  قُمْتَ إِلَى  الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ  مِنْ الْقُرْآنِ  ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ  حَتَّى  تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا  ثُمَّ  ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى  تَطْمَئِنَّ  سَاجِدًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا

“Jika engkau hendak mengerjakan shalat maka bertakbirlah, lalu bacalah ayat Al-Qur'an yang mudah bagimu. Kemudian ruku'lah sampai benar-benar ruku' dengan tuma'ninah, lalu bangkitlah (dari ruku') hingga kamu berdiri tegak. Setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud dengan tuma'ninah, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk sampai benar-benar duduk dengan tuma'ninah, setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud,  Kemudian lakukan seperti itu pada seluruh shalatmu.” (HR Bukhari dan Muslim).
Lihatlah,  betapa pentingnya melakukan gerakan secara sempurna dan tiap-tiap bagian kita lakukan secara tuma'ninah. Inilah yang sangat penting. Jika kita memilih mengikuti jumlah raka'at shalat tarawihnya Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam, maka itu sangat baik sejauh kita melakukannya secara tuma'ninah. Tapi jika sekiranya menghendaki shalat tarawih dengan bilangan raka’at yang banyak dan tetap tuma'ninah, dapat memilih 41 atau 49 raka’at. Shalat tarawih 41 raka’at ini berdasarkan persaksian Shalih Mawla  At-Tau'amah tentang shalat tarawihnya penduduk Madinah di masa itu. Shalat tarawih dilakukan 38 raka’at plus 3 raka’at witir. Bisa juga 40 raka’at tarawih plus 9 raka’at witir. Yang  terpenting: sempurna.

Jadi jika menganggap lebih banyak  lebih baik, pilihlah 49 raka’at dengan khusyu', tuma'ninah dan bacaannya tartil tidak tergesa-gesa. Sepanjang saya ketahui, 49 inilah  jumlah raka'at terbanyak yang terdapat riwayat dilakukan oleh orang-orang shalih terdahulu. Ini jika konsisten dengan perkataan "lebih  banyak lebih baik". Saya sendiri tidak siap melaksanakan shalat tarawih 49 raka'at secara tuma'ninah dan sempurna Karena itu, saya memilih yang  lebih ringan, tetapi riwayatnya lebih kuat.

Kembali  pada persoalan semula, yakni shalat tarawih berjama’ah. Jika  ingin  mendapat pahala qiyamul lail semalam suntuk, ikutilah imam sampai  selesai shalat witir. Jika imam 11 raka’at dan Anda biasanya 23 raka’at,  cukupkan 11 raka’at  saja. Jangan menganggap tidak ada tarawih yang  kurang dari 20. Justru dengan mengikuti imam sampai selesai, kita  mendapatkan pahala  qiyamul lail semalam suntuk. Bukankah Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam yang menjadi contoh?
Jika Anda biasanya shalat tarawih 11 (8+3), lalu mendapati imam shalat 23  raka’at, ikuti pula sampai selesai secara sempurna. Jangan sekali-kali mengira bahwa terlarang shalat tarawih di atas 11 raka’at. Bukankah banyak riwayat yang dapat kita pedomani?
Semoga bincang sederhana ini bermanfaat dan barakah. Saatnya kita membersihkan niat. Bukan mengotori dengan menguatkan 'ashabiyah alias fanatisme golongan. Bukankah akan lebih utama  jika kita mendapatkan pahala terbaik dan di saat yang sama mengokohkan  persaudaraan sesama muslim?
Lalu berapa raka’at shalat tarawihnya Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam? Berdasarkan riwayat yang shahih, kita dapati bahwa beliau melaksanakan shalat 11 raka’at. Beliau juga menunaikan shalat 13 raka’at. Dan bahkan kita mendapati riwayat bahwa beliau pun pernah shalat dengan mengawalkan shalat witir sejumlah 9 raka’at ditutup dengan shalat 2 raka’at.
Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan kepada kemenakannya tentang shalat yang dilakukan oleh Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam:
كُنَّا نُعِدُّ لَهُ، سِوَاكَهُ، وَطَهُورَهُ، فَيَبْعَثُهُ اللَّهُ مَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَهُ مِنَ اللَّيْلِ، فَيَتَسَوَّكُ، وَيَتَوَضَّأُ، وَيُصَلِّي تِسْعَ رَكَعَاتٍ، لَا يَجْلِسُ فِيهَا إِلَّا فِي الثَّامِنَةِ، فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يَنْهَضُ، وَلَا يُسَلِّمُ، ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّ التَّاسِعَةَ، ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ، ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمًا يُسْمِعُنَا، ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِّمُ وَهُوَ قَاعِدٌ، وَتِلْكَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يَا بُنَيَّ، فَلَمَّا أَسَنَّ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَخَذَ اللَّحْمَ، أَوْتَرَ بِسَبْعٍ وَصَنَعَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ مِثْلَ صَنِيعِهِ الأَوَّلِ، فَتِلْكَ تِسْعٌ يَا بُنَيَّ
“Kami mempersiapkan siwak dan air wudhu beliau. Bila Allah membangunkan beliau pada waktu yang dikehendaki di malam hari, beliau bersiwak dan berwudlu, kemudian shalat sembilan raka’at tidak duduk tasyahud kecuali pada raka’at kedelapan. Beliau berdzikir, memuji Allah, dan berdo’a (membaca tasyahud), kemudian beliau bangkit dan tidak salam meneruskan raka’at kesembilan. Kemudian beliau duduk, berdzikir, memuji Allah, dan berdoa, kemudian salam dengan satu salam yang terdengar oleh kami. Setelah itu beliau shalat dua raka’at sambil duduk. Jadi jumlahnya 11 raka’at, Wahai Anakku. Ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah tua dan gemuk, beliau berwitir tujuh raka’at, kemudian dua raka’at setelahnya dilakukan seperti biasa, maka jumlahnya sembilan, Wahai Anakku.” (HR. Muslim).
Nah. Semoga catatan ringkas ini bermanfaat. Semoga kita dapat mempelajari dan mendiskusikannya dengan baik. Diskusi itu lebih mudah ketika mengedepankan ilmu dan kebenaran. Bukan ego pribadi maupun kelompok. Wallahu a’lam bish-shawab.
Catatan ini pernah saya posting tahun lalu. Saya posting ulang saat ini dengan sedikit penyempurnaan.

Selasa, 14 Juni 2016

SURGA MERINDUKAN WANITA YANG ......



Tidaklah sulit bagi wanita, kalau ingin mendapatkan istana megah sekelas surga. Semua keinginan yang terpatri dalam hati, pastinya dapat kau dapatkan. Syaratnya ada empat, seperti tersirat dalam sebuah hadist yang termashur.

 Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda: “Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita tersebut, “Masuklah ke surga melalui pintu manapun yang engkau suka.” (HR. Ahmad)




MENJAGA SHALAT LIMA WAKTU…

Shalat merupakan rukun Islam kedua. Shalat juga merupakan pembeda antara orang mukmin dengan orang kafir. Setelah seseorang bersyahadat dan beriman, maka bukti keimanannya yang pertama adalah menjalankan shalat. Shalat juga merupakan amal pertama yang akan dihisab di akhirat kelak. Jika shalat seseorang baik, insya Allah amal yang lain baik. Jika shalat seseorang buruk, maka tak berguna amal lainnya.

BERPUASA DI BULAN RAMADHAN…

Puasa di bulan Ramadhan adalah rukun Islam ketiga. Ia wajib ditunaikan oleh setiap muslimah yang telah baligh. Jika di bulan Ramadhan seorang muslimah berhalangan puasa karena haid, ia wajib menggantinya di bulan lainnya.

MENJAUHI ZINA…

Zina merupakan dosa besar yang sangat keji. Karenanya jika larangan lain tidak diperbolehkan, larangan zina bukan hanya sekedar melarang zina tetapi juga melarang mendekati zina. Misalnya pacaran, ikhtilath, atau menggoda lawan jenis yang bukan suaminya.

TAAT KEPADA SUAMI…

Dalam Islam, suami adalah pemimpin atas istrinya. Ia wajib ditaati sepanjang tidak dalam rangka bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

BERSYUKURLAH PAK



        Di hari ke tujuh ramadhan ini, pemandangan sore hari di kota Bandung begitu meriah. Titik keramaian menjadi pusat ngabuburit, berbagai aneka hidangan khas berbuka disajikan. Sementara saya berada dalam jebakan kemacetan di jalur fly over Pasupati.

"Aduh, gimana ini kalau belum nyampai rumah, tapi sudah adzan maghrib, kasihan mereka yang nunggu di rumah pasti ngarep banget berbuka dengan yang saya bawa".

"A, pake jalan pintas ya, ga apa-apa nerobos ke gang?" Driver gojeg seolah paham apa yang ada di benak saya.

"Boleh banget A, yang penting bisa cepet sampai ke rumah"

Si driver mengangkat jempolnya tanda sepakat. Motor pun melaju, menerobos gang demi gang yang ada di sekitar cihampelas. Dan, Subhanalloh tak perlu nunggu lama, saya sudah berada di wilayah Sukajadi. Itu pertanda, saya bisa berbuka bareng dengan keluarga.

Benar saja, lima menit menjelang adzan sudah tiba di rumah.
"Alhamdulillah"
Gumamku sembari bayar ongkos gojeg ditambah sedikit uang tambahan, sebagai tanda terimakasih.

Mereka anak-anak dan istri sudah menanti dari tadi. Si sulung bilang, kalau berkali-kali nelpon tapi tak sempet saya angkat. Maklum saja, ga konsentrasi ke Handphone.

Jelang beberapa jenak,  adzan Maghrib berkumandang. Menambah suka cita bagi orang yang berbuka. Alhamdulillah betapa besar nikmat yang Engkau berikan ya Robb. Sop buah yang kami reguk, Membasahi batang kerongkongan yang dari tadi kami tahan. Sekelebat terbayang bagaimana nikmatnya minuman surga, yang sebenarnya sulit terbayangkan.
===================
Sepenggal kisah diatas,  hanyalah kisah biasa dan tidak ada istimewanya. Semua orang bisa saja mengalami, walaupun beda redaksinya.

Karena biasa itulah, kita senantiasa mengabaikan, padahal itu adalah nikmat yang patut kita syukuri.
Cobalah kalau sekenarionya di
ubah sedikit saja, misalnya tiba-tiba driver gojegnya tak tahu jalan pintas. Apa yang terjadi ? Tentu saya tak bisa buka bersama keluarga, dan harus rela ngantri di jalanan karena macetnya.

Banyak pelajaran yang kita harus jeli memaknainya. Dan dengan kejelian itulah, maka akan lahir sifat yang selalu bersyukur atas nikmat yang Allah berikan.
Saudaraku sekalian, selamat berbuka puasa. Dan semoga kita selalu diberi kekuatan.

Senin, 13 Juni 2016

KEMBALILAH KE ALQURAN SEBAGAI MINHAJUL HAYYAH

"Menjadikan Alquran sebagai Minhaajul hayyah (Pedoman Hidup) adalah sebuah keharusan bagi muslim Indonesia agar bangkit dari keterpurukan" Demikian dikatakan Ust. Muhammad Sodiq di acara Liqo Gabungan, yang merupakan rangkaian Ansyitoh Ramadhan, Sukajadi kota Bandung (ahad, 12/06/2016).
Bertempat di Graha Sejahtera jl. H. Yasin 36 Kota Bandung, liqo gabungan dimulai pukul 10.00, setelah diawali dengan tilawah bareng yang dikomandoi oleh Ust. Sumitra Abu Zaky.
"Alhamdulillah, peserta cukup banyak, dan yang hadir kali ini datang dari 20 group halaqoh ikhwan dan akhwat, yang ada di Sukajadi". Demikian ungkap ust. Asep Rohmat sebagai ketua penyelenggara liqo gabungan ini.
Materi yang disampaikan ustadz M. Shodiq ini bertujuan mengajak jamaah,  agar senantiasa mencontoh bagaimana Ashabul awalun dalam perlakuan terhadap Alquran, dimana kekhasan mereka selalu "sami'na Wa atho'na" atas apa yang disampaikan Rosululloh.
Beliau mencontohkan 3 riwayat, tentang ghiroh sahabat kala mendengar perintah dari Alquran.
1. Ketika Rasululloh menyampaikan larangan khamr (miras), para sahabat langsung menumpahkan khamrnya. Tak peduli berapa harganya, baik yang produksi atau yang konsumsi. Padahal khamr merupakan yang sangat digandrungi kaum Arab pada saat itu. Sampai-sampai ada penyair yang menggubah syairnya seperti ini,
"Wahai kalau aku mati, kuburkanlah aku di bawah pohon anggur, agar tulang-tulangku bisa merasakan nikmatnya buah anggur"
Syair itu melambangkan cintanya orang Arab pada khamr, tapi begitu datang ayat pelarangan, mereka langsung menuruti titah Rasulullah.
2. Ketika turun ayat wajibnya menggunakan busana muslimah, maka serta merta mereka menarik segala yang ada, walaupun gordyne atau seprei tempat mereka tidur. Tapi demi kecintaannya pada Alquran mereka langsung melaksanakan.
3. Kisah pengantin baru "Sahabat Hanzhalah", di tengah mereguk manisnya bulan madu, lalu Rasulullah datang ke depan rumahnya sembari mengutip dua ayat dari QS Asshof tentang seruan jihad, maka dengan serta merta Hanzhalah langsung keluar dan bergabung dengan para mujahid lainnya. Tak peduli dengan istri tercintanya, tak peduli dengan nikmatnya pengantin baru. Dan didalam perang berkecamuk, beliau ditaqdirkan syahid di jalan-Nya. Allahu Akbar.
Haru biru dan penuh tanya para sahabat, karena jasad Hanzhalah berbeda dengan syuhada yang lain. Hanzhalah syahid dengan keadaan basah kuyup, dimandikan para Malaikat karena sebelum berjihad beliau belum sempat mandi Junub.
Itulah contoh pada era ashabul awwalun yang lebih familiar sebagai masa "Khoerul Ummah" (Sebaik-baiknya Ummat)
Sedangkan pada contoh kontemporer, ust Shodiq mengajak  menengok masa kejayaan Andalusia di Eropa Barat. Karena Alquran dijadikan Minhaajul hayyah, maka selama 800 tahun Islam pernah berjaya di negeri Sepanyol sekarang ini. Adalah Thoriq bin Jiyad, yang menaklukkan dan menguasai Andalusia hingga islam mewarnai segala sisi kehidupan disana.
Di bidang teknologi, di Andalusia ada masjid di bilangan Cordova yang menerapkan teknologi AKUSTIK, dimana kecanggihannya sangat spektakuler yaitu dengan tanpa pengeras suara, orang yang paling pojok sekalipun dapat mendengar khotib yang berada di depan. Luar biasa di masa lampau tapi sudah ada teknologi maha karya sebagus itu.
Beberapa cendekiawan muslim  besar telah tergores dengan tinta emas di sepanjang zaman dan menjadi peletak pondasi kebangkitan barat di kemudian hari.
Tapi hal itu tinggal kenangan, karena kemudian masyarakat Andalusia lupa dan melupakan Alquran. Ditambah masuknya Ghozwul Fikri berupa alat musik "Gitar" yang merambah ke seantero negeri Andalusia saat itu. Dan menghipnotis masyarakat menjadi menyenangi alat musik ini. Sehingga lambat laun Andalusia menjadi hancur dan Islam hanya sebagai kebanggaan muslimin di masa lalu.
Ustadz juga menyitir ungkapan salah seorang orientalis barat yang jujur, yang mengatakan, "Andai saja Thoriq bin Jiyad saat itu bisa menaklukkan bukan Eropa Barat saja, tapi seluruh daratan Eropa, maka sudah dipastikan, bahwa ilmu dan Teknologi saat ini, sudah maju 5 abad dibandingkan dengan sekarang".
Hampir delapan abad lamanya Islam berkuasa di Andalusia sejak tahun 711 M hingga berakhirnya kekuasaan Islam di Granada pada tanggal 2 Januari 1492 M. Menyadari tentang jatuhnya keemasan Islam seperti itu, ustadz Shodiq merasakan kekhawatirannya kalau hal ini terjadi di Indonesia. Karena muslim di sini, sudah mirip dengan masa kejatuhannya Andalusia atau spanyol.
Di Indonesia, Alquran sudah beralih fungsi, hanya sebagai hiasan belaka dan sudah langka mentadhaburi. Ada juga yang mau membaca Alquran hanya disaat ada kematian saja.
Agar Alquran tetap eksis di dada kita, maka ada 4 aktivitas yang harus dilakukan seorang Muslim.
1. Qiroah, dawam membaca Alquran.
2. Mentadabburi Alquran
3. Tafa'ul : melaksanakan Alquran
4. Adda'wah : mendakwahkan Alquran.
Dalam prakteknya, selalu saja ada penghalang mendakwahkannya. Oleh karenanya, setidaknya harus mengetahui dulu alasan para sahabat, sehingga tanpa beban melakukannya.
Mengapa para sahabat selalu bersegera dalam memdakwahkan Alquran ?
1. Mereka tahu kemuliaan tentang Alquran,
2. Mereka tahu dakwah berat, tapi hasilnya membentuk khoerul ummah
3. Mereka tahu kalau pahala dakwah itu besar.
Di akhir tausiyahnya Ustadz M. Shodiq memberikan tips berdakwah, agar dalam mendakwahkan Alquran, yang paling utama adalah kita harus pernah melakukannya. Jangan sampai kita menyuruh berbuat kebaikan tapi tak pernah melakukannya.
Sebagai contoh beliau bertutur, bahwa pada suatu ketika ada ulama besar bernama Hasan Al-Basri. Ulama besar ini diundang para budak untuk ceramah, dengan tema yang dipesan mereka yaitu "Keutamaan Membebaskan Budak".
Akan tetapi setiap ceramah, Hasan al-Basri belum.pernah berdakwah dengan tema yang dipesan para budak tersebut. Sehingga sempet menimbulkan kecurigaan. Baru setelah rutin berdakwah pada hitungan ke 4-bulan, baru ulama tersebut membawakan tema "Keutamaan Membebaskan Budak".
Dan setelah dikonfirmasi, mengapa membawakan tema tersebut setelah sekian lama ?
ulama tersebut menjelaskan, bahwa  "saya baru membebaskan budak setelah beberapa hari, makanya saya berani mendakwahkan karena sudah mengalaminya"

Sabtu, 11 Juni 2016

SEPENGGAL KISAH DI BALIK TARAWIH

Apa yang ada dibenak anda ketika mendengar kata "Tarawih" ?
Pasti sederetan kalimat ini ada yang cocok dengan isi kepala anda.
"Tarawih adalah sholat dengan pola gerak cepat". (Hehehe... Ini versi penulis)

"Tarawih adalah yang secara teknis jumlah rakaatnya selalu berbeda-beda, ada yang 11 dan ada yang 23" (betul kan?)

"Tarawih itu dilaksanakan ba'da isya"
(Ini pasti banyak yang sepakat)

Pokoknya pasti banyak deh, yang berseliweran di kepala kala ingat kata "Tarawih"
Yang pasti shalat sunah ini hanya ada di bulan Ramadhan.

Di masjid Nurul Anwar di bilangan kecamatan Sukajadi, untuk malam ke-5 ternyata sudah mulai mengalami penumbangan personil, satu per satu ada tempat yang kemarin ada, malam ini menghilangkan jejak.
Bagi kaum hawa tentunya wajar saja karena ada siklus yang tak terbendung sehingga ada halangan.

Dan ternyata, lucu juga ya kalau merhatiin yang tarawih, selalu saja ada yang bisa bikin berita. Contohnya puteri saya, habis tajil, dia langsung ke Mesjid bawa sajadah dan mukena dua buah. Satu yang akan dipakai dirinya, dan satu lagi akan digunakan ibunya.

"Teh, sibuk amat sih, baru aja berbuka sudah mau tarawih saja?"
"Aku mah cuma ngasih tanda doang koq, jadi ke masjid gelar sajadah dan mukena, Kalau ga begitu, biasanya ga kebagian tempat abi"

Kalau yang jamaah pria mah, santai-santai saja sepertinya. Mau kebagian tempat syukur, Ga kebagian tempat juga bisa gelar Koran di luar yang penting ikutan tarawih.

Cuma ya gitu, yang pria ini kadang suka merusak pemandangan, tahu sudah iqomah, tetap saja ada yang mencoba menghabiskan puntung rokoknya.

Lain orangtua, lain pula anak-anak, mereka sepertinya datang ke masjid tapi niatnya ngeramain doang. Ada yang main petasan, ada yang lari-larian, ada yang sibuk dengan kerupuk ojaynya juga, dan ada juga menangis berantem sama temennya.

Ketika jeda antara Isya dan Tarawih, kehebohan terdengar dari arah belakang, ternyata ada salah seorang jamaah yang anak balitanya keluar pas ibunya sholat.
Sudah pasti bagaimana riweuhnya sang ibu dan spontan keluar.

"Zahra..... Zahra.... Zahra.. dimana kau?"
Si ibu terus mencari dengan ketegangan sangat di roman mukanya.

Seorang bapak  menghantarkan Zahra, yang ternyata si anak  pergi karena jajan ke warung yang tak jauh dari masjid.

Begitulah satu sisi kehidupan seorang anak, orang tua yang galau, sementara anak enjoy saja.

Sholat tarawih dimulai, beberapa jamaah laki-laki ada yang pindah posisi dari tempat waktu sholat isya. Alasannya pun aneka rupa, ada yang merasa nyaman kalau duduk di belakang, ada juga yang beralasan, supaya pas 8 rakaat selesai, bisa pulang duluan. Karena di masjid Nurul Anwar menggunakan sistem 20 rakaat tarawih plus 3 rakaat Witir.

Kalau untuk jamaah perempuan, penulis tak tahu banyak yang jelas di ruang shalat perempuan tingkat berisiknya lebih tinggi dan tiap salam selalu kedengaran yang jadi cerita. Berbanding terbalik dengan jamaah laki-laki yang lebih santai. Paling gaduhnya saat beberapa anak yang dengan naluri bermainnya terkadang bikin melotot para bapak.

Tarawih yang hanya dilakukan tiap Ramadhan ini, terkadang dapat mempererat tali silaturrahim. Orang yang di hari biasa tak ke Masjid, tapi untuk tarawih sengaja menyempatkan diri. Setidaknya di sesi pas mau pulang,  ada edisi "Salam-salaman" sehingga hal ini dapat mempererat kekeluargaan.

Tidak banyak berubah bila dibandingkan dengan Tarawih sebelumnya. Sesi pembacaan doa niat shaum,  membuat anak-anak mengencangkan suara setengah teriak.

Di saat jamaah berhambur keluar, sepertinya harus ada yang menata sendal seperti di Masjid Daaruttauhid Gegerkalong, yang selalu rapih dalam tata letak sandal. Sehingga si empunya sandal gampang mengenalinya.

Masih di area masjid, barangkali karena berada di era gadget seperti sekarang, sepulang tarawih ada saja yang mengabadikan moment ini untuk berselfie ria. Terutama kaum ABG dengan khas keceriaannya yang seperti tak mengindahkan dengan keadaan. Bahkan beberapa muslimah, masih berada di areal  masjid, saat itu pula mempreteli kembali jilbabnya. Ya, bisa dimaklumi karena pancaran iman belum menghunjam kuat ke dadanya. Dan sebagai orang tua sudah sangat layak untuk terus menuntun, mengajak dan membina ke arah yang lebih baik.

YUK TARAWIH


YUK TARAWIH BIAR TAMBAH  DISAYANG ALLAH
                            
from Google

Apa yang ada dibenak anda ketika mendengar kata "Tarawih" ? Pasti sederetan kalimat ini ada yang cocok dengan isi kepala anda.
"Tarawih adalah sholat dengan pola gerak cepat". (Hehehe... Ini  versi  penulis)
"Tarawih adalah yang secara teknis jumlah rakaatnya selalu berbeda-beda, ada yang 11 dan ada yang 23" (betul kan?)
"Tarawih itu dilaksanakan ba'da isya". (Ini pasti banyak yang sepakat)
Pokoknya pasti banyak deh, yang berseliweran di kepala kala ingat kata "Tarawih". Yang pasti shalat sunah ini hanya ada di bulan Ramadhan.

Di masjid Nurul Anwar di bilangan kecamatan Sukajadi, kota Bandung, tepatnya di RT 01 RW 03 kelurahan Sukagalih.  Untuk malam ke-5 ternyata sudah mulai mengalami penumbangan personil, satu per satu ada tempat yang kemarin ada, malam ini menghilangkan jejak. Bagi kaum hawa tentunya wajar saja karena ada siklus yang tak terbendung sehingga ada halangan.
Dan ternyata, lucu juga ya kalau merhatiin yang tarawih, selalu saja ada yang bisa bikin berita. Contohnya puteri saya, habis tajil, dia langsung ke Mesjid bawa sajadah dan mukena dua buah. Satu yang akan dipakai dirinya, dan satu lagi akan digunakan ibunya.
"Teh, sibuk amat sih, baru aja berbuka sudah mau tarawih saja?"
"Aku mah cuma ngasih tanda doang koq, jadi ke masjid gelar sajadah dan mukena, Kalau ga begitu, biasanya ga kebagian tempat ".
Kalau yang jamaah pria mah, santai-santai saja sepertinya. Mau kebagian tempat syukur, Ga kebagian tempat juga bisa gelar Koran di luar yang penting ikutan tarawih.
Cuma ya gitu, yang pria ini kadang suka merusak pemandangan, tahu sudah iqomah, tetap saja ada yang mencoba menghabiskan puntung rokoknya.
Lain orangtua, lain pula anak-anak, mereka sepertinya datang ke masjid tapi niatnya ngeramain doang. Ada yang main petasan, ada yang lari-larian, ada yang sibuk dengan kerupuk ojaynya juga, dan ada juga menangis berantem sama temennya.
Ketika jeda antara Isya dan Tarawih, kehebohan terdengar dari arah belakang, ternyata ada salah seorang jamaah yang anak balitanya keluar pas ibunya sholat.
Sudah pasti bagaimana riweuhnya sang ibu dan spontan keluar.
"Zahra..... Zahra.... Zahra.. dimana kau?" Si ibu terus mencari dengan ketegangan sangat di roman mukanya. Seorang bapak  menghantarkan Zahra, yang ternyata si anak  pergi karena jajan ke warung yang tak jauh dari masjid.
Begitulah satu sisi kehidupan seorang anak, orang tua yang galau, sementara anak enjoy saja.
Sholat tarawih dimulai, beberapa jamaah laki-laki ada yang pindah posisi dari tempat waktu sholat isya. Alasannya pun aneka rupa, ada yang merasa nyaman kalau duduk di belakang, ada juga yang beralasan, supaya pas 8 rakaat selesai, bisa pulang duluan. Karena di masjid Khairul Anwar menggunakan sistem 20 rakaat tarawih plus 3 rakaat Witir.
Kalau untuk jamaah perempuan, penulis tak tahu banyak yang jelas di ruang shalat perempuan tingkat berisiknya lebih tinggi dan tiap salam selalu kedengaran yang jadi cerita. Berbanding terbalik dengan jamaah laki-laki yang lebih santai. Paling gaduhnya saat beberapa anak yang dengan naluri bermainnya terkadang bikin melotot para bapak.
Tarawih yang hanya dilakukan tiap Ramadhan ini, terkadang dapat mempererat tali silaturrahim. Orang yang di hari biasa tak ke Masjid, tapi untuk tarawih sengaja menyempatkan diri. Setidaknya di sesi pas mau pulang,  ada edisi "Salam-salaman" sehingga hal ini dapat mempererat kekeluargaan.
Tidak banyak berubah bila dibandingkan dengan Tarawih sebelumnya. Sesi pembacaan doa niat shaum,  membuat anak-anak mengencangkan suara setengah teriak. Dan para orang tua sebenarnya banyak yang merasa lega juga di sesi terakhir ini.
Di saat jamaah berhambur keluar, sepertinya harus ada yang menata sendal seperti di Masjid Daaruttauhid Gegerkalong, yang selalu rapih dalam tata letak alas kaki. Sehingga si empunya sandal gampang mengenalinya.  Masih di area masjid, barangkali karena berada di era gadget seperti sekarang, sepulang tarawih ada saja yang mengabadikan moment ini untuk berselfie ria. Terutama kaum ABG dengan khas keceriaannya yang seperti tak mengindahkan dengan keadaan. Bahkan beberapa muslimah, selepas dari masjid, saat itu pula mempreteli kembali jilbabnya.
#miris

Bandung, 11 juni 2016