Penayangan bulan lalu

Rabu, 15 Maret 2017

YASPIDA MENJAWAB TANTANGAN ZAMAN


             
salah satu asrama pondok Yaspida yang asri, bersih dan nyaman



Mendengar kata Pesantren, orang biasanya membayangkan sebuah lembaga pendidikan yang super ketat aturan,  tempat  membentuk seseorang berkarakter  islami yang  berakhlakul karimah serta  pemahaman agama yang lebih dalam. Keberadaan pesantren sudah tak diragukan lagi sebagai bagian dari elemen pembentuk masyarakat agar terhindar dari hal negatif  yang akan merusak tatanan kehidupan.


Dalam zaman yang serba modern ini, segala hal bisa didapatkan dengan mudah. Orang sering bilang inilah yang disebut era digital, era globalisasi atau apapun namanya ternyata telah menyumbangkan efek positif dalam berbagai segi kehidupan. Namun dibalik semua itu ketahanan keluarga sangat dibutuhkan dan terus bahu membahu untuk membentengi anggota keluarganya dari efek negatif modernisasi.


Atas dasar itulah maka dibutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, mandiri, kreatif dan tangguh dalam mengisi kehidupan kedepannya. Dan peran pesantren sangat dibutuhkan untuk menjawab tantangan ini.


Kenapa Pesantren?
Karena disana tempatnya orang menimba ilmu bukan hanya sein atau  iptek saja tapi wawasan keagamaan yang merupakan tonggak utama dalam kehidupan diajarkan. Sehingga ada keseimbangan yang cantik dalam mewujudkan seseorang menjadi pribadi unggul dan berakhlaqul karimah. Dan kwalitas diri seperti inilah yang diperlukan sebagai penerus tonggak sejarah dan menjaga harga diri bangsa di mata dunia.


Itulah sebabnya, maka di medio Januari 2017 saya mendaftarkan  Azkiya yang usianya belum genap 13 tahun ini untuk dimasukkan ke pesantren Yaspida Sukabumi. Tadinya sempat tak percaya diri karena khawatir Azkiya tak dapat mengikuti pelajaran di pondok karena masuk tidak dari awal tahun pelajaran. Dan tawar menawar pun sempat muncul antara anak dan orangtua. Maklum saja karena dengan hidup di pondok pesantren sudah barang tentu dia akan kehilangan haknya yang biasa didapatkan di rumah. Beruntung saya yang pernah mondok di Pondok Pesantren Daarul Mutaallimin di bilangan Sukaraja Sukabumi, sehingga bisa menceritakan kalau pesantren bukanlah sesuatu yang menyeramkan. Bahkan banyak nilai plus yang didapat, diantaranya bisa berkenalan dengan lebih banyak orang dari seantero pelosok Nusantara. Dan alhamdulilah di era sosialita sekarang, saya masih bisa merasakan sensasi silaturrahim di group medsos bersama teman-teman nyantren di pondok dulu.


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pesantren memiliki arti asrama atau tempat santri belajar mengaji atau menuntut ilmu agama islam. Ada juga yang mengartikan bahwa pesantren adalah suatu lembaga pendidikan Islam Indonesia yang bersifat "tradisional" untuk mendalami ilmu tentang agama Islam dan mengamalkan sebagai pedoman hidup keseharian.
                                                                                                                                 
Pondok pesantren secara definitif tak dapat diberikan batasan yang tegas melainkan terkandung fleksibilitas pengertian yang memenuhi ciri-ciri yg memberikan pengertian pondok pesantren secara komprehensif.
Bahkan dalam perjalanannya pondok pesantren yang pada awalnya dianggap sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional, kini mulai berubah karena sentuhan kekinian ada didalamnya.

           Alhamdulillah pada awal maret tepatnya tanggal 4 Maret 2017, ada silaturahmi akbar antara orangtua santri dan pihak pondok pesantren. Antusiasme untuk mendatangi acara tersebut, sangat saya nantikan dengan harapan ada kontak timbal balik antara orangtua santri dan pesantren, disamping bisa memberikan motivasi langsung pada sang anak. Karena dengan kehadiran kita di tengah mereka, merupakan  Oase kebahagiaan yang ditunggu anak-anak kita. Sedih rasanya ketika melihat teman Azkiya yang orangtuanya tak dapat hadir di acara tersebut. Sejumput rona kecewa tergurat dari wajah mereka.


           Hilir mudik orangtua wali santri begitu bejibun di area registrasi depan gedung GOR Yaspida yang cukup luas dan hawa asri karena banyaknya pepohonan di sekitar pondokan. Dan setelah register saya yang saat itu membawa adiknya Azkiya yakni, Muhammad Hibatillah Ahsan, langsung menuju kursi paling depan. Sudah menjadi kebiasaan kalau masih ada tempat terdepan, kenapa harus memilih duduk di belakang? Sebuah Action pembelajaran dan memberi contoh sama anak agar harus mengisi shaf paling depan dulu. Sehingga setiap sesi bisa lebih akurat kalau duduk di depan. Dan lebih dekat mengenali para Asatidz dan Asatidzah yang berwajah teduh itu.

            
           Acara dimulai dengan rangkaian tilawah, marawis, mars Yaspida dan sambutan kepanitiaan. Pemutaran slide seputar Ponpes Daarusyifa Yaspida sempat pula dipertontonkan. Hal ini menambah wawasan hadirin terutama saya yang masih merasa baru dengan pondok ini. Dari rangkaian acara yang tersaji, tibalah saatnya tausiyah dari sesepuh  pondok pesantren  Drs. K.H. E. Supriatna Mubarok, M.Sc,MM . (oalaaah.. banyak bingit pak kiyayi gelarnya..... sudah pasti beliau adalah pembelajar sejati). Ada yang menggelitik sebetulnya, jujur saja saya sebenarnya akan mengajukan sebuah pertanyaan kalau ada sesi tanya jawab seputar permasalahan yang diterima orangtua wali santri. Tapi ternyata segala pertanyaan yang hadir sepertinya habis terjawab oleh sang kiayi dengan gaya familiar dan banyolan  khas Sundanya sehingga sampai akhirpun tak ada lagi yang perlu dipertanyakan. Sepertinya para asatidz sudah memahami akar permasalahan yang terjadi di pondok, maklum Yaspida sudah mengabdi di kancah pendidikan ini  hampir dua dekade. Sehingga sesepuh pondok sudah tahu seluk beluk yang terjadi pada ribuan santrinya.


             
          Ada 4 pilar kedisiplinan yang diterapkan di pondok pesantren Yaspida ini:
1. Disiplin Tampilan
2. Disiplin Pembelajaran
3.Disiplin Peribadahan
4. Disiplin Pergaulan

          Dengan empat pilar tersebut, maka Yaspida sejatinya telah mampu membuat anak berkarakter, disipilin, berprestasi, bertaqwa  dan ujungnya membuat anak taat pada Allah dan Rasulnya.
Apalagi Yaspida memiliki 6 pilar kecerdasan, : kecerdasan mental,  kecerdasan moral,  kecerdasan emosional, kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, kecerdasan sosial

          
berphoto bareng dengan sesepuh pondok
(Drs.KH. E. Supriatna Mubarok, M.SC,MM.)
           Dengan pilar-pilar tersebut, maka pak kiyai sempat menceritakan bagaimana kehidupan para santri yang beliau beserta jajarannya membina mereka. Dari bangun hingga tidur dan sampai bangun lagi, beliau haturkan  ke hadapan para wali santri.  Bangun pagi menjelang shubuh santri diharuskan shalat tahajud, tilawah dan amalan sunnah lainnya. Ba’da shubuh mereka mengaji menjelang pagi hingga datang waktu sarapan yang dismbung persiapan untuk sekolah hingga siang hari. Begitulah aktivitas mereka setiap saat digembeleng dengan sarat kebaikan. Saya yang mendengarkan, sekelebat tergambar didepan mata bagaimana pengalaman saya waktu mondok dulu. Untaian cerita yang penuh makna serasa baru saja dialami, dan  tak terasa dari sudut mata ini menetes air mata yang penuh kenangan, kebahagiaan, perjuangan yang tak akan mudah dilupakan.

            Walau dengan gaya yang asyik dan mengundang tawa para wali santri yang hadir, tapi tetap saja ada sesi dimana sesepuh  membuat baper yang mendengar. Bagaimana tidak, dengan tulus beliau menceritakan harapan yang ada dalam benaknya, “piraku, perjuangan santri nu matak payah ti saprak hudang nepi ka hudang samodel kitu teu berhasil” (masa, perjuangan santri yang penuh lelah dari semenjak bangun hingga bangun lagi seperti itu tak akan berhasil). Suara parau yang berdesakan dengan suara haru kesedihan tak dapat disembunyikan, dan pak kiyaipun menangis. Sebuah tangisan penuh harap, penuh cita-cita dan gairah yang penuh Etos mendidik para santrinya.

             Menjelang dzuhur acarapun usai, beruntung karena duduk paling depan maka berkesempatan bersalaman dengan sesepuh pondok dan para asatidz. Usai acara, para orangtua santri tentunya mencari anaknya untuk sekedar melepas rindu. Tapi adajuga yang ngantri di kantor kobong (asrama) untuk meminta izin pulang buat anaknya. Wah...wah...wah.... padahal baru berlalu kalau sesepuh menganjurkan pada orangtua agar jangan sering membawa anak pulang. Karena dengan sering pulang si anak setidaknya dia bisa merekam, melihat, menikmati apa-apa yang selama ini tidak didapat di pesantren. Sehingga tak heran kalau ada santri yang akhirnya ga kerasan tinggal di pondok. Beruntung Azkiya dapat kubujuk, sehingga keinginan dia untuk ikut pulang bisa diatasi. (maafkan bapak ya nak.... kalau belum waktunya,buat apa harus pulang......)

          KHATIMAH


           Harapan penulis, semoga pesantren yang bertebaran di negeri ini, lebih diperhatikan oleh pemerintah. Karena pesantren merupakan tempat cikal bakal atau generasi penerus bangsa ini agar lebih bermartabat. SEE YOU.... YASPIDA.....

Senin, 20 Februari 2017

Berapa Umur Saya ?


Melihat masa depan....


Ada hari yang dirasa  sangat spesial bagi kebanyakan orang. Apalagi kalau  Bukan hari ulang tahun. Jari jemari menghitung mundur, seraya membayangkan masa lalu yang terlewatkan. Saat-saat kecil, remaja ataupun yang baru saja berlalu yakni pernikahan. Atau bisa jadi mentafakuri bagaimana ibu dengan susah payah dan penuh perjuangan melahirkan kita.



Keceriaan semasa kanak-kanak dengan dirayakan hari jadi sama orangtuanya, merupakan kebahagiaan yang tak terlupakan. Itu barangkali yang dirasakan oleh orang yang mengalaminya. Sementara penulis sendiri, seumur-umur tak pernah diperingati apalagi dirayakan oleh orangtua tercinta. Apakah saya marah ? "TIDAK", karena saya tak peduli dengan berapa umur saat itu atau dengan hadiah-hadiah yang akan diterima seorang anak yang merayakan ulang tahun.


Barulah menginjak remaja, saya mendapatkan kejutan dari kawan sebaya. Dan itu sepertinya sebuah sensasi milad yang saya rasakan. "Byurrrrrrr....." seember air membasahi raga ini, basah kuyup pakaian yang melekat, dibarengi suara ngakak segerombolan teman-teman. Kaget bukan kepalang, hati terasa dongkol karena candaan teman sudah kelewatan. Barulah merasa ngeuh, kalau katanya hari tersebut adalah hari ulang tahun.


Banyak cara yang dilakukan masyarakat dalam melewati hari kelahiran ini. Ada yang kumpul sama teman sejawat dengan berbakso ria, tapi ada pula orangtua yang hingga berjuta-juta membudgeting hanya kepuasan semata merayakan ultah puterinya. Padahal siapa tahu anaknya tak menginginkannya. Gaya hedonis seperti inilah yang sebenarnya sangat terlarang.


Secara pribadi saya tak akan membahas ini budaya siapa dan sudut pandang agama seperti apa. Hanya mengingatkan pembaca bahwa umur hakikatnya berkurang. Hitungan nominal  semakin bertambah, padahal sejatinya manusia makin mendekati episode azal yang tentunya akan menjemput semua insan.


Kefanaan bak patamorgana ini semua akan berakhir di pintu barzah. Di pintu itulah kala segala amal menjadi sia - sia. Karena alam kubur bagaikan taman yang memiliki dua sisi yang berbeda. Dia berubah menjadi taman surga bagi orang yang beramal baik. Dan akan menjadi taman neraka bagi sang pendosa.


Hemmmm.... di hari ulang tahun ini, akhirnya panah pertanyaan melesat dari busur kegalauan, "Berapa umur saya?"  Mau diapakan sisa usia yang penuh nikmat ini ? Kukuliti ruh dalam hening penuh harap, agar dosa yang lampau termaafkan. Dan dalam hati yang penuh rasa syukur, ada asa agar berubah menjadi lebih baik.

(Bandung,20 pebruari 2017)

Jumat, 10 Februari 2017

Yuk Konsisten Menulis





"Jika kamu bukan anak raja, dan kamu bukan anak ulama besar, maka jadilah Penulis"

Ungkapan Al-Ghazali ini sangat terkenal di kalangan penulis. Dan menjadi motivator agar lebih semangat dalam menulis. Karena menulis bisa membuat seseorang dikenal, dikenang, dan memberi manfaat bagi banyak orang, yang tentunya menjadi amal jariah.


Apakah seorang ulama besar seperti Al Ghazali yang sehari-harinya berdakwah, menyibukan diri dengan masyarakat, memiliki waktu banyak untuk menulis?


Tentu kalaulah Al Ghazali ini tidak menyempatkan diri untuk menulis, maka tidak akan ada karya besar yang ditulisnya. Dan ternyata kuncinya adalah konsisten dalam menulis. Semua penulis dunia yang telah mengikhlaskan diri sebagai penulis,  dia akan menyediakan waktu untuk mengispirasi lewat tulisannya.



"Tapi kan saya sibuk, tak ada celah waktu untuk menuangkan ide ke dalam bentuk naskah?"  Hal ini banyak ditemui, terutama bagi penulis pemula, atau yang menjadikan menulis hanya sebagai pengisi waktu senggang saja. Padahal potensi yang dimiliki dalam berkarya sangat besar. Sayang sekali tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin.


Dalam kesibukan sehari-hari tentunya kita memiliki celah waktu yang bisa kita gunakan untuk menulis. Mungkin di pagi hari kita sempatkan diri selama 30 menit atau sekedar menulis beberapa paragraf.  Kenapa saya memberi contoh di pagi hari ? Karena pagi hari, pikiran kita masih fresh belum terkontaminasi dan belum terinterupsi apapun. Sebenarnya hal ini dapat disesuaikan dengan kebiasaan masing-masing. Di beberapa penulis, ada yang terbiasa menjelang tidur saat tepat berkarya. Ada juga yang menyempatkan waktu setelah shalat malam. Yang penting konsisten dalam menulis.


Ide yang bertebaran sayang sekali bila dilewatkan begitu saja. Maka sudah menjadi kebiasaan para penulis untuk memiliki buku khusus yang kemana-mana selalu dibawa. Sebagai sarana orat-oret agar ide tidak hilang begitu saja.


Beruntung kita berada di zaman sekarang yang semua serba sangat mudah. Untuk mencari tambahan bahan tinggal browsing, untuk menyimpan tulisan tinggal dicatat di Note. Bahkan untuk membuat outline dengan mind map, sekarang tinggal download aplikasinya. Saya sendiri kalau tak sempat nulis tinggal gunakan saja fitur "Voice recognition" sehingga dengan berbicara saja, maka gadget mengubahnya jadi tulisan. Simple kan ?

Nah, tunggu apa lagi, buatlah plan kapan anda menulis dan tepati apa yang kita rencanakan. Tak peduli sebentar atau lamanya waktu untuk menulis, tapi konsistenkan bahwa menulis merupakan pekerjaan kita.



Selasa, 06 Desember 2016

SELAMAT JALAN BAPAK MERTUA

Bersama bapak Kewo sang mertua



BAPAK MERTUA, sejak lima hari lalu sudah meninggalkan kami untuk selamanya. Ingin sekali memeberikan kabar duka ini sesegera mungkin. Tapi sayang sekali,  sesaat bapak menghembuskan nafas terakhirnya, handphone saya pun ikut-ikutan tak bernyawa. “MATOT alias Mati Total”...... otomatis saya ga bisa wa,telegram, bbm atau main medsos lainnya. Kebetulan Lepi juga ga dibawa, karena pikir saya, aktivitas menulis bisa menggunakan note yang ada di Handphone. Tapi ya sudah, sambil menghibur diri, barangkali ini cara Allah agar saya lebih konsentrasi dengan suasana kebersamaan dalam keluarga sehingga tak terinterupsi oleh yang namanya gadget.

Hari selasa (29 november 2016), di group whatsapp hilir mudik berbagi topik pembicaraan. Dan yang paling santer kala itu, rencana aksi damai 212. Sementara saya disibukkan dengan pesan-pesan  dan telpon dari sang istri kalau ternyata kondisi bapak makin memburuk, bahkan semakin memprihatinkan.  Mendengar berita seprti itu, berarti  harus mempercepat pulang kampung nih. Sambil nunggu si sulung yang masih di sekolah, saya merasa super sibuk sendiri.  Perabotan bekas makan yang sudah dua hari menumpuk dan cucian yang sudah direndam dari pagi, belum sempat terjamah. Alhamdulillah, menjelang maghrib kami siap pulkam dengan keadaan yang lumayan rapih untuk kondisi rumah yang akan ditinggalkan beberapa hari.

Dini hari, sampai juga ke kampung Cidahu Kuningan. Dua kakak ipar sudah menunggu di depan rumah. Sementara di dalam rumah, keluarga yang lain pada nungguin bapak yang Kondisinya yang sangat melemah, bahkan kabarnya sudah dua hari ini tak  masuk apa-apa ke mulutnya. Beribu kecamuk dalam dada bercampur dengan rasa sedih di hati, karena detik-detik perpisahan sepertinya tak bisa dibendung lagi. Ingin rasanya menumpahkan segala sesal dalam jiwa, karena belum berbakti dan membalas segala kebaikannya. Semua tertahan, dan hanya terucap di mulut, “maafkan saya pak....” Bapak tak menyahut, tapi saya berharap beliau masih bisa mendengar walau tak berbalas dengan sahutan.

Waktu dhuha kira-kira jam 10’an tangis ibu mertua dibarengi isteri dan bi Ooh adiknya bapak memecah suasana kamar waktu itu. Lapadz Allah yang kami lantunkan, seolah memaksa agar telinga dan hati bapak mengikutinya. Hanya satu yang kami pinta “khusnul khotimah”. Emih (ibu mertua) yang sedari tadi tak melepaskan mulutnya di telinga Bapak, seolah tak menerima akan perpisahan ini.Perlahan tapi pasti bapakpun menghembuskan nafasnya yang terakhir kali. Inna lillaahi wainna ilaihi rojiun.

Selamat jalan Bapak, kami akan mengenang jasamu, kami akan selalu memanjatkan doa untukmu. Agar engkau di terima iman, amal dan islamnya. Diampuni segala dosanya, dan Surga tempat kembalinya.

Tidak menunggu lama, berbondong-bondong tetangga datang. Kabar tersiar cepat ke seantero desa. Saya sendiri merasa terpana, begitu kentalnya rasa saling asih di desa ini. sebuah pemandangan langka kalau dibandingkan dengan masyarakat perkotaan. Sampai saya bilang ke si sulung,”ini pertanda kalau abahmu orang baik”. “emangnya kenapa gitu, apa alasannya?” timpal Azkiya ankku. “Buktinya banyak sekali yang melayat, bahkan di hari setelahnyapun, masih ada saja yang datang walau sekedar ngucapin belasungkawa”.

Karena gotong royong yang masih pekat pula, prosesi pemakaman sangat cepat, tidak sampai asyar semua kewajiban terhadap mayat sudah selesai ditunaikan. Alhamdulillah.





Rabu, 09 November 2016

REVOLUSI MENTAL ALA UMAR BIN ABDULAZIZ


Pemuda itu menanggalkan kudanya, lalu mengingatkannya di sebuah pohon. Peluh yang membasahi tubuhnya, sesekali diusap oleh sorban yang melilit di lehernya. Sambil menepuk punggung kudanya, pemuda itu bergumam seolah ngajak bicara pada sang kuda, "Mudah-mudahan tak lama lagi kita sampai di kampung hulu sana" Sambil menunjuk ke atas, ke tempat yang jadi tujuan pemuda tersebut.

Selagi asyik beristirahat, sang pemuda melihat dari kejauhan, ada seekor kuda yang diatasnya seorang pemuda sebaya dengan dirinya. Terlihat di sisi kiri-kanannya, kantung kulit yang berisi penuh dengan hasil bumi.

"Assalamualaikum saudaraku"  Pemuda yang dari arah hilir menyapa pemuda yang datang dari arah hulu. "Waalaykumussalaam warohmatullah..." Jawab pemuda yang satu lagi, sambil merangkul penuh kehangatan, seolah sudah lama saling mengenal.

"Kalau boleh tahu, mau kemana anda ke kota bawah sana ?"
"Saya mau ke kota hilir, mau memberikan zakat" Timbal pemuda yang datang dari arah hulu tersebut.

"Anda mau ke bawah untuk berzakat ? Mengapa harus hilir ? Orang saya aja mau ke atas karena dibawah sana sudah tak saya temui para mustahik" Sanggah pemuda yang dari hilir.
"Jadi Anda ke kota hulu, untuk berzakat juga ?" Pemuda satunya lagi menganggukkan kepalanya.

Itulah sekelumit kisah yang terjadi pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz, dimana kala itu, sangat susah mencari orang yang menerima zakat.

Tentu kita berpikir kalau zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz, masyarakatnya sudah pada berlimpah harta sehingga susah menemukan mustahik.
Saya mendapat jawaban tiga hari lalu ketika ikut Talkshow di acara kopdar Genpro, sebuah komunitas pengusaha Muslim.  Presiden Genpro, Iwan Kurniawan Lc menjelaskan bahwa yang pertama dibangun oleh Khalifah adalah mentalnya dulu dengan menggembleng ketaqwaannya. Masyarakatnya diharuskan untuk terus menuntut ilmu agar tumbuh menjadi mukmin sejati. Sang Khalifah terkenal dengan kearifannya, bijaksana, adil dan rendah hati. Hal ini pula yang terus dikobarkan kepada rakyatnya.
 Mind set yang dibangun tentang zakatpun, tertanam dalam diri umat sebagai sesuatu yang tak layak untuk dimakan. Karena Zakat merupakan sesuatu yang harus dikeluarkan, sehingga sifatnya kotor. Hal ini pula yang akhirnya banyak masyarakat yang enggan menerima zakat. Dan salah satunya tergambar pada kisah diatas tadi.

Umar bin Abdul Aziz merupakan khalifah yang memerintah paling singkat yakni dari 99 H sampai 101 H. Namun kiprahnya dalam menghidupkan tatanan islami dicatat dengan tinta emas dalam sejarah. Bahkan para akhli mengatakan bahwa masa itulah masa kejayaan islam sesungguhnya.

Ketaqwaan ini pula yang diwariskan Umar kepada anak-anaknya. Karena soal materi, Umar hanya meninggalkan 19 Dinar. Itupun 4 Dinar dipakai buat membeli kain kafan dan sebagian lagi habis dipakai untuk biaya pemulasaraan atas dirinya. Dan yang tersisa hanya 9 dinar yang harus diberikan kepada 11 anak sebagai ahli warisnya.

Kejadian ini berbanding terbalik dengan meninggalnya khalifah berikutnya, yakni Hisyam bin Abdul Malik. Sama-sama meninggalkan 11 anak, tapi masing-masing anaknya mendapatkan masing-masing satu juta dinar.  Waktupun terus berlalu, hingga pada suatu hari seorang ulama bernama Muqotil bin Sulaiman mendapati salah seorang putera Umar bin Abdul Aziz menyedekahkan 1000 ekor kuda perang pilihan. Sementara di hari yang sama, Muqotil mendapatinya salah seorang putera khalifah Hisyam bin Abdul Malik menjadi pengemis di salah satu pasar.

Hal ini membuktikan bahwa warisan berupa harta atau kekayaan tak memiliki arti bila dibandingkan dengan warisan berupa mental dan ketaqwaan tangguh yang diwariskan seseorang.

Diakhir penyampaiannya Iwan Kurniawan mengajak para pengusaha muslim, agar seanantiasa menjaga ketaqwaannya, karena bisnis kita hari ini, merupakan ladang amal untuk kehidupan kelak di akhirat.

Jumat, 28 Oktober 2016

SUMPAH PEMUDA BUKAN SUMPAH ALAY















               

Setiap bulan yang ada di penanggalan Nasional ataupun internasional, selalu memiliki ruh untuk bulan yang bersangkutan. Sebagai contoh di bulan april, bangsa Indonesia selalu mengingat akan sosok Pahlawan wanita  R.A. Kartini. Untuk bulan Agustus, sudah tak diragukan lagi kalau hari kemerdekaan akan dirayakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Dan untuk bulan oktober ini, maka kita akan diingatkan akan peristiwa sejarah yang syarat patriotisme, yakni “Sumpah Pemuda”.

Mendengar kata Sumpah, tentu asosiasi kita akan membayangkan bagaimana sebuah peristiwa itu benar-benar sakral, penting dan bukan senda gurau. Terlebih peristiwa ini diikrarkan oleh banyak pemuda-pemudi yang merupakan wakil dari daerah – daerah yang ada di Nusantara.  Mereka berikrar bersama demi mewujudkan INDONESIA MERDEKA yang selalu menjadi idaman. Sumpah pemuda ini sebagai bukti kristalisasi harapan yang adi luhung para pemuda Indonesia untuk memiliki “Tanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu yakni  Indonesia”.

Peristiwa ini merupakan sebuah tonggak sejarah dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia selanjutnya. Gairah yang terpelihara menjadi landasan utama mereka agar selalu berjuang demi kemerdekaan Indonesia yang sudah berabad-abad lamanya di kuasai penjajah. Sebagai generasi selanjutnya sudah barang tentu kita harus senantiasa menjadikan Sumpah Pemuda ini sebagai sebuah momen yang selalu menjadi pemicu untuk terus berprestasi dan melanjutkan cita-cita para pemuda masa lalu. Dan tidak menjadikan peristiwa sejarah 28 oktober ini hanya sebagai  perayaan-perayaan biasa, yang maknanya Cuma sekedar peringatan hari lahir.

Kata  pemuda dari waktu ke waktu selalu mengalami perubahan. Atau paling tidak, pengertian kata tersebut bergeser dan mengalami perubahan makna. Di era orde baru misalnya, kata pemuda  tiba-tiba berkonotasi dengan kata “Remaja”.   Maka bermunculan organisasi yang menggunakan kata remaja. Sepertinya sama antara arti pemuda dan remaja,tapi menurut pakar psikolog Kenneth Kenniston, bahwa ada perbedaan antara arti pemuda dan remaja.  Kalau remaja adalah usaha untuk mendefinisikan dirinya, sedangkan pemuda adalah adanya perjuangan antara membangun pribadi dan untuk lingkungan sosial. Disini kita bisa meihat ternyata, pengistilahan Pemuda maknanya lebih aktif yang memiliki daya juang. Sementara itu, psikolog yang lain ada juga yang mengklasifikasikan dengan urutan usia. Kalau remaja biasanya dibatasi dari masa aqil baligh sampai usia 20-an, sedangkan Pemuda bisa mencapai usia 35 tahun. Makanya seseorang yang sudah menikahpun, biasanya masih tergolong Pemuda sepanjang dia selalu memiliki gairah dalam kepemudaan.

Yang lebih menggelitik lagi, mulai era 90-an muncul istilah ABG alias Anak Baru Gede. Dan yang ini pengertiannya lebih ke fase pencarian diri yang lepas dari masa anak-anak menuju dewasa. Sebenarnya dalam pengertian sama saja dengan istilah Remaja.  Hanya saja, kesan terhadap kata ini selalu dikaitkan dengan urusan kesenangan, berkaitan dengan ketertarikan akan lawan jenis dan setumpuk kesan kebebasan seorang remaja.  Dan makin kesini, di era sekarang, muncul kembali istilah ALAY. Kata yang terakhir ini, kesan yang terkandung didalamnya sangat memprihatinkan sebagai eksistensi seorang Pemuda yang harusnya memiliki semangat dan gairah. Awalnya istilah alay ini merupakan singkatan dari anak layangan atau anak lebay bahkan ada yang mendefinisikan sebagai anak yang kelayapan. Yang pasti sebutan alay ini, memiliki arti sebagai sosok  kaum muda yang memiliki sebuah prilaku yang norak, kampungan, maunya gaya-gayaan, seneng selfi yang over ancting dan sama sekali sangat kontradikif bila disandingkan dengan istilah Pemuda, apalagi sebagai pemuda yang berikrar 88 tahun yang lalu.

Munculnya istilah kekinian tersebut, tak lepas dari unsur menjamurnya alat komunikasi dan gadget yang mau tidak mau pemuda masa kini harus bergaul dengan barang yang satu ini.  Orang tua yang bijak, sudah semestinya mengikuti atau setidaknya mengetahui akan istilah tersebut untuk memudahkan komunikasi antara orang tua dan anak.

Tugas pemuda masa kini dan masa lalu sebenarnya sama saja, yaitu menjadi pionir dan pilar bangsa   agar  eksistensi bangsa tetap kokoh berdiri di mata dunia.  Bangsa ini terus bergerak dan berubah dalam semua sendi kehidupan termasuk dalam persatuan global. Kemajuan dan persaingan semakin tinggi menjadikan suatu tantangan pemuda untuk terus menggali potensi dan skill dalam mengimbangi   kompetisi  dalam percaturan dunia. Hal ini menjadi vital, Karena semangat para pejuang muda  yang lahir akan terus  dibutuhkan sepanjang sejarah agar lahir generasi muda yang tangguh dan berani.  Maka tak heran, kalau Presiden pertama Republik ini, Sukarno berujar, “Beri aku 10 pemuda, maka akan kuguncang Dunia”.


Sebagai harapan bangsa, pemuda Indonesia memiliki  kewajban  untuk memupuk dan terus menanamkan aplikasi dari sumpah pemuda yang didengungkan para pemuda masa lalu. Karena Sumpah Pemuda Bukan Sumpah Alay. (tiesna)

Jumat, 09 September 2016

MEREKA YANG RINDU DAGING QURBAN

Team Act di Somalia
                                   

Idul Adha sudah nampak di depan mata.  Tak terasa kepergiannya setahun lalu, kini hadir kembali. Pangkalan hewan qurban, memenuhi titik-titik yang biasa digunakan lahan berdagang di kota Bandung. Mereka yang datang mendayung rezeqi di Kota Kembang ini, berasal dari sentra pemberdayaan hewan di luar Bandung. Hal ini sangat menarik bagi warga sehingga selain didatangi calon muqorib, banyak pula para orang tua yang sengaja datang membawa anak-anak mereka untuk memperkenalkan hewan qurban ini.

Hari raya qurban ternyata telah membuat berkah tersendiri bagi pedagang dan warga yang terbiasa menyambi rezeqi dari transaksi hewan qurban ini. Yang  biasa jadi calo atau  makelar sudah wara-wiri di sekitar lokasi penjualan, bahkan di era digital seperti sekarang penawaran online pun sangat gampang kita temui. Bukan saja yang memiliki skil marketing, orang biasapun yang tak faham akan jual beli, banyak yang merasa tertolong karena bisa dijadikan lahan nafkah musiman setiap tahun. Ada yang menjadi tukang nyabit rumput, tukang jaga kambing bahkan menjadi lahan penghasilan bagi tukang nasi keliling.

Luar biasa, sebuah aktivitas yang disyariatkan ini, telah betul-betul membawa berkah tersendiri bagi semua kalangan. Seingat penulis, telah 9 kali melaksanakan idul adha di ibu kota Jawa Barat ini, dan selama itu belum pernah mendengar masyarakat yang penulis temui, tidak mendapat bagian daging qurban. Bahkan yang mereka dapatkan cenderung berlebih, sehingga bukan saja sekedar mendapat bagian untuk hari itu saja, namun sampai berhari-hari mereka masih memiliki stok daging qurban. Hal ini membuktikan, bahwa minat masyarakat berqurban cukup tinggi.

Padahal di daerah lain ternyata masih banyak yang merayakan hari raya Idul Adha ini, cukup dengan rangkaian sholat sunat id, bersalam-salaman dan kembali berkumpul bersama keluarganya. Mereka selalu berharap ada sebungkus daging qurban bisa menghampiri yang kemudian dapat menyantapnya hari itu. Bahkan di televisi sudah sering kita melihat, orang rela datang jauh-jauh ke kota hanya sekedar ngantri mendapat jatah daging qurban,karena di kampungnya tak ada yang berqurban. Walaupun alasannya memang variatif, ada yang memang kampung mereka adalah kampung miskin dan tertinggal, namun ada juga para Aghnia di wilayah mereka belum menyadari keutamaan berbagi dalam berqurban.

            Ada sisi lain yang penulis temui, ternyata yang mengharap ada ketukan pintu sang pembagi daging qurban, bukan semata kaum dhuafa. Yang kategori finansialnya cukup pun, mereka selalu menanti kedatangan para pembagi daging tersebut. Padahal kalau berkaca pada QS. Alhajj : 28, “maka makanlah sebagian daripadanya dan sebagian lagi berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir”. Maka jelaslah sebenarnya yang paling berhak menerima bagian daging qurban ini adalah mereka yang sangat membutuhkan. Barangkali atas  dasar inilah, sekarang banyak bermunculan lembaga-lembaga kemanusiaan yang lebih fokus dalam pendistribusian daging qurban ini, sehingga tak tertumpu pada satu titik wilayah yang sebenarnya berlebih. Kita bisa lihat bagaimana kiprah PKPU, LAZISMU, RUMAH ZAKAT, ACT dan lembaga lainnya yang terus konsen dalam distribusi daging hewan qurban sehingga lebih bermanfaat dan berdaya guna lebih. Ada nilai plus ketika daging hewan qurban ini sampai ke daerah yang rawan aqidah, karena sekarang banyak sekali pemurtadan yag dilakukan para misionaris yang merongrong kaum muslimin di Indonesia. Ada juga lembaga kemanusiaan yang cukup kita acungin jempol  karena sampai ke Plaestina dan Somalia yang merupakan negeri mukminin yang rawan konflik. Begitupun ada sekumpulan aktivis dakwah di Surabaya yang membagikan daging qurban ke masyarakat yang tinggal di Eks Prostitusi Dolly . Senyum merekah yang tersungging warga Dolly sangat menyentuh. Ternyata mereka yang selama ini termarginalkan, tapi dengan kehadiran aktivis ini, mereka bersyukur karena katanya selama ini belum pernah ada yang membagikan daging Qurban ke wilayahnya.

            Selain kasus diatas, ada pula masyarakat yang jarang bahkan hampir tidak pernah mendapatkan jatah daging kurban, lantaran tempat yang sulit dijangkau, minimnya persediaan untuk membeli hewan ternak dan tidak adanya hewan ternak di daerah mereka. Padahal momen Idul Adha sangat mereka dambakan karena Idul Adha merupakan  kesempatan terbaik dalam menikmati lezatnya santapan daging, yang hanya  dapat mereka rasakan setahun sekali atau bahkan lebih. Dapat menyantap lezatnya daging bagi mereka adalah sebuah mimpi lantaran harga daging yang terlampau tinggi ditambah dengan jauhnya tempat tinggal dari pusat kota.

Untuk mewujudkan mimpi mereka, sepertinya sudah menjadi fardhu ain bagi para muqorib untuk lebih menitik beratkan pembagian ke daerah-daerah yang sangat urgent dan membutuhkan. Agar kebahagiaan itu terpancar dari raut wajah perindu daging qurban. Sehingga tak salah kalau dari sekarang sudah dimasukkan kedalam agenda perencanaan distribusi daging.(Tiesna)